Artikel Terbaru

Bangsawan Pendiri Oblat Maria Imakulata

St Eugène De Mazenod.
[www.cruxnow]
Bangsawan Pendiri Oblat Maria Imakulata
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia hidup dalam keluarga bangsawan yang bergelimang harta, namun merasa suram karena jauh dari Tuhan. Ia terpanggil menjadi imam hingga mendirikan Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI).

Kaya dan mapan, itulah potret masa kecil Charles-Joseph- Eugène de Mazenod. Eugène hidup di kastil bergengsi milik orang tuanya di jalan protokol Cours Mirabeau, Perancis.

Ayahnya, Charles Antoine seorang aristokrat. Ia menduduki kursi penting sebagai Ketua Pengadilan Keuangan untuk Dewan Perwakilan Rakyat di wilayahnya. Sedangkan ibunya, Marie Rose Joannis masih berdarah borjuis.

Eugène melewati masa kecil bersama adik perempuannya dalam kemewahan. Meski bergelimang harta, hubungan kedua orangtuanya retak. Perkawinan mereka sering tak akur karena masing-masing mengejar kepentingannya sendiri. Hal ini berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan Eugène.

Tahun 1802, orangtuanya bercerai. Badai Revolusi Perancis (1789-1799) juga mengguncang keluarga bangsawan ini. Mereka kehilangan harta benda. Eugène yang masih berusia delapan tahun ikut keluarga mengungsi ke Italia. Mereka mengungsi di Nice, lalu ke Torino, Venezia, Napoli, dan akhirnya berlabuh di Palermo.

Di Venezia, Eugène bertemu Pater Bartolo Zinelli SJ yang membantunya membekali dasar-dasar spiritualitas. Namun di Palermo, pria kelahiran Aixen-Provence, Perancis, 1 Agustus 1782 ini jatuh lagi. Ia jatuh pada gaya hidup para bangsawan yang tunduk pada kuasa dan nikmat duniawi.

Tulus Melayani
Usai Revolusi Perancis, Eugène pulang ke tanah airnya. Lima tahun pertama, ia mengejar kesenangan duniawi, mengikuti gaya hidup kaum elit Kota Aix. Ternyata hidup yang mengejar kesenangan itu tak bisa memuaskan hatinya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya seperti kala di Venezia. Ia mengalami kekosongan rohani yang amat mendalam.

Tak diduga, Eugène mendapat pengalaman rohani nan indah saat sedang bertelut di bawah salib Yesus. Pada Hari Raya Jumat Agung tahun 1807, ia merasa tersentuh oleh kekuatan kasih Allah yang tergantung di kayu salib. Pengalaman rohani ini menjadi awal pertobatannya.

Meski keluarganya melarang, pada Oktober 1808, Eugène masuk Seminari St Sulpice, Paris. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 21 Desember 1811 di Gereja Katedral Amiens, Perancis. Ia menolak jabatan Vikaris Jenderal Keuskupan Amiens. Ia memilih menjadi imam paroki di tanah kelahirannya.

Prapaskah, 7 Maret 1813, Eugène berkhotbah dengan penuh semangat di Gereja St Maria Magdalena Paris. Ia menyapa para pelayan, tukang cuci, kuli bangunan, tukang masak, tukang sapu, pembersih kandang dan lainnya. Kesalehannya membuat umat sangat mencintainya. Ia seolah melupakan darah bangsawannya dan selalu berbicara dalam dialek lokal dengan umatnya.

“Selama Masa Puasa yang suci ini ada banyak khotbah untuk orang kaya. Tidak adakah khotbah untuk orang miskin? Injil harus diajarkan kepada semua orang dan harus dapat dipahami dengan mudah. Kaum miskin adalah anggota keluarga Kristiani yang tak ternilai harganya. Mereka tak boleh diterlantarkan. Hai kaum miskin, dengarkanlah aku, kalian adalah anak-anak Allah,” seru Eugène dalam khotbahnya menggunakan dialek lokal.

Umat merasakan sesuatu yang membesarkan dan menghangatkan hati mereka. Kaum miskin Kota Aix telah menemukan gembala yang berbicara dalam bahasa yang mereka pahami.

Oblat Maria
Eugène mengumpul kan para pemuda pengangguran dan mem bentuk “Asosiasi Pemuda Kristiani Provence”. Komunitas ini bukanlah persekutuan yang diikat oleh kaul kebiaraan. Mereka hidup bersama dan mengisi kegiatan dengan doa, ofisi, rekoleksi dan meditasi.

Misi pertama mereka adalah pelayanan di Kota Grans, Perancis, yang jumlah penduduk miskinnya sekitar 1.500 jiwa. Melihat karya komunitas ini, pada musim gugur 1818, Uskup Digne, Mgr François-Melchior-Charles Bienvenu de Miollis (1753-1843) menawarkan pada Eugène untuk mengelola situs ziarah rohani Maria Notre-Dame du Laus, di Pegunungan Alpen. Eugène pun dengan senang hati menerima tawaran itu.

Eugène juga masih meluangkan waktu melayani para tahanan di Penjara Aix, termasuk 2.000 orang Austria berstatus tawanan perang. Ia menghabiskan hidupnya di penjara untuk melayani mereka. Totalitas pelayanan ini membuatnya tertular penyakit typhus. Selama empat bulan ia terbaring di tempat tidur dan sempat menerima Sakramen Minyak Suci pada 14 Maret 1814.

Pengalaman terjangkit typhus menyadarkannya. Demi pelayanan yang efektif, Eugène tak dapat bekerja sendirian. Ia butuh rekan kerja, sebuah kongregasi dengan visi dan misi sama.

Dari waktu ke waktu, Eugène menimbang-nimbang untuk mengajukan persetujuan dan pengesahan Takhta Suci bagi kongregasi yang ia rintis.

Pada November 1825, ia menghadap Bapa Suci di Roma. Dilihat jumlahnya, kelompok ini masih sangat kecil, beranggotakan 25 orang. Saat itu, Vatikan tak langsung menyetujuinya sebagai institusi religius. Namun, Eugène tetap berjibaku mendapatkan persetujuan Vatikan.

Pada Desember 1825, Eugène beraudiensi dengan Paus Leo XII (1760-1829). Dalam pertemuan hangat dan bersahabat itu, Bapa Suci terkesan dengan karya Eugène. Selang dua hari, Eugène menulis surat pada pengikutnya, “Marilah kita memperbarui devosi kita pada Bunda Maria yang suci agar kita menjadi Oblat Maria Immakulata sejati.”

Warisan Kekudusan
Pada 17 Februari 1826, Paus Leo XII menganugerahkan restu atas berdirinya Oblat Maria Immakulata (OMI). Tak lama berselang, sempat berhembus angin ketegangan antara Paus dan Raja Perancis, Louis Phillippe. Paus menunjuk Eugène sebagai Uskup Marseille, Perancis. Tentu Louis Phillippe tak mau mengakui keputusan itu. Konsekuensinya kewarganegaraan Eugène pun dibekukan.

Namun tanpa ragu, di Roma, 14 Oktober 1832, Bapa Suci tetap mentahbiskan Eugène sebagai Uskup Tituler Icosium. Uskup baru ini sempat berkarya di Afrika Utara. Baru lima tahun kemudian, krisis Gereja dengan Perancis mereda. Saat itu, Mgr Eugène diangkat sebagai Uskup Marseille seperti rencana semula.

Mgr Eugène segera menggembalakan umat di Marseille. Ia membuka 22 paroki baru dan mendirikan 26 gereja, serta membangun tempat-tempat ziarah. Ia juga menerima sekitar 30 tarekat religius untuk berkarya di keuskupannya. Sejak Oktober 1841, para Oblat mulai berkarya di luar Perancis. Mereka diundang merasul di Amerika Utara, Inggris, Irlandia, Swiss, Sri Lanka dan Afrika Selatan.

Kesehatan Mgr Eugène kembali memburuk karena typhus. Ia wafat pada 21 Mei 1861. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia berpesan pada para Oblat, “Praktikanlah cinta kasih, cinta kasih, cinta kasih di antara kalian dan harus ada semangat yang menyala-nyala demi keselamatan jiwa-jiwa.” Ia mewariskan moto bagi para Oblat yang dihayati hingga kini, Paupere Evangelinzatur, Kabar Baik diwartakan pada kaum miskin.

Bapa Suci Paulus VI (1897-1978 ) merestui dekrit keutamaan hidup rohaninya dengan gelar Venerabilis pada 19 November 1970. Lalu Takhta Suci menyatakan Eugène sebagai Beato pada 19 Oktober 1975. Ketika Yohanes Paulus II (1920- 2005) menjadi uskup Roma ia menggelarinya Santo pada 3 Desember 1995. St Eugène dihormati sebagai pelindung keluarga disfungsional. Gereja memperingatinya tiap 21 Mei.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*