Artikel Terbaru

Rasul Ekaristi yang Gemar Blusukan

St Giuseppe Morello OSJ bersama para tunawisma di Keuskupan Acqui.
[salvacione.org]
Rasul Ekaristi yang Gemar Blusukan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejak kecil, hidupnya saleh. Ia setia meniti panggilan religius dan akhirnya menjadi Uskup yang mau melayani tunawisma. Ia dikenang sebagai Rasul Ekaristi, pelindung kaum miskin.

Sejurus kata-kata berkat meluncur dari Paus Pius IX (1792-1878). “Tuhan memberkatimu!” sapanya kepada Pater Giuseppe Marello OSJ, sesaat sebelum Konsili Vatikan I dibuka (1869-1870). Di antara para bapa konsili dan peritus yang hadir dalam konsili ekumenis ke-20 ini, Pater Giuseppe terhitung sebagai salah satu peritus termuda yang hadir bersama Uskup Asti, Italia, Mgr Savio Carlo (1811-1881).

Kendati berstatus imam muda, Pater Giuseppe aktif menyumbangkan ide demi kemajuan Gereja. Imam kelahiran Bakers, Turin, Italia, 26 Desember 1844 ini menanggapi positif Bulla Aeterni Patris, ‘Bapa yang Kekal’ oleh Paus Pius IX. Ia selalu menyatakan persetujuan akan adanya Konstitusi Dei Filius (Konstitusi Dogmatis tentang Iman) dan Konstitusi Pastor Aeternus (Konstitusi Dogmatik Gereja mengenai Kristus). Soal konstitusi kedua, Pater Giuseppe sangat setuju tentang infalibilitas Uskup Roma alias Paus.

Sebanyak 60 Bapa Konsili memilih abstain soal infalibilitas Paus. Namun, Pater Giuseppe menyarankan Mgr Savio untuk menyetujui hak istimewa Paus ini. Baginya, definisi infalibilitas bukan soal Paus tidak bisa salah, melainkan hal ini tidak seharusnya menjadi dogma resmi Gereja sebab bisa menyebabkan eksklusivisme Gereja dan iman umat. Penghargaannya yang tinggi terhadap Paus sebagai Wakil Kristus membuat ia akhirnya terpilih sebagai Gembala Keuskupan Acqui, sebuah keuskupan yang banyak umatnya berstatus tunawisma.

Si Pastor Belia
Sejak kecil, Giuseppe dikenal sebagai anak saleh. Orangtuanya, Vincenzo Morello dan Anna Maria Viale, menanamkan kesalehan hidup Kristiani sejak kecil. Giuseppe dikenal sebagai anak yang setia dan disiplin menjalankan keutamaan Kristiani. Ia begitu mencintai Ekaristi dan Rosario. Rosario menjadi doa hariannya. Ia sangat mencintai tradisi devosi kepada Bunda Maria ini.

Giuseppe yakin, setiap kali mendaraskan doa, Tuhan pasti akan selalu mengabulkannya. “Rosario adalah ringkasan Injil masa kecilnya. Setiap kali ia berdoa Rosario, ia merenungkan kisah Yesus dalam Injil,” kisah wali baptisnya, Chiaffredo dan Teresa Secco, dalam biografi Giuseppe. “Giuseppe ingin seperti para imam yang merayakan Ekaristi,” lanjut Teresa.

Panggilan menjadi imam pun tak terbendung lagi. Usai menerima Komuni Pertama dari Uskup Asti, Mgr Filippo Artico (1798-1859) pada 15 Agustus 1855, Giuseppe menyatakan niatnya untuk menjadi imam, meski umurnya belum cukup. Ia sering bermain misa-misaan dengan berperan sebagai imam di rumahnya. Sebuah meja kecil ia sulap sebagai altar. Ia mengundang orangtua dan Vittorio, sang kakak untuk menghadiri perayaan itu. Bila ajakannya ditolak, ia mengundang para tunawisma dengan iming-iming memberi mereka makan. Tak terhitung banyaknya tunawisma yang mendengarkan khotbahnya. Para tetangga pun kerap memanggilnya “Si Pastor Belia”.

Pada 5 April 1848, sang ibu meninggal dunia. Vincenzo lalu membawa Giuseppe dan Vittorio ke San Martino Alfieri pada 1852. Setidaknya, sang bungsu bisa sembuh dari “kegilaan rohaninya”, pikir Vincenzo. Sayang, harapan itu tak sejalan dengan kenyataan. “Si Pastor Belia” terus melanjutkan “ritual ekaristi” di rumah. Sang ayah tak patah arang; ia selalu mencari berbagai kesibukan agar si anak lupa pada cita-citanya. Tapi semua usaha itu percuma karena Giuseppe terlanjur jatuh cinta pada Kurban Kristus di altar.

Tahun 1863 menjadi momen bersejarah bagi keluarga Morello. Tiba-tiba Giuseppe terserang tifus yang mengancam nyawanya. Sang ayah tak kuasa menahan sedih atas sakit yang diderita si buah hati. Maka ia pun bernazar, “Bila anakku sembuh, aku akan merelakannya menjadi imam!” Tak disangka, keesokan harinya, Giuseppe sembuh dan kembali menyatakan niatnya masuk seminari.

Peritus Konsili
Sewaktu di Seminari Alfieri, Giuseppe sangat tertarik dengan spiritualitas Ordo Cartusiensis (OCart), yaitu Stat Crux Dum Voltitur Orbis, ‘Saat dunia tak menentu, salib yang menentukan’. Spiritualitas Kartusian ini dirasa cocok untuk menghidupi semangat Ekaristi dan Rosario. Namun, Mgr Savio menyarankannya untuk menjadi imam Diosesan Asti. Pada 9 Januari 1864, ia mulai mengenakan jubah; dan pada 21 Desember 1967, ia menerima tonsura dan semua tahbisan rendah (lektor dan akolit). Lalu ia ditahbiskan subdiakon pada 28 Maret 1968 dan pada 6 Juni 1968, ditahbiskan diakon. Akhirnya, ia ditahbiskan imam pada 19 September 1868 di San Martino Alfieri.

Bagi Mgr Savio, imam muda ini tak hanya unggul dalam hidup rohani, tapi juga punya kemampuan administrasi yang bagus. Ia sangat teliti, tertib, dan ulet. Kemampuan ini membuatnya diangkat sebagai sekretaris Mgr Savio pada 1968-1881. Selain sekretaris, ia diperbantukan di Katedral St Maria Assumpta Asti.

Baru dua tahun menjadi sekretaris Uskup, Konsili Vatikan I diundangkan. Mgr Savio hadir sebagai Bapa Konsili. Ia pun meminta Pater Giuseppe untuk mendampinginya ke Roma. Pada 21 November 1869, mereka tiba di Roma. Pater Giuseppe begitu supel dan langsung bisa berbaur dengan para Bapa Konsili. Ia bahkan bersua secara pribadi dengan Kardinal Vincenzo Gioacchino Raffaele Luigi Pecci, yang kala itu menjabat Camerlengo. Kardinal Luigi, tertarik dengan ide-idenya, terlebih soal gerakan liberalisme, rasionalisme, dan materialisme yang saat itu berkembang.

Selain Kardinal Luigi, Pater Giuseppe juga sempat bertemu Paus Pius IX. Pola pikir dan gaya hidup imam muda ini memberi kesan positif bagi Bapa Suci. Ia kembali ke Asti pada 1870 dan delapan tahun kemudian, Kardinal Luigi terpilih sebagai Paus Leo XIII (1810-1903), menggantikan Paus Pius IX.

Pater Giuseppe terus menjadi abdi setia Mgr Savio. Kamu terpanggil, kata Mgr Savio, bukan hanya menjadi imam, tapi menjadi imam bagi orang miskin. Kata-kata ini mendorong hatinya untuk mendirikan Kongregasi Oblat Santo Joseph dari Asti (Oblates Josephines of Asti/OSJ) pada 14 Maret 1878. Teladan suami Maria telah menggerakkan jiwa lembaga religius Gereja Lokal ini untuk terus melayani orang miskin. Dari “Rumah Pertukangan”, OSJ berkembang menjadi lembaga religius yang diakui kepausan pada 15 September 1920.

Uskup Tunawisma
Setelah OSJ berkembang, berita duka menghampiri. Mgr Savio wafat, sehingga Keuskupan Asti pun mengalami sede vacante. Pater Giuseppe adalah calon yang digadang-gadang menggantikannya. Tapi Paus Leo XIII justru mengangkat Mgr Giuseppe Ranco (1825-1898).

Sementara itu, Keuskupan Acqui juga dalam kondisi sede vacante, usai wafatnya Mgr Giuseppe Maria Sciandra (1808-1888). Berkat rahmat Ilahi, Pater Giuseppe ditunjuk melanjutkan suksesi penggembalaan Keuskupan Acqui pada 11 Februari 1889. Ia ditahbiskan Uskup Acqui oleh Imam Agung Basilika St Yohanes Lateran, Kardinal Raffaele Monaco La Valletta (1827-1896), didampingi Uskup Agung Chieti, Mgr Rocco Cocchia OFMCap (1830-1901) dan Staf Kuria Roma, Mgr Ignazio Camillo Guglielmo Maria Pietro Persisco OFMCap (1823-1895).

Mgr Giuseppe terus mencintai Ekaristi dan setia melayani orang miskin. Jiwa kebapakan dan kerendahan hati membuatnya sangat dicintai umat. Dialah Uskup yang gemar blusukan ke tengah permukiman kumuh hingga tutup usia di Savona, Italia, 20 Mei 1895.

Proses penggelaran kudusnya dibuka pada 28 Mei 1948. Paus Paulus VI menggelarinya venerabilis pada 12 Juni 1978. Ia dibeatifikasi pada 26 September 1993 di Keuskupan Asti oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005). Banyak peziarah terus memadati makamnya untuk berdoa. Banyak pula mukjizat terjadi. Tahun 1995, Alfredo dan Isilia Chaves León, dua anak asal Italia mengalami mukjizat kesembuhan dari penyakit broncho-pulmonitis serta kekurangan gizi, sesaat usai berdoa melalui perantaraan Mgr Giuseppe. Mukjizat ini melapangkan jalan kanonisasinya. Ia dikanonisasi di Lapangan St Petrus Vatikan oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II, 25 November 2001. “Giuseppe selalu belajar menjadi kecil agar yang miskin menjadi besar. Ia menjadi ‘mutiara’ bagi para tunawisma,” khotbah Bapa Suci seperti dilansir www.catholicherald.com.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*