Artikel Terbaru

Jangan Kehadirannya Nol Tetapi Gajinya Pol Untuk Pendidikan Anak Di Pedalaman

Kasih untuk negeri: Henny Kristianus dan suaminya bersama anak-anak pedalaman Papua.
[NN/Dok.YTP]
Jangan Kehadirannya Nol Tetapi Gajinya Pol Untuk Pendidikan Anak Di Pedalaman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di pedalaman, ada rumah ibadah megah di tengah masyarakat yang terbelakang. Henny Kristianus mendirikan 40 pusat layanan untuk pendidikan 4000 anak pedalaman.

Sia-sia membangun gereja dan masjid mewah, jika di sekitarnya masih banyak orang miskin dan anak-anak yang hidup tanpa pendidikan.” Pernyataan ini dikemukakan Henny Kristianus saat para guru dari Papua Selatan diwisuda di Kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, dua bulan lalu.

Kekecewaan Henny bukan tanpa dasar. Sembilan tahun berjerih sebagai aktivis pendidikan bagi anak-anak pedalaman, cukup membuka matanya. Di beberapa tempat, Gereja masih jauh dari panggilan untuk hadir dan berjuang bersama orang miskin.

Kamis tiga pekan lalu, Henny berbagi cerita seputar aktivitasnya. “Maaf sedikit terlambat, karena saya bersih-bersih rumah dulu, saya baru tiba dari Timika,” ujarnya. Tiap bulan, minimal sekali, Henny berkunjungan ke daerah. Pedalaman Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, hingga Mentawai di Sumatera Barat adalah tempat yang saban kali ia sambangi.Ia membawa misi mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Ke Pedalaman
Semula, Henny bukanlah orang yang suka bepergian ke pedalaman. Ia lahir di Jakarta, sekolah di Pangkalpinang, kemudian kuliah di Sydney, Australia. Usai kuliah, ia menikah dengan Yoanes Kristianus dan tinggal di Negeri Kanguru itu. Namun semua berubah ketika ia berlibur ke Indonesia, Januari 2006. Saat hendak dijemput suami, Henny enggan kembali ke Australia. “Saya merasa ada sesuatu yang mesti saya kerjakan di sini. Saya harus tinggal di Indonesia!” katanya.

Kehendak Henny dikabulkan sang suami. Bisnis dan kehidupan yang sudah tertata selama 10 tahun di Sydney, ditinggalkan. Pulanglah ia ke Indonesia. Atas bantuan seorang sahabat, ia dan suami mendapat tugas menangani sebuah gereja di Bandung, Jawa Barat.

Di sekitar rumahnya di Bandung, banyak anak yang hanya bermain sepanjang hari karena tak punya uang untuk sekolah. Kepada mereka, Henny berinisiatif mengajarkan bahasa Inggris. “Pelajaran gratis, dapat makan pula,” ujarnya bercerita. Di mulai dengan lima anak, jumlah terus bertambah.

Awal 2007, Henny bersama keluarga hijrah ke Jakarta. Kemudian ia berkenalan dengan Joyce Meyer Ministries, sebuah lembaga yang memiliki misi memberi makan anak-anak miskin lewat program Hand of Hope. “Saya ambil itu karena nyambung dengan niat hati ingin berbuat sesuatu bagi Indonesia.”

Kegiatan Henny memberi makan anak-anak miskin dimulai dari Jakarta. Delapan titik pelayanan didirikan melayani sekitar 300 anak. Tapi, Henny sadar anak-anak jalanan Jakarta mempunyai sistem sendiri. Analisanya, anak-anak jalanan Jakarta dikendalikan preman dan orangtua. Tiap hari, uang yang mereka peroleh dari mengemis diserahkan kepada preman atau orangtua. Henny pun memilih menghentikan bantuan. “Saya tak punya waktu, tenaga, dan uang yang banyak. Saya harus mencari orang-orang yang tepat untuk dibantu,” ujar ibu tiga anak ini.

Ia beranjak ke timur. Tempat pertama yang ia jumpai adalah Halmahera, pulau terbesar di Provinsi Kepulauan Maluku. Pelayanan Henny terus bergeser ke timur, Biak, Papua, lalu ke Manokwari, masih di Papua. Di kedua tempat ini, ia menemukan guru hanya datang ke sekolah sebulan sekali. Para guru lebih memilih tinggal di kota. “Bagaimana pendidikan anak bisa jalan, kalau kondisi seperti ini? Kehadirannya nol, gajinya pol!” kata Henny.

Kondisi ini tak membuat Henny patah arang. Melalui Yayasan Tangan Pengharapan (YTP) yang ia dirikan pada 2007, Henny melebarkan sayap pelayanan ke NTT, Sumatera, dan Mentawai. Sementara di Jawa, ia mendampingi sekitar 80 anak miskin di daerah Grobogan, Jawa Tengah. Kini, sudah berdiri 40 pusat layanan di berbagai pedalaman Indonesia dan mengayomi lebih dari 4000 anak miskin. Di setiap pusat layanan terdapat dua guru, total sekitar 100 guru dimiliki YTP. Lewat YTP, Henny juga mengadakan pelayanan kesehatan dan menganimasi hidup sehat.

Kehadiran Gereja
Keluar masuk desa menghantar Henny masuk ke dalam pengalaman miris. Di daerah tertentu, bangunan gereja megah berlantai keramik. Tapi, hidup masyarakat sekitar gereja megap-megap karena kemiskinan. Pendidikan jadi barang mahal bagi anak-anak. “Saya tidak mengatakan bahwa Rumah Tuhan harus jelek. Tapi gereja yang sebenarnya adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka inilah yang mesti diberdayakan, di-bikin hidupnya jadi lebih baik,” ujar perempuan kelahiran 37 tahun silam ini. Henny berniat akan selalu kritis terhadap Gereja.

Dalam pelayanan, Henny tak tergerak mendirikan gereja. Ia hanya ingin berbagi cinta kasih dengan mendidik anak-anak. Pilihan ini yang mesti di sadari generasi muda sekarang. “Terkadang, orang-orang lebih peduli dengan urusan agama daripada membentuk generasi masa depan yang cerdas. Padahal semua agama mengajarkan cinta, kasih, kesejahteraan, integritas, dan hal-hal baik yang lain.”

Agar masa depan bangsa ini cerdas, Henny mengusulkan agar pemerintah mendirikan lebih banyak sekolah, menerjunkan guru hingga ke pedalaman dengan pengawasan yang ketat. “Jangan seperti kejadian selama ini, guru jadi pilihan terakhir ketika lamaran kerja ditolak di mana-mana.”

Stefanus P. Elu

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*