Artikel Terbaru

Dari Rongsokan Menjadi Karya Seni

Pankraetus Fransgupita.
Dari Rongsokan Menjadi Karya Seni
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pankraetus Frans Gupita menggunakan rongsokan seperti kerangka motor menjadi bahan dasar karya seninya. Bukan hanya kreatif, baginya itu ramah lingkungan.

Sebuah mesin motor tua dipajang rapi bersama karya seni lainnya. Mesin itu, pernah dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Itu bukanlah mesin sungguhan. Tetapi sebuah patung mesin motor yang terbuat dari batu. Patung mesin motor itu adalah satu dari puluhan karya Pankraetus Frans Gupita.

Gupita, sapaannya, dikenal sebagai seniman patung. Selain itu, ia juga sangat menggemari dunia otomotif. Alhasil, ia pun mengawinkan keduanya, seni dan otomotif. Banyak karya patungnya terbuat dari bahan dasar rangka motor. Di International Cultur Center Pandaan Jawa Timur, ada sebuah patung salib yang terbuat dari rangka motor bekas dan kayu. “Batu memang bahan utama, namun saya suka menggunakan barang recycle sebagai bahan dasar karya saya,” kata Gupita.

Di Balik Petaka
Perpaduan antara seni dan hobi otomotif bermula dari sebuah petaka. Suatu ketika, Gupita mengalami kecelakaan hebat. Motor yang ia kendarai hancur lebur. Tapi petaka motor justru membawa rahmat lain baginya. Gupita membongkar rangka motor yang porak poranda itu. Ia menciptakan sebuah salib lengkap dengan korpusnya. Ia menamai karya patung itu dengan sebutan latin “Ora et Labora”, ‘berdoa sambil bekerja’.

Nama itu, kata Gupita, mengingatkan keseimbangan antara doa dan bekerja. Usai kecelakaan, Gupita merenung. Sebagai anak motor, batas antara kematian dan kehidupan begitu tipis. “Namun ketika saya mengalami kecelakaan itu, saya menyadari Yesus adalah sumber keselamatan, itulah yang saya maknai dari karya seni salib ini,” ungkapnya.

Karyanya yang unik memantik tawaran dari banyak penjuru. Gupita tak sendirian. Ia berkolaborasi dengan seniman muda lainnya dalam tim yang mereka namai “Sulit Tidur”. “Nama itu kami ambil karena, kalau dapat orderan, apalagi mepet-mepet, kami harus lembur dan jarang tidur, karena harus menuntaskan orderan itu,” ungkapnya.

Bersama tim Sulit Tidur, Gupita menggarap beberapa karya seni baik di daratan Jawa maupun di luar Jawa. Misal, pada 2014, mereka mengerjakan Monumen di Pantai Jai Lolo, Ternate dalam rupa Wanita yang membawa Saloi (bakul) setinggi tujuh meter. Selain itu, mereka menggarap Diorama di Museum Lubang Buaya Jakarta, yang bercerita tentang pengambilan jenazah korban Gerakan 30 September, serta Diorama Pacitan Perang Kemerdekaan. “Untuk proyek semacam ini, umumnya kami butuh waktu satu bulan. Bahan pun berkembang, tidak hanya dari batu, melainkan juga kadang memakai fiber glass.”

Gupita juga mengerjakan patung pahlawan keluarga Jenderal Sudirman, dan beberapa relief di Mabes TNI Jakarta 2014 silam. Buah karyanya di bidang seni patung itu ia tampilkan dalam pameran-pameran sejak 2006 hingga sekarang. Karyanya telah tampil di puluhan pameran nasional. Selain pameran ia juga mulai melirik kompetisi-kompetisi seni rupa dan pernah menyabet lima besar dalam Bandung Contemporer Award 2012 lalu. Karyanya yang terbuat dari roda sepeda motor pernah disewa dan dibawa ke Singapura.

Saat ini, Gupita sedang merancang sebuah patung Salib berukuran besar yang nantinya akan dipajang di area danau Toba, Sumatera Utara. Ia juga mendapat orderan patung santo-santa yang akan ditempatkan di Gereja Wates Kulon Progo. “Jujur saja, untuk karya religius belum banyak, sedang saya kembangkan. Tetapi tim saya sudah mengerjakan beberapa misal, relief Perjamuan Terakhir, itu sudah dikerjakan,” imbuh ayah satu orang anak ini.

Seperti seniman lain, Gupita ingin memiliki galeri seni sendiri meski saat ini cita-cita itu belum tercapai. Sebagian karyanya ia pajang begitu saja di rumah. Gupita berprinsip; nama tidak boleh lebih besar dari karya dan karya harus abadi. Karena itu Gupita bernazar untuk membuat karya terutama bagi Gereja, baik salib atau patung religius lainnya. “Ritual Gereja dengan seni patung itu sangat erat. Seni bisa mengantar orang lebih dekat lagi dengan Tuhan yang tak kelihatan itu.”

Seniman Luwes
Kala kecil, Gupita gemar mengunjungi candi atau karya seni lainnya. Bungsu dari dua bersaudara ini merekam secara rinci dalam ingatan, setiap peristiwa dan benda koleksi atau candi yang ia datangi. “Ayah dan ibu mengajak saya mengunjungi candi-candi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Saya pun jatuh hati dan amat tertarik dengan seni patung-patung dan relief-relief yang menempel di candi-candi itu,” kenang Gupita.

Gupita yakin, momen masa kecil itu membentuk persepsinya tentang seni sebagai sebuah harmoni. Ayahnya yang adalah seorang guru sejarah menjelaskan semua hal tentang patung atau benda seni yang mereka kunjungi. Ayah Gupita juga sering mengajarkan Gupita untuk melukis. Selain sang ayah, Gupita juga menyebut peran ibu dalam membentuk karakter seni dalam dirinya. Sang ibu menggeluti dunia mocopat dan Karawitan.

Kunjungan ke candi-candi itu membuat hobi Gupita bertambah. Automotif tidak lagi menjadi hobi dominan karena memiliki saingan berupa seni rupa dan lukis. Gupita tahu ia bisa menyatukan hobinya dalam sebuah wujud. Batu ia sulap menjadi spare part atau bagian kendaraan motor.

Lulus SMA, Gupita memilih Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai tempat menempa diri. Awalnya ia mengambil jurusan di bidang seni lukis, namun dua tahun berselang, ia pindah haluan ke seni rupa patung.

Gupita perlahan mulai menciptakan sebuah patung dari bahan bebatuan alam. Ia sengaja tidak memilih kayu sebagai media untuk menuangkan kreatifitasnya. Bahan kayu, kata Gupita, amat sulit untuk diprediksi; tampilan luar bagus, dalam belum tentu baik. “Selain itu, kalau bicara lingkungan, saya rasa dengan bebatuan yang keras, kita bisa ikut menjaga lingkungan. Karya dari batu juga pasti bertahan lebih lama,” ungkapnya.

Selain itu, bahan batu keras yang ia ubah menjadi seni patung itu dapat dinikmati oleh semua bagian indera; mulai dari penciuman, rabaan dan juga bagian indera yang lain. Bahkan karyanya itu juga dapat dinikmati oleh mereka yang menyandang tuna netra. Selain batu, Gupita juga menggunakan bahan rongsokan seperti rangka motor bekas atau fiber bekas dan barang bekas lainnya. “Saya sering blusukan kesana kemari untuk mencari bahan bekas yang bisa dibeli atau gratis saya dapatkan begitu saja,” ungkap umat Paroki Kumetiran Yogyakarta ini.

Keluwesan Gupita dalam berkarya membawanya ke panggung hiburan. Fitri, koreografer dan pendiri Fitri’s Dance Work meminta Gupita untuk bekerjasama. Medio Mei silam, Gupita bersama Fitri’s Dance Work diundang ke Asia Culture Center di Korea Selatan. Gupita berperan sebagai penata artistik tiga dimensi untuk tarian yang bertajuk Mega Mendung.

Selama dua hari, Gupita ditemani rekannya Agus Cahyono membuat design bentuk Kapal dengan Panjang 14 m, tinggi 2-3 meter, dan lebar 4 meter. Mereka membuat itu semua dari bahan besi yang dibuat di Yogyakarta kemudian dirakit di Korea Selatan. Gupita juga merancang properti pakaian yang dikenakan para penari. “Sebagian bahan properti itu juga dari barang bekas,” pungkas Gupita.

Pankraetus Frans Gupita
TTL : Yogyakarta, 29 Mei 1980
Isteri : Susanna Raheni
Anak : Gerardus Garis Khatulistiwa (3,5 tahun)

Pendidikan:
• Fakultas Seni Rupa ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta (2010) Beberapa Karya
• Monumen Wanita dengan Soloi (bakul) di Pantai Jai Lolo, Ternate (2014)
• Patung Pahlawan keluarga Jenderal Sudirman
• Diorama di Museum Lubang Buaya Jakarta, yang bercerita tentang peng ambilan jenazah korban G30S/PKI (2014)
• Diorama Pacitan Perang Kemerdekaan
• Relief di Mabes TNI Jakarta (2014)
• Salib dari Sparepart motor setinggi 1,5 Meter

Beberapa Pameran
• JAKARTA BIENALLE#14 di Galeri Nasional Jakarta
• Pameran “Highlight” Jogja National Museum Yogyakarta
• “Exploration of Creativity “ D’Peak Art SPACE, Jakarta

Fr Nicolaus Heru Andrianto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*