Artikel Terbaru

Bagaimana Menghadapi Anak Hiperaktif?

Bagaimana Menghadapi Anak Hiperaktif?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bu Eriany, anakku sepertinya hiperaktif. Gurunya di TK B menganjurkan agar memeriksakan anak saya ke psikiater atau psikolog. Sejak mulai bersekolah, anak saya tak mau diam di kelas. Selalu saja ada benda-benda yang direbut, ditumpahkan, atau dibuang ke lantai. Dia juga berlari-lari keliling kelas mengganggu teman-temannya yang sedang belajar. Jika dibujuk atau dilarang oleh gurunya, ia akan menangis dan mengamuk. Teman-temannya takut dan enggan bermain dengan dia, sehingga ia dijuluki anak nakal.

Apakah anak saya benar-benar hiperaktif? Apa ciri-ciri anak hiperaktif? Bagaimana cara yang tepat untuk mendidik anak saya agar bisa mengurangi hiperaktivitasnya?

Angeline Natasha, Purwokerto

Salam kenal Bu Angeline. Mencermati perilaku anak dan keluhan dari guru maupun ibu sendiri tampaknya perlu lebih “waspada” untuk memastikan apakah itu merupakan kondisi normal anak yang sedang berada dalam tahap eksplorasi atau merupakan gangguan. Tak lama lagi anak akan lanjut ke jenjang SD yang tentu akan menuntut kemampuan berpikir, bersikap, dan berperilaku, serta emosi dan sosial yang lebih matang. Tuntutan akademik sudah muncul, khususnya terkait keterampilan membaca, menulis, dan berhitung.

Perilaku hiperaktif sering muncul sebagai salah satu gejala gangguan perkembangan yang disebut Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Frekuensi terjadinya ADHD sekitar lima hingga tujuh persen populasi anak usia sekolah. ADHD disebabkan karena kondisi neurologis di otak ditandai dengan tiga gejala, yaitu inatensi, impulsif, dan hiperaktif yang mempengaruhi fungsi keseharian minimal di sekolah dan rumah. Gejala ini muncul minimal dalam enam bulan terakhir.

Intensi mengakibatkan anak sulit memusatkan perhatian sehingga sering membuat kesalahan dalam menyelesaikan tugas sekolah, tampak tak mendengarkan ketika diajak bicara. Sulit mempertahankan konsentrasi dalam mengerjakan tugas maupun ketika bermain. Kurang patuh terhadap perintah dan instruksi, menghindar atau menolak tugas yang menuntut usaha gigih, mudah lupa, dan terganggu oleh situasi lingkungan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, rata-rata rentang atensi untuk anak usia lima tahun selama 14 menit.

Gejala hiperaktif ditunjukkan dengan perilaku tak bisa duduk diam dalam jangka waktu tertentu, berlari, memanjat, banyak bicara, memiliki kesulitan dalam bermain dan menguasai aktivitas waktu luangnya dengan tenang. Aktivitas yang tak lazim dan cenderung berlebihan ditandai dengan perasaan gelisah, selalu menggerakkan jari-jari tangan, kaki, pensil, dan meninggalkan tempat duduknya.

Sementara gejala impulsif ditunjukkan dengan kesulitan menunda respon, seperti menunggu giliran atau antre, memotong pembicaraan, sulit mendengarkan, cepat menjawab sebelum pertanyaan selesai. Ketiga gejala tersebut akan memunculkan kondisi emosi yang mudah marah. Bila marah sering membanting barang, melempar, berguling-guling di lantai (tantrum), sulit bekerja sama, suka menentang, keras kepala, dan kadang menyakiti diri sendiri.

Meski demikian, untuk menegakkan diagnosis perlu ada pemeriksaan yang meliputi pola atau potensi berpikir, kondisi emosi, sosial, dan status perkembangan anak secara menyeluruh. Derajat berat ringannya gangguan juga perlu dipastikan. Ibu bisa minta bantuan psikolog untuk melakukan asesmen terhadap anak. Ibu pun bisa terlibat dalam proses asesmen maupun terapinya. Dengan demikian, pendampingan yang dilakukan orangtua akan menyesuaikan dengan situasi-kondisi anak.

Beberapa saran praktis, buatlah jadwal harian anak dari bangun pagi sampai tidur malam, menetapkan aturan yang jelas dan konsekuensinya bila anak melanggar aturan, berikan “hadiah” setiap kali anak melakukan hal baik atau menjalankan tanggung jawabnya. Selain itu, fokus pada hal yang positif, termasuk menemukan aktivitas yang disukai anak.

Memberikan penjelasan secara sederhana dan singkat, pastikan anak mendengarkan dan bicara pada saat yang tenang, hindari adu argumentasi, dan abaikan yang tak penting. Beberapa ahli juga menyarankan agar diet makanan bergula, sebab memberikan energi bagi tubuh atau mengikutsertakan anak olahraga untuk menyalurkan kelebihan energinya sesuai minat anak.

Belajar secara otodidak dari buku, internet, maupun bergabung dengan komunitas orangtua yang memiliki anak ADHD akan sangat mendukung, sebab orangtua dengan anak ADHD rentan mengalami konflik antara suami-isteri, maupun orangtua-guru, putus asa dan takut akan masa depan anaknya. Segeralah Ibu mencari kepastian kondisi permasalahan anak agar dapat segera diambil tindakan.

Praharesti Eriany

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*