Artikel Terbaru

Lahir Di Nusantara Bermisi Untuk Dunia

Seorang suster PRR bersama anak-anak di Kenya.
[HIDUP/Sr Ivone PRR]
Lahir Di Nusantara Bermisi Untuk Dunia
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ada beberapa tarekat yang lahir di bumi Nusantara. Mereka terus berkarya dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa umat.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi virus yang mematikan di Republik Kenya. Statistik dari United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) menyebutkan, sedikitnya 1,5 juta masyarakat Kenya menderita HIV/AIDS pada 2015. Badan internasional HIV/AIDS ini merilis, Kenya menduduki urutan keempat terbanyak dunia setelah Afrika Selatan, Nigeria, dan India. Sedikitnya 36 ribu orang meninggal setiap tahun lantaran virus mematikan itu.

Di Kenya, salah satu pusat perawatan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah rumah perawatan Reinha Rosari di Nairobi, Kenya. Selain itu, ada juga DIWOPA Health Centre di Keuskupan Nairobi. Para ODHA dilayani para Suster Puteri Reinha Rosari (PRR).

Pemimpinan Suster PRR Regio Republik Kenya, Sr Adrina PRR mengatakan, kesehatan menjadi perhatian utama, mengingat masyarakat di Kenya sangat rentan terhadap HIV/AIDS. Sementara, belanja kesehatan di negara-negara Afrika sangat kecil. Pun sistem pelayanan kesehatan tak memadai dan lebih fokus pada pengobatan, bukan pencegahan. “Padahal program pencegahan yang baik adalah dasar untuk menjalankan program penanggulangan suatu penyakit,” ungkap biarawati kelahiran 9 April 1970 ini.

Misi Karitatif
Sudah hampir 20 tahun, para Suster PRR melayani umat dan masyarakat Kenya. Sejak 1998, karya misi PRR di Kenya dibuka. Para suster terlibat dalam kegiatan pastoral, pelayanan kesehatan terutama memberikan perhatian kepada penyandang HIV/AIDS, pendidikan, dan pelayanan karitatif. Dalam bidang pendidikan, Suster PRR mendirikan SD Immakulata di Nairobi, Sekolah Vincentius, dan Sekolah Luar Biasa di Keuskupan Kisii. Sementara pelayanan lain adalah membuka Dispensary Our Lady Of Lourdes di Ogembo, pelayanan untuk para ODHA di Oyugis, Homa Bay.

Selain di Kenya, Suster PRR juga melayani dua Keuskupan di Timor Leste sejak 1979 dengan terlibat dalam pelayanan pendidikan, kesehatan, dan kegiatan karitas lainnya. Tarekat yang didirikan Mgr Gabriel Manek SVD di Larantuka, 15 Agustus 1958 ini, juga membuka pelayanan di Italia, yaitu di Keuskupan Reggio Calabria Bova, Keuskupan Rosano, Keuskupan San Marco, Keuskupan Trento, dan Keuskupan Roma. Selain itu, PRR juga membuka pelayanan di Belgia dan Kanada.

Pemimpin Umum PRR, Sr Grasiana PRR mengatakan, kontribusi PRR bagi misi Gereja dirumuskan dalam konstitusi. Tarekat PRR didirikan karena kebutuhan mendesak akan “pewartaan Injil dan pemurnian nilai-nilai iman” yang kabur oleh perkembangan zaman. Meski demikian, kata Sr Grasiana, hubungan PRR dengan tarekat religius lain dan tarekat suster, bruder, frater diosesan saling bergandengan. PRR telah menyumbangkan tenaga untuk bekerja di lembaga-lembaga Keuskupan serta menanggapi permintaaan para Uskup akan kebutuhan-kebutuhan Gereja Lokal. Hingga 1 Juli 2017, anggota Suster PRR berjumlah 407 suster berkaul, 41 novis, dan 36 postulan.

Tarekat PRR adalah salah satu tarekat asal Indonesia yang didirikan oleh seorang Uskup. Dalam Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia 2017 yang diterbitkan Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia (Dokpen KWI), terdapat 28 tarekat yang berkarya di Indonesia yang masih berstatus keuskupan atau diosesan. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) memang dijelaskan tentang status tarekat; kepausan dan keuskupan. Tarekat kepausan biasanya didirikan atas prakarsa Takhta Suci Vatikan atau telah memperoleh dekrit persetujuan dari Takhta Suci. Sementara, tarekat yang berstatus keuskupan didirikan oleh seorang Uskup atau awam, biarawan, biarawati dan belum mendapat dekrit persetujuan dari Takhta Suci, sehingga masih berada dalam reksa Uskup diosesan.

Suster Lokal
Selain PRR, salah satu tarekat yang masih berstatus keuskupan adalah Suster Belaskasih dari Hati Yesus yang Mahakudus (HK). Meskipun didirikan oleh Mere Marie pada 2 Juli 1886 di Moerdijk, Belanda, tapi tarekat ini masih berstatus keuskupan.

Karya pelayanan Suster HK pun mencapai Indonesia. Saat ini, Suster HK berkarya di 24 komunitas yang tersebar di lima Keuskupan, yakni Semarang, Jakarta, Malang, Tanjungkarang, dan Palembang. Selain pendidikan dan kesehatan, mereka juga berkarya di bidang sosial ekonomi, seperti pendampingan kaum buruh, pastoral keluarga, asrama, dan pembinaan. Para Suster HK mengenggam spiritualitas untuk membangun dan menghayati hidup, mengikuti Kristus dengan menempatkan Hati Yesus sebagai pusat, serta memberi tempat bagi keanekaragaman.

Tarekat lain yang masih berstatus keuskupan adalan Kongregasi Suster Puteri Agustinus (OSA). Kongregasi ini didirikan Mgr Hermanus Lambertus Spoorman pada 1888. Kongregasi ini memiliki kharisma untuk sehati sejiwa menuju Tuhan. Suster OSA menyadari bahwa mereka dipanggil untuk mencintai Tuhan melebihi segala sesuatu.

Tanggal 9 Agustus 1992 menjadi hari bersejarah bagi Komunitas Suster OSA di Ketapang. Lantaran pada tanggal itu, komunitas ini berpisah dari Kongregasi Suster Augustinessen Heemstede Belanda dan menjadi kongregasi mandiri. Pada saat bersamaan, kongregasi ini berafiliasi dengan Ordo St Augustinus dan diterima menjadi keluarga besar Ordo St Augustinus. Kini, jumlah suster OSA sedikitnya 108 suster yang tersebar di sembilan Keuskupan.

Tarekat yang lain adalah Kongregasi Suster Fransiskan St Lusia (KSFL). Tarekat ini didirikan Muder Lucia Dierckx, karena keprihatinan terhadap anak-anak yatim piatu. Dari pelayanan kepada anak-anak panti, Suster KSFL terus melebarkan sayap pelayanan dengan merawat orang miskin, orang tua, anak yang putus sekolah, dan berkarya pastoral.

Tarekat ini masuk ke Nusantara atas undangan Perfek Apostolik Sumatra, Mgr Matthias Brans OFMCap. Undangan itu dijawab dengan mengirimkan tujuh suster yang tiba di Padang, Sumatra Barat pada 3 Oktober 1925. Sejak itu, benih panggilan makin berkembang dan siap dituai. Kini, anggota KSFL tersebar dan berkarya di delapan Keuskupan di Indonesia.

Tarekat lain yang berstatus keuskupan, yakni Kongregasi Suster St Yosef (KSSY). Kongregasi ini didirikan Mgr Henrikus Blom 7 November 1878, di Amersfoort, Keuskupan Utrecht, Belanda. KSSY berada dan berkarya di Indonesia sejak 28 Januari 1931 dan kini menjadi kongregasi otonom. Pemimpin Umum KSSY, Sr Yosephine Situmorang KSSY menerangkan, spiritualitas KSSY bersumber pada Injil Suci, ajaran dan semangat Yesus serta teladan St Yosef. Spiritualitas KSSY adalah “kesecitraan”, yakni bahwa kita adalah gambar dan rupa Allah (Imago Dei), yang dicipta kan menurut citra Allah dan dikenakan kekuatan yang serupa dengan Allah. Kini, 232 Suster KSSY berkarya dan melayani di delapan Keuskupan di Indonesia.

Sementara pada 29 Juni 1938, Vikaris Apostolik Batavia Mgr Petrus Johannes Willekens SJ mendirikan Kongregasi Biarawati Abdi Kristus (AK) di Ambarawa, Jawa Tengah. Kongregasi AK didirikan dengan tujuan ikut serta mengakarkan iman Kristiani dalam budaya lokal, baik lewat hidup kongregasi maupun lewat karya-karyanya. Suster AK terus berkarya sebagai tarekat pribumi di sembilan Keuskupan di Indonesia.

Semangat untuk mengembangkan spiritualitas religius di Nusantara juga menjiwai hati Mgr Arnoldus Johannes Hubertus Aerts MSC yang ketika itu menjadi Vikaris Apostolik Nuova Guinea Olandese dan berkedudukan di Langgur, Kepulauan Kei, Maluku. Semangat mewartakan iman kepada pribumi membuat Mgr Aerts dengan cepat mengumpulkan gadis-gadis Kei untuk menjadi suster. Alhasil, pada 1 Mei 1927, lahirlah sebuah tarekat baru bernama Tarekat Maria Mediatrix (TMM). Inilah tarekat lokal pertama yang lahir di Indonesia.

Pemimpin Umum TMM, Sr Margarethis Kelen TMM mengatakan, berdirinya TMM untuk melengkapi karya pelayanan para misionaris di negeri 1001 pulau. Karisma pendiri inilah yang memberi inspirasi kepada para Suster TMM untuk selalu siap ditugaskan di mana saja. Setelah sembilan dekade berziarah di Nusantara, suster-suster TMM sudah berjumlah 157 orang dengan fokus pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, pastoral, dan sosial.

Bruder Lokal
Selain tarekat suster, juga ada tarekat bruder atau frater di Indonesia yang berstatus keuskupan. Misal Kongregasi Bruder St Aloisius Gonzaga Semarang (CSA). Berdirinya CSA tak bisa dilepaskan dari perjuangan Kepala Paroki Oudenbosch, Pater Willem Hellemons OCist. Kala itu, persengketaan antara Belanda Utara dan Selatan (kini Belgia) berdampak pada kemerosotan moral kaum muda. Dalam situasi ini, munculah keinginan Pater Willem untuk mendirikan tarekat baru. Keinginan ini ditanggapi positif Vikaris Apostolik Breda, Mgr J. van Hoydonks. Tak berapa lama berdirilah Congregatio Sancti Aloysii
(CSA) pada 1 Maret 1840.

Dalam perjalanan waktu, Bruder CSA di Indonesia terus menapaki hidup baru dengan memisahkan diri dari biara induk di Oudenbosch. Setelah melalui proses cukup panjang, CSA Indonesia dinyatakan mandiri dengan dekrit Vatikan pada 25 November 1999. Sejak itu, CSA Indonesia berada di bawah reksa pastoral Keuskupan Agung Semarang hingga berganti nama menjadi Kongregasi Bruder St Aloisius dari Semarang.

Kongregasi pribumi lain adalah Kongregasi Bruder Tujuh Dukacita Santa Maria (BTD). Kongregasi BTD adalah kongregasi diosesan yang berkarya di Keuskupan Manado, khususnya Tomohon. Awalnya BTD menjadi satu dengan Congregatio Septem Dolorum(CSD), namun pada 20 September 2001, lewat proses yang panjang BTD menjadi kongregasi mandiri. Para bruder BTD bercita-cita menghayati Injil Yesus Kristus dalam kekuatan dan ilham dari Allah bersama Bunda Maria yang berdiri di bawah kaki salib Yesus. “Kedukacitaan Maria menjadi semangat untuk terus melayani, menghibur, dan turut bertahan dengan orang yang menderita,” ujar Br Marianus Manek BTD.

Selain itu, terdapat satu tarekat klerikal (imam) yang masih berstatus keuskupan, yakni Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE). Kongregasi ini didirikan oleh Romo Yohanes Indrakusama CSE. Kini, kongregasi ini masuk dalam reksa Keuskupan Bogor.

Masih banyak tarekat-tarekat yang berstatus keuskupan di Indonesia. Mereka terus berkarya, menebarkan sukacita Injil, dan mewarnai Gereja Indonesia dengan kekhasan masing-masing.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Sr Ivone PRR/Christophorus Marimin/Marchella A. Vieba

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*