Artikel Terbaru

Model Pendidik Quintilian

Model Pendidik Quintilian
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada awal tahun ajaran baru biasanya terjadi peristiwa peralihan kepercayaan orangtua siswa kepada lembaga pendidikan. Orangtua yang sebelumnya sangat percaya kepada sekolah A, tiba-tiba berpindah kepercayaan kepada sekolah B. Hal ini berdampak dalam satu wilayah, ada lembaga pendidikan yang berkelimpahan murid, sementara yang lain kekurangan murid. Fenomena ini disebut “sudden shift” atau fenomena “tiba-tiba berpindah”.

“Sudden shift” tidak hanya terjadi dalam dunia pendidikan. Ia juga terjadi dalam dunia usaha. Para pemakai satu merek telepon genggam tertentu, bisa tiba-tiba berpindah ke mereka yang lain. Saat ini, di Jakarta juga sedang terjadi “sudden shift” konsumen ojek. Mereka yang sebelumnya menjadi konsumen ojek pangkalan, tiba-tiba berpindah memilih layanan ojek berbasis aplikasi di telepon pintar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orangtua tiba-tiba berpindah kepercayaan dari satu lembaga pendidikan ke lembaga yang lain. Salah satunya adalah tentang pendidikan nilai. Satu sekolah bisa menjadi unggul karena menerapkan pendidikan nilai, seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan kesantunan. Pendidikan nilai ini tidak hanya diajarkan dalam kelas, namun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Tapi, karena para pelaku di lembaga ini kurang menghidupi pendidikan nilai, maka orangtua bisa tiba-tiba berpindah kepercayaan ke lembaga pendidikan yang lain, yang lebih memenuhi kebutuhan anak-anak mereka.

Faktor lain adalah terjadi perubahan dalam masyarakat. Sekolah menawarkan program-program yang relevan dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman. Banyak sekolah, kini, memberikan pendidikan kemandirian, kreativitas, dan kemampuan manajemen diri. Pada masa kini, banyak orangtua yang sibuk mencari nafkah, sehingga mereka mengharapkan sekolah dapat turut serta membantu membentuk karakter anak-anak, baik dari segi intelektual maupun kepribadian. Orangtua berharap, anak-anak yang dikirim ke sekolah bisa menjadi “pintar” dan “berkepribadian baik”.

Harapan orangtua ini sudah ada sejak dulu. Pada zaman dulu kala, para Kaisar Romawi pun memiliki harapan yang serupa. Adalah Quintilian, seorang pendidik berkebangsaan Spanyol yang menjadi guru anak-anak para Kaisar Romawi. Quintilian mempunyai filosofi pendidikan dan keyakinan pedagogis yang dirumuskan, “Apapun penyakit yang ditularkan di rumah, pasti bisa disembuhkan pendidik profesional di sekolah.”

Orangtua zaman ini juga menginginkan sekolah dengan kualitas pendidik seperti Quintilian, yakni pendidik yang mampu menerangkan konsep-konsep abstrak dan rumit dengan sederhana dan menarik.

Para pendidik yang mengajar dengan hati dan sabar menghadapi anak didik dari “generasi gadget”, yang serba instan, mudah bosan, dan sulit berkonsentrasi.

Para pendidik masa kini memang dituntut memiliki kemampuan menjelaskan konsep abstrak secara menarik melalui animasi-animasi gambar, video, dan skema sederhana. Para pendidik juga diharapkan mampu memberi pengalaman “berhasil” kepada anak didik, sehingga mereka semakin percaya diri dan termotivasi untuk mengalami perubahan. Selain itu, para pendidik diharapkan bisa menemani anak didik untuk belajar mengatur waktu, membuat proyek kreatif, termasuk memberikan pengalaman melayani sesama yang bisa menyentuh sisi kemanusiaan peserta didik, serta mampu membangkitkan semangat peserta-didik.

Bayangkanlah, jika sekolah-sekolah Katolik memiliki kualitas pendidik seperti Quintilian, yang setiap hari berkata kepada para siswa, “Saya ada di sini untuk menjamin kalian semua pasti berhasil!” Bila peserta didik mengalami pengalaman “kemanusiaan” ini di sekolah, pasti mereka juga bisa berubah. Sekolah-sekolah Katolik tentu membutuhkan pendidik dengan kualitas seperti Quintilian. Sekolah-sekolah dengan pendidik demikian akan menjadi pilihan orangtua.

Fidelis Waruwu

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*