Artikel Terbaru

Peluang Melebarkan Karya Misi

Pastor Carolus Putranto Tri Hidayat.
[NN/Dok. Pribadi]
Peluang Melebarkan Karya Misi
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Banyak faktor yang membuat sebuah tarekat mampu berkembang baik dalam ragam karya pelayanan dan mampu berkarya misi bagi Gereja Universal.

Santo Yohanes Paulus II pernah berkata, di mana iman tumbuh dengan subur, sudah dipastikan panggilan juga akan ikut subur. Kalimat ini bisa menjadi pemantik semangat bagi tarekat-tarekat diosesan untuk mengembangkan karya misi. Bagi tarekat diosesan yang panggilannya tumbuh subur, sudah sewajarnya merespon permintaan tenaga pastoral di keuskupan lain. Berikut petikan wawancara dengan imam Keuskupan Agung Jakarta Romo Carolus Putranto Tri Hidayat terkait dengan peluang tarekat diosesan yang ingin melebarkan karya pelayanan di tanah misi:

Seberapa besar peluang yang dimiliki oleh tarekat-tarekat diosesan yang ada di Indonesia untuk melebarkan karya keluar dari Indonesia?

Dilihat dari segi kuantitas, sekarang ini pertumbuhan awam yang menjadi imam, suster, dan bruder tumbuh subur di Asia, terutama di Indonesia dan India. Hal ini berbanding terbalik dengan negara-negera yang ada di luar Asia, terutama di Eropa Barat yang cenderung turun.

Kita lihat, perlahan pertumbuhan Gereja saat ini lebih berkembang di Asia dan Afrika. Maka, jika ditanya seberapa besar peluang yang dimiliki oleh tarekat diosesan untuk melebarkan sayap pelayanan, jawabannya sangat besar untuk memberikan sumbangan kepada Gereja Universal.

Bidang apa saja yang dimungkinkan bagi tarekat diosesan untuk melakukan karya misi di luar Indonesia?

Saya melihat, bidang yang pasti mungkin bisa dilakukan untuk melebarkan pelayanan adalah bidang pelayanan misionaris klasik, seperti bidang kesehatan dan pendidikan. Hal ini dimungkinkan, karena bidang karya pelayanan model misionaris klasik yang dilakukan oleh tarekat-tarekat yang lama semakin ke sini semakin berkurang anggotanya. Dengan kata lain, tarekat diosesan Indonesia bisa mengambil peran pelayanan yang sudah tidak bisa di tangani lagi oleh tarekat setempat dikarenakan berkurangnya tenaga yang ada.

Selain bidang karya pelayanan model misionaris, bisa juga bidang kerohanian dan spiritualitas, seperti rumah retret dan pelayanan yang terhadap orang-orang tua. Ada data yang mengatakan bahwa orang tua di negara-negara Eropa Barat sangat senang bila diperhatikan oleh orang Asia, terlebih orang Indonesia karena memiliki budaya yang sangat memperhatikan orangtuanya.

Dalam skala satu sampai sepuluh, peluang pelayanan tarekat diosesan ada di angka berapa untuk berkarya di luar Indonesia?

Secara logika, saya berani mengatakan, peluang tarekat diosesan untuk berkarya di luar Indonesia ada dikisaran delapan, bahkan bisa sembilan. Ini bisa terjadi dikarenakan tarekat-tarekat yang dulu menangani, semakin ke sini semakin berkurang tenaganya. Lebih banyak tenaga yang pergi daripada yang masuk. Jadi, peluangnya sangat tinggi. Hanya saja tinggal masalah kerjasama dengan Gereja setempat dan administrasi saja yang perlu di legalkan.

Banyak pula awam, terutama yang bergerak melalui lembaga swadaya masyarakat, yang berkarya di luar Indonesia. Nah, apa perbedaannya jika hal tersebut dilakukan oleh anggota tarekat diosesan?

Bedanya sangat jelas. Jika awam diminta untuk menangani pelayanan yang mirip dengan tarekat-tarekat pasti tidak bisa full time, karena mereka juga memiliki pekerjaan lain yang menyita waktu. Lain hal jika awam tersebut adalah profesional yang mendapatkan upah. Namun, sesuatu yang berbeda itu, menurut saya, yang bersifat rohani.

Menurut Romo tantangan apa ketika berkarya di tanah misi?

Menurut saya, tantangan yang mungkin terjadi adalah akan berhadapan dengan pergeseran budaya. di mana dimensi kehidupan rohani mulai dipinggirkan karena berbagai sebab sehingga menimbulkan suasana kekeringan iman.

Lantas, bagaimana mengantisipasi tantangan itu?

Untuk menghadapi situasi tersebut, mesti dilakukan persiapan mental yang berani menghadapi konsekuensi di tengah pergeseran budaya tersebut, dan kemampuan membawa iman yang dinamis, sehingga kehadiran di tanah misi menjadikan mereka memiliki api yang sama dalam semangat yang dibawa ke tanah misi

Apa pesan Romo?

Pesan saya untuk mereka yang berkarya di tanah misi adalah kembalilah pada akar spiritualitas, karena ini merupakan salah satu bentuk pelayanan yang khas dari mereka. Bagikan kekhasan ajaran serta berpegang teguh pada kekhasan pelayanan itu. Ingatlah, jangan membatasi karya pelayanan yang telah dipercayakan Allah pada kita.

Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*