Artikel Terbaru

Pengusaha yang Tak Sungkan Menjadi Pelayan Altar

Melayani: Julius memberikan kenang-kenangan kepada Jusuf Kalla sebagai pembicara dalam Seminar FMKI Sulawesi Selatan pada 2013.
[NN/Dok.Pribadi]
Pengusaha yang Tak Sungkan Menjadi Pelayan Altar
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menjadi pengusaha adalah panggilan untuk melayani sesama, Tuhan, dan alam semesta. Pengusaha tak melulu hanya di “pasar”. Ia juga harus menjadi pelayan di “altar”.

Julius menemukan cinta olah raga setelah beralih ke bisnis alat-alat olahraga dengan membuka Toko Peltha Sports Topaz di Makassar dan mengakhiri usaha pengangkutan bahan bangunan pada 1986.

Kecintaannya terhadap olahraga tenis lapangan mendorong Julius mendirikan Perkumpulan Tenis Tunas Harapan (Peltha) Sport Club pada 1994. Perkumpulan tenis ini menjadi sarana pembinaan para atlet tenis muda di Makassar. Mereka yang bergabung dalam perkumpulan ini mulai dari usia 12 tahun. Tak hanya melakukan pelatihan. Perkumpulan ini juga menggelar turnamen tenis secara rutin. Awal Agustus lalu, turnamennya telah memasuki penyelenggaraan yang ke-21.

Kini, turnamen tak lagi berkelas lokal. “Ini kejuaraan tenis tingkat nasional yang saya rintis,” ujar Julius penuh semangat. Menurut pria kelahiran Makassar 59 tahun silam tersebut, turnamen ini merupakan langkah nyata pembinaan prestasi atlet muda tenis. “Peltha akan terus melakukan pembinaan,” kata Julius. Kini, ia tengah terlibat mempersiapkan atlet tenis dari Sulawesi Selatan untuk berlaga di Pra Pekan Olahraga Nasional 2016. Keterlibatan Julius dalam dunia tenis membawanya masuk ke organisasi induk olahraga tenis, Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) Kota Makassar. Pada periode 2005-2010, Julius menjadi nakhoda organisasi ini. Maklumlah, ia memang gemar berorganisasi. Pada periode yang hampir bersamaan, namanya juga masuk dalam jajaran Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Selatan.

Menurut Julius, melalui organisasi, ia bisa menjalin relasi dengan siapapun. Dalam dunia bisnis, jalinan relasi ini amatlah penting. “Karena semua yang saya peroleh, tidak berarti saya hebat. Kepercayaan dan kerjasama dengan temanlah yang membuat semua berhasil terlaksana.”

Perhatikan Karyawan
Menurut Julius. dalam menjalankan usaha, karyawan adalah bagian yang sangat penting. Ia selalu memperlakukan karyawan sebagai mitra kerja. Setiap hari, Julius memotivasi setiap karyawannya agar membuka usaha sendiri. Ia mendorong karyawan untuk berpikir agar tidak menjadi karyawan selama hidup. Jika ada karyawannya yang berinisiatif membuka usaha baru, Julius tak segan-segan memberikan suntikan modal.

Perhatian Julius terhadap karyawan tak berhenti sampai di sini. Ketika masih aktif mengelola toko peralatan olah raga, Julius membangun rumah bagi para karyawannya. Ia membeli lahan untuk mendirikan rumah-rumah untuk karyawan.

Bermula dari sini, tercetuslah peluang membuka usaha dalam dunia properti. Toko alat-alat olahraga, ia wariskan kepada sang anak. Ia beralih menjadi pengembang rumah bagi masyarakat. Sejak 2006 sampai kini, ia telah membangun perumahan rakyat di empat lokasi di Kota Makassar dan Kabupaten Goa, Sulawesi Selatan. “Di setiap lokasi, maksimal dibangun 200 unit rumah,” ujar suami Enny Lili Santosa ini memaparkan.

Bagi Julius, usaha properti tak sekadar membangun rumah lalu menjual. Dalam bisnis ini, ia juga melakukan pendidikan, terutama bagi keluarga-keluarga muda yang sedang bermimpi memiliki rumah sendiri. Banyak keluarga muda yang tidak punya uang muka pembayaran rumah. “Ini sama dengan pengalaman saya dulu. Saya memiliki rumah sendiri setelah sepuluh tahun berkeluarga,” ungkap Julius mengenang. Maka, ia selalu memberikan keringanan uang muka dengan cara kredit. “Agar semakin banyak keluarga muda yang bisa memiliki rumah layak huni sesuai dengan kemampuan.”

Setiap usaha selalu menemui tantangan dan kendala masing-masing. Namun, kendala birokrasi pemerintah menjadi hal yang selalu ia temui. “Semoga situasi birokrasi menjadi lebih baik pada masa mendatang, terutama di daerah,” kata Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Sulawesi Selatan periode 2005-2009 ini penuh harap.

Mengabdi Gereja
Bagi Julius, menjadi pengusaha adalah sebuah panggilan. Pengusaha tidak hanya mengumpulkan laba sebesar-besarnya. Ia mendapat tugas membuat dunia ini menjadi lebih baik bagi sesama dan alam semesta. “Saya hanya berusaha menyelesaikan tugas dalam hidup ini dengan baik,” katanya.

Tugas dan panggilan pengusaha, menurut Julius, tidak melulu berada di “pasar”. Pengusaha juga mesti terlibat dalam pelayanan di “altar”. Maka, meskipun berada dalam kesibukan mengelola usaha, Julius berupaya keras selalu terlibat dalam beragam kegiatan Gereja.

Terbukti, umat Paroki St Fransiskus Assisi Panakukang, Makassar ini pernah terlibat dalam Dewan Pastoral Paroki Panakukang, Yayasan St Paulus Keuskupan Agung Makassar, FMKI Sulawesi Selatan, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Sulawesi Selatan, Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Makassar, dan lainnya. “Saat ini, saya juga dipercaya membantu Dewan Keuangan Keuskupan Agung Makassar,” ujar ayah empat anak ini.

Kini, Julius aktif dalam komunitas Profesional dan Usahawan Katolik (Pukat). Pada Konvensi Nasional (Konvenas) II di Jakarta, ia kembali dipercaya menjadi Ketua Pukat Keuskupan Agung Makassar periode 2015-2018. “Saya bersyukur, Tuhan selalu mengingatkan saya agar tidak terjebak mencari uang semata,” ucap Julius.

Keterlibatan dalam beragam kegiatan Gereja, bagi Julius merupakan ungkapan syukur atas segala anugerah dan rahmat Tuhan yang telah ia terima bersama keluarga. “Pengusaha itu juga memiliki panggilan melayani Tuhan. Tidak harus menunggu ditegur atau terkena musibah baru melayani Tuhan,” katanya.

Julius Yunus Tedja
TTL : Makassar, 18 Juni 1956
Istri : Enny Lili Santosa
Anak :
• Andina Satwika Tedja
• Aditya Rizky Tedja
• Anindya Novian Tedja
• Alvianto V. Tedja’

Organisasi:
• Ketua Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) Kota Makassar (2005-2010)
• Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Selatan (2007-2011)
• Sekretaris Pengurus Daerah Pelti Sulawesi Selatan (2011-2016)
• Pengurus Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Sulawesi Selatan (2014-2017)

Penghargaan:
• Warga Teladan dari Pemerintah Kota Makassar (2003)
• Penghargaan dari PB Pelti (2007 dan 2012)

Angela Rijanti

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*