Artikel Terbaru

Tiga Bulan Sembunyi di Kamar Mandi Hindari Pembantaian Suku Hutu

Immaculée Ilibagiza dan sisa pakaian korban genosida di Gereja Nyamata, Rwanda.
[salemnews.com, notesfromcamelidcountry.net]
Tiga Bulan Sembunyi di Kamar Mandi Hindari Pembantaian Suku Hutu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di sebuah kamar mandi sempit, delapan perempuan bersembunyi dari pembantaian. Tapi dari kamar mandi itu pula mengalir cinta dan pengampunan.

Immaculée Ilibagiza mendekam di dalam kamar mandi. Selain dia, ada tujuh perempuan lain yang bersembunyi di kamar sempit itu. Bak pentol korek api kayu, mereka duduk berdesakan. Jangankan bicara, untuk sekadar bernapas pun mereka ekstra hati-hati. Maut mengintai mereka di luar.

Di luar kamar mandi itu, di tiap jengkal tanah di Republik Rwanda, Afrika, nyaris tak ada suaka. Rwanda telah menjadi ladang pembantaian Suku Hutu terhadap Tutsi. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan umum, kebun, rumah, sekolah, bahkan gereja. Menurut laporan Robert David Simon, wartawan CBS News asal Amerika, ada sekitar 800 ribu orang tewas. Sumber lain mengatakan, jumlah korban bisa mencapai satu juta jiwa.

Basmi Kecoa
Immaculée semula tak ingin kembali ke kampung halamannya, di Mataba, Provinsi Kibuye. Mahasiswi jurusan elektro dan teknik mesin di Universitas Rwanda itu ingin menggunakan liburan Paskah untuk mengerjakan seabrek tugas kuliah. Tapi, sang ayah, Leonard Ukulikiyinkindi meminta agar putri semata wayangnya pulang ke rumah. Immaculée pun takluk dengan permintaan ayahnya.

Kamis, 6 April 1994, televisi dan radio lokal menyiarkan kabar duka cita. Pesawat yang membawa Presiden Rwanda, Juvénal Habyarimana, ditembak dan jatuh di Kigali, ibukota Rwanda. Juvénal berasal dari Suku Hutu, ras terbesar di sana. Kematian Juvénal menjadi preambul genosida kaum Tutsi.

Sebuah stasiun radio yang dikuasai paramiliter Hutu mulai mengobarkan api permusuhan. Mereka menuduh kaum Tutsi sebagai dalang pembunuhan Juvénal dan upaya kudeta. Mereka mendorong tiap Hutu agar ke luar rumah, mengambil parang dan tombak, serta membasmi tiap Tutsi, yang mereka sebut sebagai kecoa.

Immaculée belum sampai sehari di rumah ketika gelombang pembantaian dimulai. Dengan mata kepalanya, ia menyaksikan pembacokan di sebuah bukit, tak jauh dari kediamannya. Kejadian serupa merambat ke tempat lain. Teriakan demi teriakan melonglong di seantero kampung yang semula damai.

Leonard segera memerintahkan putrinya lari dan bersembunyi di rumah Pendeta Simeon Nzabahimana, kenalannya yang bersuku Hutu. Pendeta Simeon menyembunyikan Immaculée bersama tujuh perempuan di sebuah kamar mandi yang jarang digunakan. Posisi kamar mandi itu di sudut ruangan dan tersembunyi.

Di kamar mandi berkelir putih, mereka duduk saling memungungi. Semua hening, tanpa kata. Suatu ketika, kenang Immaculée dalam wawancara bersama CBS News, persembunyian mereka nyaris terendus orang-orang Hutu. Alkisah, mereka melihat sekelompok perempuan Tutsi datang ke rumah Pendeta Simeon, tapi tak melihat para perempuan itu meninggalkan rumah pendeta.

Immaculée, dari celah jendela kecil, melihat wajah-wajah buas itu menggeruduk ke dalam rumah, seperti singa lapar yang mengejar mangsa. “Saya tak pernah merasa takut selain hari itu. Saking ketakutan, saya tak bisa menelan air liur. Dalam beberapa detik, rasanya hidup saya bakal berakhir,” ujarnya.

Jadi Tumpuan
Immaculée kian gidik dan ciut, begitu mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Ia amat mengenal suara itu. Dia adalah Felicien, tetangganya. Sebelum pembantaian terjadi, Felicien merupakan pribadi yang ramah. Ia selalu menyapa Immaculée ketika bertemu. Putrinya pun sempat satu SD dengan Immaculée.

Felicien tak lagi sama seperti yang pernah ia kenal. Ia memerintahkan kawanannya untuk mencari dan membunuh Immaculée. Entah apa yang membuat ia yakin Immaculée berada di rumah pendeta. “Saya sudah membunuh 399 ‘kecoa’. Immaculée, (kamu) akan menjadi (kecoa) ke-400. Itu nomor cantik untuk membunuhmu,” seru Felicien, seperti dikutip Immaculée kepada www.humanitysteam.org.

Immaculée amat ketakutan. Ia memenjamkan mata, menenangkan diri sambil memilin bulir-bulir Rosario pemberian sang ayah. Para “pemburu” tinggal beberapa sentimeter dari tempat Immaculée bersembunyi. Tak ada seorang pun yang berani bergerak sedikit pun. Bahkan, mereka menahan napas agar tak terdengar.

Kata Immaculée, saat itu tak ada lagi tumpuan dan andalan selain Tuhan. Ia meminta pertolongan kepada-Nya agar terbebas dari cobaan. “Jika bukan karena pertolongan Tuhan, saya tak mungkin sanggup bertahan”.

Selang dua jam, Pendeta Simeon menemui mereka. Ia mengatakan, para pembunuh telah pergi. Tapi ia mewanti-wanti agar mereka terus bersembunyi. Para “pemburu” bisa muncul tiba-tiba. “Pengumuman untuk membunuh seluruh Tutsi kami dengar sepanjang hari. Mereka menyuruh, ‘bunuhlah anak-anak, kaum perempuan dan lanjut usia, agar negara ini bersih (dari kecoa),” beber Immaculée.

Pada situasi yang amat mencekam itu, Immaculée justru kian intim dengan Tuhan. Tiap hari, ia tak pernah absen berdoa dan bermeditasi. Dalam tiap doa, ia memohon rahmat cinta dan pengampunan untuk para pembunuh. Ia mengakui, pada awal tak mudah mengungkapkan permohonan itu.

Ia teringat kata-kata Yesus ketika berada di atas kayu salib. Yesus memohon kepada Bapa-Nya agar mengampuni semua pendosa. “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” ungkap Immaculée, mengulang doa Yesus.

Kata-kata itu, menurut Immaculée, punya daya luar biasa. Permohonan itu berangsur-angsur mengubah hidupnya. Ia yang semula begitu benci, marah, dan sedih kepada kaum Hutu, justru memaafkan para pembantai. Proses memaafkan justru terjadi selama ia berada di kamar mandi.

Tiga bulan, delapan perempuan bersembunyi di dalam kamar mandi. Udara bebas baru bisa mereka hirup ketika tentara Tutsi yang berada di pengasingan kembali ke Rwanda, dan mengakhiri genosida. Tak lama setelah keluar, Immaculée mengetahui orangtua dan dua kakak kandungnya telah tewas dibunuh.

Saling Memaafkan
Genosida di Rwanda merupakan potret kelam kemanusiaan. Ada yang mengatakan, tragedi di sana lebih kejam dan mengeringkan dibanding Nazi. Satu juta nyawa melayang hanya dalam rentang tiga bulan. Kisah mengerikan serta pertolongan Tuhan itulah yang Immaculée bagikan kepada khalayak, baik lewat audiensi maupun dua buku karyanya bersama Steve Erwin, Left to Tell: Discovering God Amidst the Rwandan Holocaust dan Led by Faith: Rising from the Ashes of the Rwandan Genocide.

Immaculée mengakui, tiap orang di Rwanda tak bisa melupakan peristiwa itu. Tapi, Immaculée mendorong agar mereka saling memaafkan. Dengan begitu, peristiwa serupa tak terjadi lagi di negeri dengan mayoritas penduduk penganut Kristiani. Balas dendam, imbuh Immaculée, akan memperpanjang rasa sakit. “Saya tak menginginkan. Saya tak mau memikul beban (dendam) di hati, setelah mereka membunuh keluarga saya,” tandas peraih Mahatma Gandhi Reconciliation and Peace Award.

Empat tahun setelah genosida, Immaculée hijrah ke Amerika. Pada 2013, ia sah menjadi warga negara Abang Sam. Kini, ia berkarya di salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani dan memperjuangkan hak hidup dan kesetaraan anak-anak yatim piatu, seperti dirinya.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*