Artikel Terbaru

Samurai Sekaligus Martir

Patung Ukon Takayama, seorang samurai yang memilih untuk menjadi martir.
[padrepauloricardo.org]
Samurai Sekaligus Martir
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Barangkali Gereja Katolik Jepang adalah yang paling banyak menghasilkan martir. Menurut Pater Renzo de Luca SJ, sejarahwan dan Direktur Museum 26 Martir di Nagasaki, Jepang memiliki sekitar 250.000 martir, 42 di antaranya telah dinyatakan Santo dan 393 Beato. Semua martir itu menjadi saksi iman pada rentang waktu antara penghujung abad XVI hingga medio abad XIX, yakni masa 260 tahun penganiayaan terhadap umat Katolik sejak zaman Toyotomi Hideyoshi (1537-1598) hingga awal kekaisaran Tenno Meiji (1852-1912).

Seakan masih belum cukup dengan martir sebanyak itu, Konferensi Waligereja Jepang telah minta Takhta Suci untuk menyatakan kudus seorang samurai terkenal, Ukon Takayama (1552-1615). Kalau semua persyaratan tertinggal bisa dipenuhi, kemungkinan kanonisasi samurai-martir ini akan dilangsungkan akhir 2015, bertepatan dengan 400 tahun wafatnya.

Ukon Takayama adalah seorang Adipati Katolik yang semasa hidupnya mengabdi sebagai samurai dan penasihat pada tiga pemimpin besar Jepang berturut-turut, yakni Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu. Namun konflik batinnya muncul, tatkala dua pemimpin besar yang disebut terakhir ini mulai menindas umat Katolik secara brutal dan neurotik menjelang akhir abad XVI.

Sebagai samurai, Ukon tentu mengenal bushido (jalan para petarung) yang menuntut tanggung jawab dan loyalitasnya terhadap tuannya dengan ikut membasmi umat Katolik. Hanya, sekarang “tuan” mana yang akan ia taati? Alih-alih menaati kedua tuannya, Ukon menunjukkan loyalitasnya hanya kepada “tuan” tertinggi, yakni Yesus yang ia imani saat dibaptis pada umur 12 tahun bersama orangtuanya.

Ia tak hanya menolak perintah para pemimpinnya. Ia mengkritik agresi dan nafsu kekuasaan mereka. Akibatnya, kala Tokugawa Ieyatsu –penerus Hideyoshi– menjadi sang Shogun (perdana menteri sekaligus panglima tertinggi militer) dan melarang agama Kristen secara definitif tahun 1614, Ukon rela meninggalkan segalanya (istana, status sosial, saudara-saudari, bahkan tanah air) demi mengikuti jalan imannya.

Bersama sekitar 300 pengikutnya yang kebanyakan juga samurai seperti dirinya, ia menolak jalan kekerasan dan memilih pergi ke daerah pengasingan, yakni Filipina. Dengan bantuan para misionaris Spanyol, ia mulai menetap di Manila pada Desember 1614. Namun karena didera kelelahan fisik, terutama penderitaan batin, ia hanya bisa bertahan sekitar empat bulan. Ukon wafat 4 Februari 1615, dalam usia 63 tahun.

Sementara itu di Jepang, penindasan terhadap umat Katolik semakin menjadi-jadi. Rezim Tokugawa Ieyasu memeras rakyat biasa dengan pajak tinggi demi aneka proyek mercusuar mereka. Ketika penderitaan rakyat menjadi tak tertanggung, meletuslah pemberontakan yang terkenal di Shimabara pada 1638. Pemimpinnya adalah seorang samurai Katolik berumur 17 tahun, Amakusa Shiro (1621-1638). Pemberontakan yang melibatkan para petani, nelayan dan samurai dengan jumlah total sekitar 40.000 orang ini, berhasil dibabat habis oleh pasukan Shogun yang berjumlah 120.000 samurai profesional. Semua pemberontak, termasuk perempuan, anak-anak dan orangtua, dibantai tanpa ampun. Amakusa Shiro sendiri dipenggal. Kepalanya diarak pada sebuah tombak berkilo-kilo meter.

Membandingkan kematian Amakusa Shiro, samurai Katolik yang tewas dalam perang bersenjata demi membela orang tertindas, mengapa Ukon Takayama yang sama sekali tak menumpahkan darah demi imannya dinyatakan martir? Alasan yang diberikan Mgr Isao Kikuchi, Uskup Niigata, mengajak kita umat Katolik, merenung: “Ukon Takayama memperlihatkan iman yang tidak menyisakan ruang untuk kompromi.

Di Jepang dewasa ini, kita menghayati hidup yang penuh dengan pelbagai kompromi (uang, harta, gaya hidup, kedudukan, dll) yang membuat kita mudah melupakan Tuhan. Maka dalam keadaan seperti ini, jika ada orang yang rela melepaskan kesenangan dan kemapanan hidupnya demi iman, ia sungguh merupakan teladan bagi siapapun. Ukon tidak dihukum mati seperti para martir Jepang lainnya.

Banyak orang beriman dewasa ini menyangka, kemartiran sudah tak ada hubungannya lagi dengan hidup mereka, sebab sekarang tak ada risiko kematian yang harus ditanggung demi iman akan Kristus. Namun apa yang diajarkan Ukon adalah, kematian in odium fidei (karena dibenci imannya) bukanlah satu-satunya ukuran yang menjadikan seseorang martir. Hidup kemartiran adalah hidup yang rela mempertaruhkan hingga melepaskan segala sesuatu demi Tuhan.”

RD S.P. Lili Tjahjadi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*