Artikel Terbaru

Apakah Api Penyucian Itu?

Apakah Api Penyucian Itu?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Apakah Gereja yang menderita (di Api Penyucian) mempunyai kesempatan untuk menghubungi Gereja berjuang (kita di dunia ini)? Apakah kita bisa mengetahui bahwa arwah yang kita doakan sudah menjadi bagian dari Gereja jaya di surga?

Ester, Banyumas

Pertama, harus diteguhkan bahwa Sakramen Baptis menyatukan kita dengan Tuhan kita Yesus Kristus, dan dengan semua orang yang sudah bersatu dengan Dia. Kesatuan dengan Kristus ini tidak hilang karena kematian. Karena itu, mereka yang sudah meninggal dan sedang menjalani sisa hukuman dosa di Api Penyucian masih berada dalam ikatan kesatuan dengan Kristus. Ikatan kesatuan ini memberikan jaminan bahwa masih dimungkinkan adanya “komunikasi” antara Gereja yang berjuang dengan Gereja yang menderita.

Ikatan kesatuan itu diungkapkan juga secara tidak langsung dalam Prefasi Arwah pertama yang mengatakan bahwa mereka yang dipanggil pulang ke rumah Bapa, hidupnya “hanyalah diubah, bukan dilenyapkan”. Memang kita sudah tidak bisa melihat mereka lagi secara kasat mata, tetapi tidak berarti bahwa mereka hilang lenyap. Mereka tetap ada, tetapi dunia mereka berubah, yaitu masuk ke dalam dunia rohani para arwah.

Kedua, meskipun dunia orang mati sudah tidak sama dengan dunia orang hidup, tetapi kesatuan di dalam Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, menjamin tetap adanya ikatan kesatuan, dan karena itu tetap membuka adanya komunikasi. Tentu saja bentuk komunikasinya tidak lagi menggunakan kelima indera kita, seperti ketika manusia masih hidup di dunia ini, tetapi melalui intuisi atau mimpi.

Untuk menangkap secara murni apa yang dikomunikasikan, dibutuhkan kepekaan untuk membedakan dalam roh, apa yang muncul dari pikiran dan angan-angan diri sendiri, atau dari alam bawah sadar, dengan apa yang sebenarnya disampaikan oleh arwah itu. Biasanya, kemampuan rohani manusia untuk menangkap apa yang dikomunikasikan itu kita sebut intuisi atau mimpi. Jadi, tidak semua intuisi atau mimpi bisa serta-merta secara mutlak dinilai sebagai berasal dari arwah, tetapi dibutuhkan pembedaan dalam roh.

Ketiga, berdasarkan uraian tersebut, kita bisa mengandaikan bahwa terbuka kemungkinan komunikasi antara para arwah (Gereja yang menderita dan Gereja yang jaya) dengan kita, Gereja yang berjuang. Maka bisa jadi, arwah yang sudah beralih dari Gereja yang menderita ke dalam Gereja yang jaya, hendak mengkomunikasikan keadaan mereka kepada kita yang masih di dunia ini. Sarananya ialah kemampuan rohani manusia. Dibutuhkan kepekaan pembedaan dalam roh untuk menangkap apa yang dikomunikasikan itu.

Dalam Ajaran Gereja tentang Api Penyucian, apakah yang dimaksudkan dengan “api” itu benar-benar adalah “api” seperti yang kita miliki di dunia ini?

NN, Purwokerto

Api Penyucian adalah sebuah keadaan, bukanlah sebuah tempat. Kata “api” dalam ungkapan “Api Penyucian” memaksudkan sebuah pemurnian, seperti halnya emas dimurnikan dengan api. Api mampu memurnikan secara lebih mendalam daripada air. Karena itu, yang dimaksud “api” pastilah bukan “api” yang dimaksudkan di dunia ini. Yesus sering menggunakan gambaran-gambaran apokaliptik yang umum pada jaman-Nya, yaitu perapian yang tak terpadamkan (Mat 5:22; 18:9), jurang yang dalam (Luk 16:26), penjara (Mat 5:25), tempat siksaan (Mat 25:46) (bdk. KGK No. 1033).

Ungkapan-ungkapan itu tidak boleh dipahami secara harafiah karena semuanya akan saling menimbulkan pertentangan. Misal antara api dan kegelapan, antara ulat dan api, serta yang lain. Gambaran-gambaran itu harus dimengerti dalam konteks kesusasteraan apokaliptik Yahudi. Api menunjukkan penghakiman Ilahi yang memurnikan; ratap tangis berarti kepedihan dan penyesalan; kertak gigi menandakan kemarahan; kegelapan adalah tanda keputusasaan; ulat melambangkan kebusukan.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*