Artikel Terbaru

Menyejukkan Iman Dengan Internet Oase

Maria Puspitasari.
[NN/Dok.HIDUP]
Menyejukkan Iman Dengan Internet Oase
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perkembangan internet menjadi peluang media baru dalam pewartaan Gereja. Renungan audio visual melalui internet pun hadir untuk menyejukkan iman umat.

Media berbasis internet menjadi salah satu sarana dalam pewartaan Firman Allah. Salah satu bentuknya berupa renungan audio visual melalui media berbasis internet. Menanggapi hal ini, HIDUP secara khusus mewawancara Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia, Maria Puspitasari. Simak kutipannya:

Bagaimana tanggapan Anda dengan kehadiran internet sebagai sarana pewartaan Gereja?

Masyarakat Indonesia semakin menjadikan internet sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, baik untuk mencari informasi, membeli barang, melakukan transaksi pembayaran, hingga mencari jodoh. Dalam situasi ini banyak kaum muda melihat hal ini sebagai peluang untuk berbagi melalui media berbasis internet, mengenai dirinya sendiri, informasi dan pengetahuan, termasuk pula tentang kegelisahannya.

Gereja sebagaimana diamanatkan oleh pimpinan hirarki tertinggi sejak masa Paus Yohanes Paulus II memberikan perhatian kepada internet sebagai saluran untuk pewartaan. Dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia 2002, berjudul “Internet Sebuah Forum Baru bagi Pewartaan Injil”, Paus Yohanes Paulus II menjelaskan secara konkret bahwa internet dapat menjadi peluang media baru bagi evangelisasi.

Sementara pada Januari 2014, UCA News merilis pernyataan Paus Fransiskus yang mencermati kehadiran internet dan media sosial yang bisa membuat orang di seluruh dunia “semakin saling tergantung dengan yang lain.”

Lalu, seperti apa tanggapan Anda dengan adanya renungan harian audio visual di internet?

Realitas sosial terkait dengan renungan harian melalui internet menunjukkan dinamika yang tidak terelakkan dan dinyatakan Paus sebagai suatu realitas yang patut disambut gembira. Berbagai macam renungan harian, di satu sisi dapat kita perhatikan sebagai perkembangan yang menggembirakan karena merefleksikan adanya kebutuhan umat untuk berbagi. Selain itu, renungan harian di internet bisa menjawab kebutuhan kaum muda untuk memperoleh informasi yang dapat mengisi ruang spiritual mereka.

Di tengah banjir informasi yang mengisi ruang publik yang kerapkali menyesatkan, renungan harian dapat menjadi oase yang menyejukkan. Renungan harian yang sangat beragam menjawab kebutuhan orang yang berbeda-beda.

Apakah pewartaan melalui internet ini efektif ?

Kita jangan melihat soal konteks efektif atau tidaknya, tetapi pada sisi bagaimana renungan harian melalui internet bisa menjawab kebutuhan kaum muda akan pewartaan, dan menjawab kebutuhan riil mereka di sela kepadatan waktu mereka dan di tengah kepungan informasi yang non-spiritual. Ada yang merasa cocok disapa dengan renungan harian versi A, yang lain lebih sreg dengan renungan yang lain. Sebagian mungkin merasa perlu berganti-ganti melihat beragam versi pada setiap waktu yang berbeda. Biarkan kaum muda menikmati beragam versi sebagai upaya mencari yang terbaik bagi mereka dan dapat mengisi kehausan mereka akan cahaya Allah dalam renungan harian.

Renungan harian melalui internet memiliki setidaknya dua makna. Pertama, menjawab kebutuhan zaman sekaligus menawarkan beragam pilihan kepada kaum muda. Kepada kaum muda jangan diberi satu jenis khotbah tertentu yang mungkin dapat membosankan pada satu titik. Kedua,membuka ruang dialog yang demokratis dan interaktif, karena melalui renungan harian, kaum muda bisa menyampaikan komentar, tanggapan, usulan, bagi para penulis renungan harian. Reaksi yang diperoleh menjadi ruang pembelajaran agar lebih kreatif dalam membuat renungan.

Apa harapan dengan adanya pewartaan melalui internet ini?

Melalui media berbasis internet, umat Katolik belajar berdialog terus menerus dalam merumuskan jawaban atas kehausan spiritual. Lewat proses dialog, umat menjadi bertumbuh dalam kemampuan untuk menghargai segala macam perbedaan yang ada di tengah masyarakat. Perbedaan bukan untuk dilawan, juga bukan penghalang untuk berdialog, melainkan peluang untuk memahami dunia yang plural dan berwarna, dan bahwa ada “banyak jalan mencapai Roma”.

Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*