Artikel Terbaru

Menyapa Umat Lewat Dunia Maya

Berusaha Konsisten: Tim Komsos Paroki MBK melakukan syuting renungan harian Romo Heribertus Supriyadi OCarm.
[HIDUP/Aprianita Ganadi]
Menyapa Umat Lewat Dunia Maya
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Renungan harian lewat smartphone beragam: audio, audiovisual, tertulis. Ada yang diproduksi secara profesional oleh relawan, ada pula yang amatiran oleh pribadi.

Pada mulanya, Romo Antonius Suhadi Antara selalu bangun subuh, pukul 04.00. Bukan karena terganggu oleh adzan yang dilantunkan dari Masjid Istiqlal yang berada di depan tempat tinggalnya, Wisma Keuskupan, Jakarta, tapi ia berkomitmen untuk membuat renungan harian (renhar) untuk disebarkan ke penggemarnya pagi itu pula. Ia merekam renhar itu terlebih dahulu, kemudian menyebarkan lewat smartphone-nya.

Kebiasaan ini kemudian berubah setelah ada sukarelawan yang siap membantu pengelolaan renhar audio itu. Kini Romo Antara harus mengirim bahan renharnya malam hari. Pokoknya tak boleh lebih dari pukul 24.00. Jika lebih, renhar tak bisa di-upload malam itu karena yang membantunya sudah tidur.

Pernah suatu kali, relawannya tak segera membuat link karena pagi-pagi ia harus mengantar anaknya ke sekolah. Akibatnya handphone Romo Antara pada pukul 06.00 kebanjiran pesan dari para pendengar yang ribut menanyakan kenapa renhar pagi itu belum datang.

Melayani Umat
Untuk merekam renhar, Romo Antara perlu tempat yang tenang. Pernah ia mencoba rekaman di toilet. Ia menaruh buku bacaan dan alat perekam di kloset, dan ia memberikan renungan sambil berlutut di depan kloset. Bayangannya, toilet tertutup rapat dan tak ada gangguan suara bising dari jalan di depan Wisma Keuskupan. Eh, ternyata hasilnya jelek. Suara bergema. Ia dikomplain oleh pendengarnya. Maka ia kembali merekam suaranya di ruang kerja atau kamar tidur. “Itu pun saya harus melihat waktu. Kalau tiba-tiba ada suara bising, bunyi motor, suara ketukan pintu, atau suara handphone,  rekaman terpaksa saya ulang,” ujarnya sambil tertawa. Itulah kendala Romo Antara dalam menyiapkan renhar yang ia buat sejak September 2008.

Awalnya, Romo Antara membuat renhar audio/voice note ketika masih bertugas di Paroki Kristus Raja Pejompongan. Ia menyebarluaskannya lewat jejaring mailing list. Pada 2009 ketika beredar Black Berry Messenger (BBM) Romo Antara memakai smartphone sebagai alatnya. Mula-mula ia menyebarluaskan dengan mengirim ke satu persatu kenalannya. Setelah ada fasilitas grup BBM, ia hanya mengirim kepada 20 kontak. Teman-temannya kemudian membantu menyebarluaskan ke grup mereka masing-masing.

Selain lewat smartphone, Romo Antara juga menggelar “jumpa pendengar”. Lewat “temu darat” 2009 itu para pendengar memberikan masukan agar renhar ditambah dengan tanda salib sebagai pembuka, doa, berkat perutusan, dan lain-lain. Bahkan Romo Antara suka melantunkan lagu rohani di acara itu.

Sekitar tahun 2010, ada pendengar renhar dari Jambi yang mau membantunya membuatkan link untuk memudahkan penyebarluasannya melalui aplikasi smartphone. Kerjasama itu kemudian dilanjutkan oleh umat Paroki St Lukas Sunter, Thomy Kurniawan Gunawan dengan membuat link renhar di website: drive.bitcasa.com; app.box.com; ptkumala.com; 1drv.ms; dan drive.google.com. Dengan link ini jangkauan penyebarluasan renhar bisa semakin cepat dan banyak. Awalnya hanya menjangkau 500 orang, dengan link ini bisa mencapai ribuan orang.

Para pendengar renharnya juga beragam. Dari anak-anak SD sampai Oma Opa. Kini sebarannya bukan hanya di Indonesia, tapi sudah menembus dunia. Pernah suatu hari Romo Antara mendapat pesan dari seorang pendengar dari pedalaman Papua yang menceritakan bahwa ia tidak setiap hari Minggu bisa mengikuti Misa karena gereja jauh. Pendengar itu selalu menyiapkan waktu dan tempat khusus untuk mendengarkan renhar Romo Antara. “Dengan mendengarkan renhar, rasanya sudah seperti mengikuti Misa. Lewat doa, khotbah dan berkat, ia sudah merasa menerima berkat langsung dari Romo,” kata Romo Antara menirukan curhat pendengarnya.

Selain Romo Antara, Romo John Laba Tolok SDB juga membuat renungan audio. Awalnya, Romo Jhon aktif membuat renungan tertulis di blog sejak Oktober 2011. Ia kemudian diperkenalkan oleh sahabatnya dengan Yovie Setiawan, pengelola dailyfreshjuice.net yang bermarkas di Denpasar, Bali. Pada Januari 2013, pengajar Seminari Tinggi Beato Michael Rua, Dili, Timor Leste ini menjadi anggota tim Fresh Juice dan mengisi renungan setiap hari Rabu.

Renhar Fresh Juice awalnya berupa refleksi Injil dalam bentuk cetak. Sejak 2012 mereka beralih ke renungan audio. Saat ini sudah banyak beredar smartphone, tablet dan komputer yang bisa dipakai untuk pewartaan.

Untuk membuat renhar, Fresh Juice memiliki tim beranggotakan 30 orang yang terdiri dari para pastor, pasutri, dan orang muda. Pengeditan dikerjakan seluruhnya di studio Fresh Juice Denpasar di bawah arahan Yovie Setiawan. Setelah renungan selesai diedit, ada tim distributor yang membagikannya kepada para pendengar melalui BlackBerr(BB), WhatsApp (WA), Twitter, Facebook (FB), dan juga ke website.

Bagi Romo Jhon membuat renhar Katolik tidaklah mudah. Ia harus membaca Kitab Suci, merenungkan Injil, dan membahasakannya dengan bahasa yang mudah dimengerti orang dari berbagai lapisan. Selain itu, pengisi renhar juga dituntut untuk kreatif menghidangkan Sabda Tuhan supaya bisa meneguhkan iman, “Dan bisa menjadi penyegar dahaga seperti fresh juice,” ungkapnya. Selain di Fresh Juice, Romo Jhon juga menjadi tim pembuat renungan audio Komunitas Pria Katolik sejak Oktober 2013. Renungan ini disebarluaskan lewat jejaring sosial dan website www.priakatolik.com.

Renungan Audiovisual
Tim Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat, melangkah lebih canggih karena menyebarluaskan renhar audiovisual. Renungan berbentuk gambar dan suara seperti tayangan televisi itu diasuh langsung oleh Pastor Paroki MBK, Romo Heribertus Supriyadi OCarm.

Dalam proses produksinya, tim melibatkan banyak sukarelawan yang paham betul di bidang broadcasting dan produksi televisi, dan kelompok lektor dan pemazmur. “Di balik dari renungan dan bacaan ini, ada kolaborasi dari berbagai komunitas yang bekerjasama secara konsisten,” ujar Romo Heri.

Dalam proses pembuatan renhar, Romo Heri mempercayakan produksinya kepada tim Komsos. Ia menyediakan diri sebagai pembuat renungan. Untuk itu, Romo Heri selalu siap untuk proses syuting yang sering diadakan setelah pukul 22.00. Ia sendiri sudah selesai melakukan pelayanan, sementara timnya juga sudah selesai dari tugas kerjanya. “Ketika syuting, saya berusaha natural. Risikonya, kadang kepanasan dan kelelahan apalagi harus diulang-ulang,” ungkapnya. Biasanya syuting dilakukan selama dua jam untuk produksi rata-rata tujuh renungan. Durasi renungan rata-rata 5-10 menit per episode.

Pembuatan renhar audiovisual itu, menurut Ketua Komsos Paroki MBK, Agustinus Dwianto Setiawan, muncul dari ide Romo Lamtarida Simbolon OCarm yang pernah bertugas di MBK. Romo Lam mengingatkan bahwa website paroki, khususnya konten audio visual seperti mati suri. Maka, ia menganjurkan agar tim website mengaktifkan dengan membuat renhar audiovisual. Tawaran itu disambut oleh para pastor. Mereka bergiliran tampil membawa renungan.

Renhar audiovisual itu diluncurkan pada perayaan ulang tahun Paroki MBK ke-41, November 2013. Renhar di-upload di Youtube dan link-nya dimasukkan ke website paroki. Tiga bulan kemudian terjadi lonjakan pengunjung. “ Website kami sempat down karena pengunjungnya terlalu banyak,” ujarnya. Pelanggan renhar audiovisual MBK kebanyakan dari Jawa dan Sumatera. “Ini semua karya pelayanan untuk Gereja,” kata Agustinus.

Di Surabaya ada komunitas Yakobis TV yang membuat renungan audiovisual yang di-upload di  Youtube. Mereka memulai pelayanan 30 Juli 2012. Renungan hanya ditampilkan setiap Jumat oleh para pastor Kongregasi Misi (CM). Siaran lainnya berupa video kegiatan promosi nilai cinta kasih. “Ke depan, semoga Yakobis TV bisa menyuguhkan renungan harian,” kata moderator Yakobis TV Romo Stephanus Rudy Sulistijo CM.

A. Nendro Saputro

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*