Artikel Terbaru

Merawat Bangsa

Merawat Bangsa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menurut data sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, di Indonesia terdapat 1.340 suku bangsa. Suku Jawa menjadi suku terbesar dengan jumlah sekitar 41 persen dari total populasi yang hidup di tanah Jawa dan jutaan lainnya tersebar ke berbagai pulau di Nusantara. Disusul kemudian dari suku Sunda, Batak, dan Madura yang termasuk dalam bagian suku terbesar dan sukusuku lain yang hidup di berbagai pulau. Juga masih ada banyak suku-suku kecil dan terpencil di Kalimantan dan Papua yang beranggotakan ratusan orang yang menunjukkan betapa beragamnya bangsa Indonesia.

Pendukung keragaman juga datang dari agama dan aliran kepercayaan. Sampai sekarang, masih ada enam agama besar dan beberapa aliran kepercayaan yang masih hidup, seperti aliran Aluk Todolo di Toraja, Sunda Wiwitan di Jawa Barat, Agama Djawa Sunda di Kuningan Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Parmalim di Sumatera Utara, Kaharingan di Kalimantan, Marapu di Sumba, dan berbagai aliran kepercayaan lain. Para penganut aneka agama dan kepercayaan ini semakin menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang sungguh multikultur.

Pada Agustus ini, bangsa yang multikultur ini merayakan hari ulang tahun kemerdekaan ke-72. Bukan usia yang muda lagi. Jika dibandingkan dengan beberapa penguasa atau pemerintahan di Nusantara, umur negara Indonesia saat ini masih terbilang muda. Kerajaan Majapahit yang wilayahnya konon hampir sama dengan Indonesia bisa mencapai umur 207 tahun (1293-1500). Sedangkan Kerajaan Galuh yang ada di sekitar Jawa Barat dan Jawa Tengah bahkan diperkirakan bisa mencapai umur 916 tahun (612-1528). Sedangkan kekuasaan dari luar yang terlama berkuasa di Nusantara adalah VOC. Mereka mengendalikan beberapa wilayah Nusantara selama 198 tahun (1602 -1800) dan akhirnya runtuh sama dengan beberapa kerajaan-kerajaan lain yang pernah hidup. Apakah negara Indonesia bisa bubar? Jika warga atau pemerintahannya tidak peka untuk merawat bangsa ini, bisa jadi negara ini akan runtuh pada masa depan.

Sebuah keruntuhan pemerintahan biasanya dibarengi dengan korban yang jumlahnya tidak sedikit. Tentu saja, kita tidak menginginkan hal ini terjadi. Tugas kita sebagai warga negara yang harus menjaga kelestarian bangsa ini. Dan sebagai umat Katolik, tentu kita masih ingat semboyan Mgr A. Soegijapranata, “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia”. Semboyan itu mengingatkan kita untuk terus ikut serta menjaga dan merawat Indonesia supaya bisa tetap berdiri.

Selain semboyan Mgr Soegijapranata, para Bapa Konsili Vatikan II juga telah mengingatkan umat Katolik agar bersedia menjaga persatuan dan perdamaian bangsanya seperti yang tertuang dalam Gauidium et Spes (GS). “Memang banyak dan bermacam-macam orang yang berhimpun mewujudkan negara dan dapat secara wajar merasa condong kepada pelbagai pendapat. Maka supaya jangan sampai karena masing-masing mengikuti pandangannya sendiri dan membuat negara itu terpecah belah maka diperlukan kewibawaan yang mengarahkan daya kemampuan semua warganya kepada kesejahteraan umum tidak secara mekanis atau otoriter melainkan terutama sebagai kekuatan moril yang bertumpu pada kebebasan dan kesadaran akan kewajiban serta beban yang telah mereka terima sendiri,” (GS art. 74). Dirgahayu negeriku, lestari bangsaku!

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*