Artikel Terbaru

Mengelola Warung

Mengelola Warung
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ibu Emiliana, suami saya bekerja sebagai koster. Sementara saya belum lama ini mendapat pekerjaan sebagai pengelola warung sembako milik umat. Suami menyetujui, dan saya menyanggupi, dapatlah kami modal untuk mengisi warung sekitar Rp 40 juta. Sistemnya bukan mendapat gaji bulanan, tapi bagi hasil. Tiap bulan kami harus setoran ke pemberi modal sebagai cicilan.

Jadi masalah di sini, sejak saat itu suami tak pernah memberi uang langsung ke saya untuk pegangan dan belanja kebutuhan pokok harian (sayur dan lauk). Semua suami yang membelanjakan. Salahkah saya kalau mengambil sedikit uang di warung untuk saya tabung? Saya yakin suami tahu soal itu, karena kadang kalau pas keuangan sedang kepepet dan mau belanja buat mengisi warung, saya suka memberi uang simpanan, bahkan juga membantu setoran bulanan.

Suami selalu mengatakan, percuma saya menabung karena uang itu masih menjadi hak pemilik modal. Tetapi suami juga tak pernah melarang saya menabung dengan cara itu. Saya jadi bingung, apa yang harus saya lakukan, Bu Emiliana?

Monica Wirawan, Jember, Jawa Timur

Salam sejahtera dan salam kenal Ibu Monica. Semoga Ibu dalam keadaan sehat, dan berkat Tuhan selalu menyertai Ibu sekeluarga. Kalau mencoba mengerti dan memahami persoalan Ibu, rasanya bukan persoalan yang terlalu rumit, namun juga tak dapat dikatakan persoalan mudah. Di satu sisi, memang tak salah mengenai keputusan Ibu bersama suami untuk mengelola warung, dengan model pembagian hasil. Sebab, tiap manusia pasti, mengharapkan dirinya selalu berkembang, maju, dan sejahtera.

Dengan mengelola warung, Ibu dan suami pasti juga berharap dapat menambah pemasukan keluarga, entah sedikit atau banyak. Kalau dikaji lebih lanjut, mengelola warung sebagai cara untuk lebih memenuhi kebutuhan fisik. Psikolog terkenal asal Amerika, Abraham Maslow mengatakan, ada lima kebutuhan dasar atau biologis, yakni rasa aman, mencintai dan dicintai, penghargaan atau harga diri, dan aktualisasi diri. Dengan demikian dapat dikatakan, persoalan Ibu masih berkisar pada pemenuhan kebutuhan paling dasar yaitu biologis atau fisik.

Ibu berharap, bisa memenuhi kebutuhan itu sedikit demi sedikit. Pada akhirnya ada kepuasan tersendiri secara psikologis karena dapat membantu suami, menambah penghasilan, dan merasa diri lebih berharga, serta berguna. Tapi, sebaiknya usaha itu (mengelola warung) jangan memicu persoalan rumah tangga yang semula baik.

Sebaiknya segala hal dalam rumah tangga ibu, termasuk mengambil keputusan dibicarakan bersama dengan suami, demi memupuk relasi suami-istri. Pasti suami memahami keinginan Ibu, seandainya membicarakan segala persoalan dalam situasi yang baik, karena bertujuan positif dan demi kepentingan bersama.

Bila Ibu menabung, sebaiknya dari bagian yang Ibu dapat dari warung, bukan mengambil porsi pemilik modal, agar tak menyalahi perjanjian atau komitmen Ibu-suami dengan pemilik modal. Selain itu hati Ibu pun bakal tenang karena tabungan berasal dari hak Ibu.

Tindakan suami untuk membelanjakan uang sendiri tidak sepenuhnya salah, juga tak seluruhnya benar. Suami Ibu bukan tak percaya kepada Ibu, tapi mungkin ia menginginkan agar uangnya tak tercampur dengan duit pengelolaan warung, sebab laba harus dibagi dengan pemilik modal.

Di sisi lain, ada baiknya suami juga mendiskusikan dengan Ibu, agar sama-sama saling memahami alasan dan tujuan tindakan suami kepada Ibu. Intinya, segala sesuatu terkait rumah tangga dibicarakan baik-baik antara suami-istri.

Menabung merupakan tindakan baik dan perlu, demi mencukupi kebutuhan mendatang dan mendadak. Semoga segala tindakan mulia Ibu tetap dalam berkat Tuhan, karena bertujuan baik. Tetap semangat, semoga usaha Ibu dan suami makin banyak pembeli dan berkembang. Semoga Tuhan memberkati.

Emiliana Primastuti

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*