Artikel Terbaru

Tak Kunjung Dapat Momongan Tak Surutkan Pelayanan

Bersyukur: Pasutri Ester-Melky.
[NN/Dok.Pribadi]
Tak Kunjung Dapat Momongan Tak Surutkan Pelayanan
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pasangan suami istri Melky dan Ester sangat merindukan momongan. Walau kemungkinan itu tipis, mereka tak lelah berharap sambil terus aktif dalam kegiatan Gereja.

Bagai disambar petir di siang bolong, Melkior Wora dan Katarina Ester Eni merasa dadanya sesak. Dokter kandungan bakal mengangkat rahim Ester. Kandungannya yang berusia tujuh minggu mengalami keguguran.

Ester mengalami pendarahan hebat. Menurut dokter, rahim perempuan asal Makassar, Sulawesi Selatan itu amat lemah. Kista bersemayam di sana.

Melky dan Ester hanya bisa saling menatap. Mulut mereka terkatup rapat. Tak sepatah katapun meluncur. Ester merasa sangat terpukul mendengar keputusan dokter. Tubuhnya mendadak dingin. Butir-butir bening mengalir dari kedua bola matanya. “Hati saya hancur, tetapi saya tidak mau menangis di depan istri agar dia kuat menerima cobaan ini,” tutur Melky dengan wajah muram.

Ester berjuang mengumpulkan seluruh kekuatan. Ia berharap, diagnosa dokter itu keliru. Ia masih berharap janin di dalam rahimnya akan sehat. “Dari mana lagi saya bisa memimpikan anak-anak manis jika rahim diangkat,” tutur Ester nelangsa.

Saling Menyalahkan
Melky terdiam, vonis dokter itu memberi pukulan berat bagi mereka. Terutama bagi sang istri tercinta. Vonis dokter itu memuat risiko yang akan membuat biduk rumah tangga mereka sepi. Tak akan ada celoteh dan rengekan si kecil, padahal Melky dan Ester sudah sangat merindukan si buah hati.

Pada 2006, Pukul 21.00 WIB, Ester masuk ruang operasi. Melky duduk sendirian menanti sang istri. Di ruang tunggu yang didominasi warna putih itu, ia tafakur dan berdoa. Dalam doanya, pria asal Ende, Nusa Tenggara Timur itu mohon dengan perantaraan Bunda Maria agar operasi sang istri berjalan lancar.

Selang dua jam, Ester ke luar dari ruang bedah. Operasi pengangkatan ovarium dan kista berjalan lancar. Bahkan dokter yang menangani salut dengan keberanian pasiennya. Ester tenang dan pasrah menjalani operasi, serta konsekuensi yang ia tanggung sepanjang hidup. Ia justru menguatkan sang dokter untuk melakukan tugasnya.

Ester yakin Tuhan akan menjaganya. Pasca operasi, Ester istirahat total. Dokter mengingatkan agar Ester jangan melakukan pekerjaan berat selama waktu yang telah ditentukan.

Operasi pengangkatan rahim berhasil dengan selamat. Persoalan lain mendera. Tetangga mulai mempergunjingan perihal Ester yang tak lagi punya rahim. Keluarga Melky pun latah ikut menyudutkan Ester. Ester dicap sebagai perempuan yang telah kehilangan fungsi karena tak bisa memberi anak untuk keluarganya.

Banyak orang beranggapan, apa yang dialami Ester saat itu merupakan buah atas dosanya di masa lalu. Mereka menyimpulkan, musibah yang mendera istri Melky bukan melulu faktor medis, tapi azab perbuatannya. “Jika Tuhan belum memberi keturunan, kami ikhlas. Tetapi jangan uji iman kami lagi dengan berbagai tekanan. Apakah belum cukup cobaan yang harus kami tanggung?” ungkap Ester.

Melky sadar beban batin yang merundung istrinya. Cemooh dari orang-orang sekitar seolah menjadi ujian atas jalinan cinta suami-istri ini. Timbul rasa saling menyalahkan. Biduk keluarga baru ini pun sempat limbung diterpa gelombang tudingan. Beberapa kali Ester berniat lari dari rumah agar luput dari pantauan keluarganya dan keluarga sang suami.

Angin Segar
Suatu hari Ester berkomunikasi dengan Romo Yoseph Kanisius Wora SVD, Vikaris Jenderal Keuskupan Denpasar, kakak iparnya. Romo Yos meminta Ester untuk belajar dari pengalaman Sara, istri Abraham. Tuhan, mengutip pesan Romo Yos, memberikan keturunan pada saat semua orang menganggap Sara mandul. Memang hal itu mustahil, tetapi terjadi. “Mukjizat Tuhan tak bisa ditangkap oleh manusia. Kita hanya bisa berusaha dan Tuhan yang menyempurnakannya,” tuturnya menandaskan.

Pesan Romo Yos menjadi angin segar bagi Ester dan Melky. Mereka pelan-pelan menata kembali puzzle rumah tangga yang sempat di ambang kehancuran. Tak lelah mereka kembali memupuk kasih sayang, menghilangkan prasangka buruk dan sikap menghakimi, serta membunuh rasa saling menyalahkan satu sama lain. “Kami sadar Tuhan sedang menguji saya dan Ester. Kami mencoba lebih mencintai Dia dengan melayani mereka yang senasib,” ujar Melky.

Mereka mulai membangun rasa percaya diri yang sempat pudar. Mereka tak lagi menghirauan pandangan negatif orang. “Kami bisa saling mengenal lebih dalam tentang karakter pasangan,” ujar perempuan kelahiran 14 April 1975 ini sambil tersenyum.

Ester dan Melky bertemu di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada April 2002. Kala itu, Ester bekerja di sebuah pabrik garmen di Kawasan Industri Citeureup. Sementara Melky bekerja pada sebuah proyek pembangunan di tempat Ester bekerja. Sering bertemu membuat benih cinta di antara mereka bersemi.

Setelah tiga tahun berpacaran, Ester dan Melky mengikat hubungan mereka di depan altar. Perbedaan keyakinan menjadi riak-riak kecil jalinan kasih sejoli ini. Melky Katolik, sedang Ester berasal dari keluarga Protestan. Sejak remaja, orangtua Ester telah mendoktrin agar putrinya menikah dengan pria seiman.

Seandainya calon pasangan hidupnya beda keyakinan dengan mereka, sang calon harus mau menjadi Protestan terlebih dahulu sebelum meminang anak mereka. Ester menganggap wajar pesan orangtuanya. Sebab, orangtuanya termasuk pendeta dan penatua jemaat di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kabupaten Dadi, Makassar. “Akan dikemanakan wajah mereka,” ungkap Ester.

Namun Ester bersikeras menikah dengan Melky. Pada 8 Agustus 2005, mereka melangsungkan pernikahan di Gereja Katedral St Maria Diangkat ke Surga dan St Yosef Ruteng, Nusa Tenggara Timur. “Saya masuk Katolik, kemudian menikah karena di Gereja Katolik ada devosi khusus kepada Bunda Maria. Saya percaya dengan berdoa kepada Bunda Maria, intensinya bakal terkabul,” tutur Ester mantap.

Aktif Terlibat
Merasakan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka, membuat pasangan ini berusaha membalas-Nya dengan aktif di berbagai kegiatan Gereja. Umat Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Keuskupan Bogor ini menjadi Ketua Lingkungan St Petrus Kanisius selama dua periode sejak 2011. Saat didapuk sebagai nahkoda lingkungan, Melky bertekad untuk membereskan masalah perkawinan umatnya. Selain itu, ia ingin mengurus Sakramen Baptis bagi anak-anak yang orangtuanya belum menikah secara Katolik.

Ester dan Melky juga ambil bagian dalam sejumlah kegiatan komunitas, seperti Marriage Enncounter (ME), Pria Sejati Katolik, dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Mereka gigih menjadi penghubung keluarga-keluarga bermasalah dengan konselor, psikolog dan pastor. “Saya pun bisa belajar dari pengalaman mereka,” katanya.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*