Artikel Terbaru

Mukjizat Tuhan Penyelamat Nyawa Akibat Usus Tersayat

Tuhan Baik: Erni dan Sugiri usai operasi di Singapura.
[NN/Dok.Pribadi]
Mukjizat Tuhan Penyelamat Nyawa Akibat Usus Tersayat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tindakan dokter yang tak sengaja menyayat ususnya waktu operasi, menyebabkan nyawa Erni nyaris tak tertolong. Ia percaya mukjizat Tuhan senantiasa mengiringinya.

Baru beberapa hari pulang dari Pontianak menghadiri pemakaman bapak mertua, Jean de’ Arc Erniwati masuk rumah sakit (RS) di wilayah Jakarta Timur. Istri Laurentius Sugiri Willim ini merasakan perut dan kakinya membesar.

Beberapa hari sebelumnya Erni terserang typhus. Dokter yang memeriksanya terkejut melihat perut Erni yang besar. “Sebaiknya periksa perutmu,” ujar dokter itu, namun Erni menolak. Dia hanya minta obat untuk mematikan penyakit typhus.

Sembuh dari typhus, ia terkena demam berdarah. Lagi-lagi Erni harus ke RS. Saat dokter menekan perutnya, dokter meminta Erni untuk tes ultrasonografi (USG). Dokter menduga ada tumor. Hasil USG menyatakan ada kista di perut Erni.

Empat Lubang
Erni mantap akan mengangkat kistanya. Dokter yang bakal menangani pun telah ia tentukan. Ia yakin operasi akan berjalan baik. Sebab, selain punya jam terbang tinggi, terkenal, dokter itu terbukti mumpuni saat mengoperasi tantenya.

Bersama suami, Erni pergi ke RS. Pada Juli 2013, pukul 07.00 WIB, perempuan kelahiran Jakarta, 21 Desember 1970 itu dibawa masuk ke ruang operasi. Saat beradu pandang dengan sang suami, Erni tersenyum. Ia yakin proses pengangkatan kista akan berjalan lancar. “Operasi seperti ini paling lama dua jam,” tutur perawat kepada Sugiri.

Operasi berjalan molor. Empat jam Erni berada di ruang operasi. Alih-alih rampung, Sugiri justru mendapat jawaban getir dari dokter. Kendati operasi kista berhasil, dokter tak sengaja menyayat usus sang istri hingga berlobang. Ada empat lobang, dua di usus kecil dan dua di usus besar. “Jangan kuatir, saya sudah berkoordinasi dengan dokter usus untuk menangani dia,” pesan sang dokter, santai.

Satu setengah jam Sugiri menunggu kedatangan dokter usus. Sang istri tergolek tak sadarkan diri di ruang operasi. Perutnya masih menganga. Begitu dokter usus tiba, ia mengatakan, hanya bisa menjahit lubang kecil sedangkan lubang besar harus dipotong. Selain itu, usus besar yang ke dubur dipotong dan dilubangi, sehingga pembuangan melalui usus di luar perut.

Dokter membutuhkan waktu selama 11 jam untuk mengurus perut Erni. Pasca operasi, Erni masih menjalani perawatan selama sepuluh hari di RS. Sugiri selalu berada di dekat istrinya. Beberapa hari usai operasi, perut Erni kembali membesar. Sugiri melaporkan kejadian itu kepada dokter kandungan dan usus. Kedua dokter itu malah saling berlawanan pendapat. Dokter kandungan memasukkan kain kasa dengan Betadine ke dalam luka bekas operasi. Sementara dokter usus sangat menentang metode tersebut. Ia memasukkan selang ke usus Erni. Begitu benda tersebut masuk, cairan mengalir deras. Perut Erni pun mengempis.

Hari kesepuluh, dokter mengizinkan Erni kembali ke rumah. Malang, cairan dari usus Erni keluar lagi. Setiap ingin buang air, perbannya selalu basah. Sugiri kembali menghubungi RS. Dokter kandungan memberi jawaban yang tidak bersahabat. Ia lantas menghubungi dokter usus. Sang dokter minta mereka ke Bekasi, tempat praktiknya.

Tiba di RS di Bekasi, Erni kembali diperiksa. Besok pagi, ia masuk ruang operasi. Empat jam perutnya dibelek. Dalam waktu dua minggu, Erni dua kali menjalani operasi besar.

Gerak Cepat
Usai operasi kedua, Erni menginap empat hari di RS. Selama di sana, dokter menyuruhnya rajin jalan dan makan makanan seperti biasa. Ia mempraktikkan pesan dokter ini juga selama di rumah. Namun cairan keruh masih keluar dari ususnya. Sang suami memberikan contoh cairan Erni kepada temannya, dokter di Kemayoran. Melihat cairan itu dokter itu yakin usus Erni masih bermasalah. Keyakinan itu diperkuat dengan hasil uji laboratorium. Menurut dokter, cairan yang keluar dari usus Erni mengandung zat-zat makanan. Usus Erni masih bocor sehingga segala sesuatu yang dikonsumsinya akan keluar lagi. “Cepat bawa istrimu ke Singapura. Ini menyangkut nyawa!” perintah temannya.

Dengan hanya Rp 3,5 juta uang di kantong ia membawa istri ke Singapura. Kartu kredit mereka sudah overlimit. Beruntung ada kakak sepupu yang membantu biaya perjalanan dan RS. Di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Erni berusaha menyembunyikan geringnya dari petugas sebab jika petugas bandara tahu, ia tak bisa ikut jadwal penerbangan reguler dan harus menyewa pesawat khusus sekitar Rp 200 ju ta. Di atas udara, Erni mengendus bau tak sedap. Sumber aroma datang dari cairan ususnya. Demi menetralisir bau, mereka membuka dan mengoleskan balsem di tubuh Erni.

Dokter di RS Singapura kaget melihat kondisi Erni. Ia heran mengapa dokter memperlakukan pasiennya seperti itu. Saat dokter menekan perut Erni, buih keluar dan bau busuk menyerbu seluruh isi ruangan. Erni menganalogikan, jika perutnya seperti tape maka sudah mengalami fermentasi.

Dokter belum bisa bertindak. Ia harus mengetahui rekam medis dari Indonesia. Namun laporan itu tak bisa ia baca. Dokter Singapura menelpon dokter usus di Bekasi namun terkendala bahasa. Beruntung ia mendapat laporan melalui email. Dia lantas memberi Erni obat. Jika hasil positif, maka tidak perlu operasi. Tetapi kondisi pasiennya tak kunjung membaik. Ia segera mengoperasi Erni. Operasi selama lima jam itu berjalan lancar. Dokter menemukan satu lubang di usus kecil yang belum terjahit.

Kondisi umat Paroki St Gabriel Pulogebang, Jakarta Timur itu berangsur pulih dan bisa kembali ke tanah air. Namun, suami-istri itu gamang karena tak punya biaya untuk kembali ke Singapura untuk operasi penyambungan usus . Sugiri lantas menjual tanah. Namun, jelang keberangkatan, tanah belum laku.

Sugiri bingung. Ia memberanikan diri untuk meminjam uang perusahaan. Syukur, pemilik perusahaan mengabulkan permohonannya. Namun, ia berjanji untuk mengembalikan pinjaman dalam waktu tiga bulan. “Setiap malam, saya dan istri berdoa agar kami bisa menepati janji dan menjaga kepercayaan orang lain,” ucap Sugiri.

Suami-istri itu akhirnya bisa kembali ke Singapura untuk menyambung usus. Normalnya proses penyambungan usus besar dan kecil tidak bisa serempak, ada jeda sekitar tiga bulan. Namun mengetahui kondisi Erni yang bugar, dokter menyambung dua usus bersamaan dan ternyata berhasil! Mukjizat.

Pulang ke Indonesia, Sugiri mendapat berita baik, tanahnya terjual dengan harga bagus. Ia bisa membayar hutang ke perusahaan tepat waktu. Erni mengakui, selama ini dia merasa mampu mengerjakan segala sesuatu sendiri. Kini ia sadar, jika tidak ada sang suami, nyawanya sudah hilang. Sementara itu, Sugiri merasakan, Tuhan selalu menyediakan segala sesuatu yang tak terpikirkan olehnya. Tuhan mengirimkan kakak sepupu Erni untuk kami. Berkat bantuannya, dia bisa membawa sang istri ke Singapura. Tuhan juga menyelamatkan Erni lewat dokter di Singapura, padahal mereka sudah lelah, nyaris putus asa dan keluar banyak biaya.

Sugiri yang seorang pelukis ini percaya, mukjizat Tuhan telah menyelamatkan nyawa sang istri. Lukisan yang ia titipkan di galeri di Singapura selama dua tahun tiba-tiba terjual pada saat ia membutuhkan banyak uang untuk biaya akomodasi, operasi dan perawatan. “Coba, kurang baik apa Tuhan pada saya?” kata Sugiri.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*