Artikel Terbaru

Romo Zoetmulder

Romo Zoetmulder
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini terasa istimewa. Dua imam menerima penghargaan dari pemerintah. Dua imam itu yakni Romo Franz Magnis-Suseno SJ dan almarhum Romo Petrus Josephus Zoetmulder SJ. Sosok Romo Magnis sudah terlampau dikenal berbagai kalangan. Tapi, siapa Romo Zoetmulder? Mengapa ia layak mendapat Bintang Budaya Paramadharma?

Pada masa sekarang, mencari biodata Romo Zoetmulder sangat mudah. Ahli sastra Jawa dengan magnum opus “Kalangwan” dan “Manunggaling Kawula Gusti” ini wafat pada 8 Juli 1995 dalam usia 89 tahun. Ia lahir di Belanda, 29 Januari 1906. Sejak tahun 1950-an, Romo Zoetmulder memilih menjadi warga negara Indonesia. Seperti para imam dari Eropa yang lain, Romo Zoetmulder merasa nyaman tinggal di Indonesia hingga akhir hayat.

Saya memang tidak mengenal Romo Zoetmulder. Perbedaan usia yang terlampau jauh membuat saya hanya sekilas berjumpa dengan dia. Padahal Romo Zoetmulder pernah berkarya cukup lama di Paroki Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta. Saat kanak-kanak, saya tinggal di wilayah paroki ini. Saya hanya mengenal Romo Zoetmulder sebagai Pastor Londo yang tinggi besar dan jika berbicara menggunakan bahasa Jawa yang sangat halus.

Kepingan pemahaman saya tentang Romo Zoetmulder terbatas dalam kedisiplinan dia yang nyaris tanpa cela. Kepingan kecil ini ternyata mampu menjelaskan sosok Romo Zoetmulder. Ia menjalankan aktivitas di Gereja Hati Santa Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta, yang berjarak dua kilometer dari Gereja Kidul Loji. Dari bangun, sarapan, pergi ke kantor, pulang, makan malam, baca majalah atau koran, hingga tidur malam, nyaris selalu tepat waktu. Sangat presisi!

Dalam bekerja, Romo Zoetmulder ditemani sopir yang merangkap menjadi asisten. Jika tak salah bernama Mukibat. Si sopir hanya tamatan sekolah dasar. Alhasil, semua karya intelektual Romo Zoetmulder mendapat sentuhan tangan sang sopir. Mulai dari mencari referensi, mengumpulkan kliping, mengetik, sampai menjadi naskah paripurna. Si sopir bertindak sebagai asisten yang piawai.

Setahu saya, Romo Zoetmulder juga amat sederhana dalam hal makanan. Ia menyukai tahu dan tempe, serta sayur-mayur khas Yogyakarta. Ia sangat menikmati makanan tradisional. Ia menghayati hidup ugahari; sederhana dan membumi.

Kepingan-kepingan kecil tentang Romo Zoetmulder ini yang kemudian menjadi kesimpulan saya tentang sosok Romo Zoetmulder secara utuh. Pertama, disiplin yang telah melekat erat dalam diri Romo Zoetmulder. Tidak hanya menyoal tentang disiplin waktu saja, Romo Zoetmulder juga disiplin dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Selama berkarya sebagai imam dan cendekiawan di kampus, tidak pernah terdengar desas-desus tentang kecerobohan Romo Zoetmulder.

Kedua, pemuridan. Dalam konteks ini, Romo Zoetmulder meneladan junjungannya, Yesus Kristus. Tumbuh kembang kristianitas lantaran strategi Yesus yang mengangkat dua belas murid untuk mewartakan Kabar Gembira. Mirip seperti Yesus, Romo Zoetmulder juga melakukan pemuridan, mulai dari yang sederhana seperti sang sopir yang menjadi asisten, hingga para mahasiswa yang kelak menjadi cendekiawan utama dalam budaya Jawa. Alhasil, walaupun Romo Zoetmulder sudah mangkat pada 1995, hasil karya dan pemikirannya tetap “abadi”, karena diteruskan para muridnya.

Ketiga, ugahari. Kaul kemiskinan ia jalankan dengan konsekuen. Prinsip hidup Romo Zoetmulder jika diterjemahkan adalah sederhana dalam penampilan, kaya dalam pengetahuan. Ugahari yang dijalani Romo Zoetmulder akhirnya melahirkan karya yang tidak lekang ditelan zaman.

Tanda Kehormatan Bintang Budaya Paramadharma dari Pemerintah RI sudah disematkan di dada Romo Zoetmulder. Dan kita, entah imam maupun awam, pantas meneladan hidup Romo Petrus Josephus Zoetmulder SJ.

A.M. Lilik Agung

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*