Artikel Terbaru

Menepis Godaan Untuk Berpindah Agama Bagi Penyandang Tunarungu

Prokatin Chapter Semarang bersama Mgr Johanes Pujasumarta.
[NN/Dok.Pribadi]
Menepis Godaan Untuk Berpindah Agama Bagi Penyandang Tunarungu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Penyandang tunarungu sangat rentan tergoda imannya. Tawaran menggiurkan sering datang, dengan syarat mereka mau menanggalkan iman Katolik.

Cerita bermula sekitar 30-an tahun lalu, ketika Tjokrodiningrat bertugas sebagai pembimbing katekumen di Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, ia ditunjuk sebagai pembimbing katekumen bagi penyandang tunarungu.

Pendampingan iman untuk penyandang tunarungu membutuhkan kesabaran yang tidak biasa. Karena keterbatasan dalam komunikasi, mereka lambat dalam menangkap setiap kata yang diucapkan orang normal. Seharusnya, umat memahami keberadaan penyandang tunarungu sebagai bagian dari Gereja.

Tjokro menjawab tantangan ini dengan menyediakan waktu dan cinta untuk mendampingi mereka yang sering kali dilupakan. Lewat Prokatin, Tjokro menunjukkan bahwa Gereja ada untuk mereka, dan Gereja terbuka sebagai rumah tempat mereka bisa menjadi satu dalam keluarga Allah.

Menyeberang
Setelah beberapa kali bertatap muka, para penyandang tunarungu itu merasa memiliki kedekatan dengan Tjokro. Mereka seakan mendapatkan sentuhan dari Gereja berkat kehadiran Tjokro dalam setiap sesi katekumen. Kedekatan inilah yang lantas menjadi alasan diadakannya sebuah pertemuan di rumah Tjokro.

Mereka bercerita, sering merasa “gersang” ketika mengikuti perayaan Ekaristi. Selama ini, mereka tidak mampu menangkap maksud yang disampaikan dalam Misa. Mereka semakin merasa terabaikan sebab tak ada satu pun umat yang menyapa mereka setiap kali keluar dari gereja.

Mendengar cerita mereka, Tjokro pun maklum. Umat biasa dan para penyandang tunarungu ini terhalang dari segi komunikasi. Para penyandang tunarungu yang datang bukan hanya yang menempuh pendidikan di SLB, tetapi ada juga yang tidak menempuh pendidikan sama sekali. Beberapa diantaranya bahkan bukan pemeluk Katolik, namun tertarik mendalami iman Katolik.

Bertambah tahun, kegiatan Tjokro bersama penyandang tunarungu itu semakin berkembang. Mereka yang ingin memperoleh penyegaran iman dari Tjokro semakin bertambah. Tjokro lantas mengajak beberapa teman lain, seperti Hendrikus Michael Budhi Santoso dan Richardus Brotoyono untuk ikut terlibat. Selain itu, ada beberapa relawan lain yang bersedia membantu Tjokro dalam karya kerasulannya.

Inilah yang kemudian menjadi awal terbentuknya Pelayanan Iman Rohani Katolik Tunarungu Indonesia (Prokatin) Chapter Semarang. Prokatin sendiri merupakan organisasi tingkat nasional, namun setiap daerah memiliki otonomi sendiri. Kegiatan Prokatin adalah bimbingan rohani dan menggelar Misa bagi penderita tunarungu.

Budhi menuturkan, banyak di antara umat Katolik yang kurang menghargai mereka. Hal ini menjadi salah satu sebab mengapa banyak dari mereka yang “menyeberang” dan meninggalkan iman Katolik. “Modusnya bermacam-macam, salah satunya dengan menawari pekerjaan. Apalagi, penyandang tunarungu termasuk yang bermasalah dari segi ekonomi.”

Pendanaan untuk menjalankan kegiatan dalam Prokatin Semarang juga menjadi tantangan bagi pendampingan iman penyandang tunarungu ini. Awalnya, dana berasal dari beberapa donatur di Semarang. Budhi mengisahkan, seiring berjalannya waktu, mereka berusaha mencari dana swadaya. Dalam hal ini, pendanaan kemudian diusahakan dengan berjualan makanan saat Misa Minggu kedua di Gua Maria Kerep Ambarawa. “Profit dari pencarian dana itu sebagian untuk kas komunitas, sisanya dibagikan pada penyandang tunarungu yang ikut berjualan,” kata Budhi.

Butuh Perhatian
Intensitas pertemuan dan kebersamaan yang semakin berkembang, menghadirkan kebutuhan akan adanya Romo moderator untuk Prokatin Semarang. Kebutuhan ini terjawab, ketika Romo Yustinus Joko Wahyu bersedia mendampingi mereka. Ia pun bersedia memimpin perayaan Ekaristi bagi komunitas ini.

Ketika itu, Romo Yuyun sedang bertugas di Paroki St Atanasius Agung Karangpanas, Semarang. Dalam dampingan Romo Yuyun, Prokatin Semarang menggelar Misa sebulan sekali. Supaya tidak jenuh, pembina Prokatin menawarkan kepada anggota yang rela menyediakan rumahnya sebagai tempat menggelar Misa.

Romo Yuyun pun lebih intens hadir di tengah-tengah umat penyandang tunarungu. Menurutnya, banyak penderita tunarungu yang semakin tipis imannya.

Umat lain yang tidak menderita tunarungu bahkan jarang yang menyapa para penyandang tunarungu ini. Romo Yuyun melihat, umat yang tidak menderita tunarungu juga kesulitan dalam hal komunikasi ketika harus mendampingi para penyandang tunarungu. “Selama ini, penyandang tunarungu sering dilihat sebagai masalah, bukan sebagai peluang. Padahal mereka juga bagian Gereja Katolik. Saya harap, umat tahu bahwa di Gereja juga ada umat yang berkebutuhan khusus.”

Seharusnya umat memahami keberadaan penyandang tunarungu sebagai bagian dari Gereja. Untuk itu, Romo Yuyun mendorong umat untuk memahami mereka. Romo Yuyun menegaskan bahwa para penyandang tunarungu membutuhkan perhatian yang sama seperti umat pada umumnya. “Hanya saja, mereka perlu diperlakukan dengan cara berbeda karena kekurangan mereka,” tegas imam diosesan Keuskupan Agung Semarang ini.

Komunikasi dengan penyandang tunarungu sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan orang. Romo Yuyun dan para pembina Prokatin Semarang telah membuktikan. Penyandang tunarungu dapat membaca gerak bibir. Dengan cara inilah mereka berkomunikasi. “Jadi, orang awam tetap bisa berkomunikasi dengan mereka.”

Tak jarang, Budhi dan teman-temannya sesama pembina sering kurang sabar. Walaupun begitu, Budhi mengaku, tidak lelah mendampingi mereka. “Di sinilah kami memperoleh sukacita. Dengan menemani mereka berarti juga melakukan kegiatan sosial, melakukan perbuatan baik bagi sesama,” ungkap Budhi.

Kerjasama
Saat ini, ada banyak komunitas penderita tunarungu yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Sebagian dari mereka adalah anggota Prokatin yang kemudian mendirikan komunitas sendiri. Tak jarang, komunitas-komunitas ini bersama-sama mengadakan kegiatan bagi sesama penyandang tunarungu.

Bagi Budhi, hal itu bukanlah masalah. Menurutnya, Prokatin tidak bersaing dengan sesama komunitas pendamping tunarungu lainnya. “Kami saling melayani, antara satu komunitas dengan komunitas yang lain, ” ungkapnya.

Dari waktu ke waktu, Budhi berusaha meningkatkan kepedulian tak hanya untuk para penyandang tunarungu, namun juga bagi para penyandang difabel secara umum. Tantangan ini semakin bertambah manakala banyak godaan yang datang kepada para penyandang tunarungu untuk berpindah agama. “Karena itulah, kami terus berupaya mengajak dan mendampingi kaum tunarungu Katolik agar tetap mendapat pembinaan iman,” tandasnya.

Anna Marie Happy

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*