Artikel Terbaru

Pesan Bahtera Nuh Pada Closing Ceremony AYD 2017

Penampilan sendratari kolosal bertajuk “Noah – The Calling of Prophecy” pada Asian Youth Day (AYD 17).
Pesan Bahtera Nuh Pada Closing Ceremony AYD 2017
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Orang Muda Katolik (OMK) sebagai bagian dari generasi milenial menghadapi tantangan hidup dunia masa kini, yang tengah berpusar-pusar dalam arus deras modernitas, serba digital, serbamaya, kehidupantan pabatas, juga dunia yang masih dibayangi oleh konflik-konflik multikultural. Bagaimana orang-orang-orang muda bergumul, terlibat menakhlukka  tantangan tersebut dan bagaimana gereja menemaninya?

OMK Paroki St. Thomas Rasul Bedono Keuskupan Agung Semarang membagikan refleksinya melalui penampilan sendratari kolosal bertajuk “Noah – The Calling of Prophecy”pada festival akhir rangkaian Asian Youth Day (AYD 17) yang diadakan pada tanggal 5 Agustus kemarin. Pementasan ini melibatkan 100 penari, 50 pemusik dan 25 penyanyi paduan suara, disutradarai oleh Romo Patricius Hartono Pr., dengan penata musik Albertus Dwiono.

Melalui harmonisasi kekayaan keragaman budaya nusantara berupa gerak tari, lagu, musik dan kostum, kisah panggilan Nuh untuk menyelamatkan alam raya dinarasikan.

Babak pertama – tarian agung gemulai air bening mengitari cengkrama tetumbuhan, hewan dan para petani, menggambarkan keadaan harmonis pada awal penciptaan. Semua indah dan baik adanya, hidup berdampingan saling mengasihi.

Babak kedua –manusia bertopeng ‘buto’ menghentak-hentak menyeruak masuk mengobrak-abrik harmoni. Ini menggambarkan kesombongan dan keserakahan hidup manusia yang menyebabkan kerusakan alam dan hilangnya hubungan baik antara manusia dengan ciptaan yang lain.

Babak ketiga – panggilan kenabian Nuh untuk menyelamatkan kerusakan. Tarian air dengan alunan tembang Tak Lelo Lelo Ledung ibarat tangan ibu yang merengkuh dan menentramkan Nuh dalam kebingungannya. Ini menggambarkan kasih Tuhan yang menyelamatkan. Kesadaran akan kasih Tuhan ini menuntun Nuh untuk ikut berperan mengasihi dan menyelamatkan sesama ciptaan.

Babak keempat – membangun bahtera, mencari dan menyelamatkan makhluk-makhluk yang terancam hilang oleh ganasnya air bah. Tarian bambu dengan hentakan musik dan alunan lagu gegap gempita Yamko Rambe Yamko membentuk formasi bahtera besar yang menampung aneka tumbuhan, hewan dan manusia. Ini menggambarkan bagaimana kita hendaknya berperan membangun rakit-rakit solidaritas, menjalin kembali hubungan-hubungan yang retas untuk menyelamatkan yang terhilang dan merengkuh yang termarjinalkan.

Kisah diatas, mengajak para hadirin, wakil Orang Muda Katolik se-Asia untuk merefleksikan tentang kehidupan masa kini dengan berbagai tantangannya. Pesan kasih dan penghargaan terhadap seluruh ciptaan mengajak tiap individu untuk dapat menjaga diri agar tak ikut hanyut dalam pusaran dan bagaimana mengembangkan kepekaan dan solidaritas sosial agar dapat berperan aktif dalam membangun jaring-jaring keselamatan bagi sesama dan ciptaan lain.

Derasnya kemajuan jaman, selain membawa berbagai kemudahan hidup, juga ada dampak yang cukup mengkawatirkan. Teknologi yang serba digital dan maya di sisi yang lain telah berperan menjauhkan anak-anakdarirealitaskehidupan, merenggutcintadanhubungan-hubungan, serta menjadi sarana strategis bagi tersebarnya berbagai kejahatan. Tata kehidupan dunia yang eksploitatif, juga telah menyebabkan berbagai konflik dan kerusakan alam, yang berdampak langsung pada kelompok rentan salah satunya anak-anak.Belum lagi kehidupan yang multikultural, di satu sisi menjadi kekayaan, namun di sisi yang lain dapat digunakan sebagai pemicu peperangan.

Bagi orang-orang muda, berusaha terus bersama dalam ikatan perahu OMK dapat menjadi jalan untuk memperkuat diri dan mengembangkan kepekaan sosialnya. Bagaimana dengan gereja, apakah juga dapat menjadi bahtera besar Nuh yang pintunya selalu terbuka bagi anak muda untuk belajar mengasihi dan menghargai diri sendiri, sesama dan alam sekitar dengan cara yang konkrit dan khas mereka?

Pelajaran dari Balik Panggung
Kepercayaan yang diperoleh OMK Bedono untuk mewakili delegasi Indonesia menampilkan pertunjukan seni budaya dalam festival penutupan AYD ke 7 ini tidak datang begitu saja. Gereja St. Thomas Rasul Bedono, sebuah paroki kecil di pinggiran ini sudah berdinamika setidaknya sejak 5 tahun lalu untuk menjadi gereja yang berdialog dengan keseharian umat, kebudayaan dan lingkungan sekitar, yang memungkinkan anak-anak muda belajar mengasihi dan menyelamatkan seluruh ciptaan.

Tagline “Bedo No” (berani berbeda) menjadi Bahasa bersama yang cocok bagi jiwa anak muda yang bebas, kreatif dan selalu ingin mencoba hal-hal baru. Dengan Bahasa bersama tersebut, anak-anak muda didampingi untuk hidup dekat dengan alam, menghargai kearifan lokal dan membangun kebersamaan. Sekolah Minggu yang telah ditransformasi menjadi Sanggar Anak menjadi ruang yang lebih terbuka dan dinamis untuk proses pengembangan anak dan pemuda, bahkan orang tua, sesuai dengan keinginan dan keunikan potensi masing-masingwilayah.

Mengasihi seluruh ciptaan dan menghargai kebudayaan dipraktekkan dalam berbagai kegiatan konkrit seperti kreasi tata altar hijau, misa alam, adorasialam, festival pangan lokal dan pakaian adat, kesenian rakyat diberi ruang dalam kekhusukan liturgi, visualisasi injil dalam berbagai pementasan, edukasi hijau di lahan pertanian, gerakanan ketahanan pangan lokal dan lain-lain. Ensiklik Laudato Si diterjemahkan dalam kegiatan nyata dan dipraktekkan oleh anak-anak muda dalam kehidupan menggereja yang dinamis dan terhubung dengan keseharian. Dinamika dengan alam dan budaya sekitar menjadi media konkrit olah diri dalam menghidupi Firman Tuhan.

Proses persiapan dan penampilan sendratari kolosal “Noah – The Calling of Prophecy” juga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi seluruh pemain dan kru pendukung. Sebagian besar anggota OMK mengatakan bahwa kesempatan ini sungguh membanggakan dan semakin meneguhkan komitmen mereka untuk terus belajar dan terlibat dalam kehidupan menggereja. Selain memperkuat rasa percaya diri dan kebanggan, juga semakin memahami pesan kasih dan penyelamatan bumi serta seluruh ciptaan tanpa kecuali, menghargai keberbagaian, kesediaan berbagi, dapat mengembangkan sikap disiplin dan tanggung jawab, mengelola hubungan dengan teman, syukur atas talenta yang dianugerahkan dan lain-lain.

Kru pendukung dan para pendamping juga mendapatkan pengalaman luar biasa, di antaranya merasa sangat bersyukur karena dapat mendampingi anak-anak yang tadinya awan terhadap kesenian hingga dapat menampilkan sesuatu; dapat menemukan anak-anak denganbakat-bakat yang tadinya tak terlihat baik dalam berkesenian maupun dalam kepemimpinan; juga tumbuhnya kreativitas dalam pembuatan kostum, tata rias, properti dan pengelolaan pertunjukan.

Semoga pesan kasih dan penghargaan terhadap semua ciptaan dari Bahtera Nuh semakin meneguhkan OMK dalam menghidupi injil dalam kehidupan yang multikultur dengan hati penuh kegembiraan. Salam joyful dan joss!

Susana Srini
Hasil wawancara dengan Tr. Wahyu Hendratno, Albertus Dwiono, Andi, Ando, Marcellina dan There

 

 

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*