Artikel Terbaru

Sekolah Katolik Terdampak Perubahan Zaman

Ferry Doringin.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Sekolah Katolik Terdampak Perubahan Zaman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada alur sejarah, status “unggulan” pernah melekat pada sekolah-sekolah Katolik. Kini, status itu mulai memudar; sebuah isyarat, harus menyesuaikan diri di era perubahan ini.

Sembari berjalan, Ferry Doringin mengangkat telepon genggamnya. Usai bicara sekitar semenit, ia menutup telepon. “Itu rekan dari Tegar,” katanya sembari tersenyum. Tegar yang Ferry maksud adalah Yayasan Terang dan Garam, yang fokus pada isu pendidikan Katolik. Bersama beberapa sejawat dari Sumber Daya Rasuli (Sudara) Keuskupan Agung Jakarta, ia merintis yayasan ini.

Para pendiri Tegar yang lain menunjuk Ferry menjadi ketua. Mereka bukan sekadar asal tunjuk. Pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 49 tahun lalu ini memiliki rekam jejak dalam dunia pendidikan. Ia dikenal giat mendampingi sekolah-sekolah Katolik yang cahayanya kian meredup. Pengalaman di dunia sekolah dan anak-anak, serta pendidikan formal yang ia tempuh, membuat Ferry mahfum akan tantangan pendidikan dan cara menghadapinya.

Selama ini, ayah empat anak ini, wara-wiri ke pelbagai panggung seminar pendidikan. Ia membawa konsep manajemen pendidikan, kurikulum, hingga sistem pembelajaran. Ferry menekankan pentingnya perubahan sistem pembelajaran. Bagi dia, sekolah mesti menjadi lingkungan yang penuh kegembiraan, baik bagi siswa maupun guru. Karena itu, sekolah mesti fokus pada pembelajaran kreatif; siswa lebih berperan aktif daripada guru. “Sekolah harus melalui pintu anak. Ia maunya apa, peran sekolah mengarahkan, ini namanya pendidikan kreatif, aktif, dan inovatif.”

Rekam Jejak
Ferry muda mengeyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Pineleng Manado. Ia menjadi frater pada Tarekat Misionaris Hati Kudus (Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu/ MSC). Teman-temannya mengenal Ferry sebagai sosok yang mencintai dunia mengajar; pendidikan dan anak-anak. Di tengah jalan, Ferry merasa ia tidak bisa meneruskan jalan menuju imamat suci. Ia lantas mengundurkan diri dan hijrah ke Jakarta. Ia bekerja di Penerbit Obor sebagai editor dan kordinator editor. Sambil bekerja, ia melanjutkan studi strata 2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Ia juga kerap mengikuti pelatihan dan seminar pendidikan.

Di Obor, Ferry banyak menerjemahkan buku bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Ferry hanya dua tahun di Obor. Seorang teman menawarkan sebuah jalur bisnis dengan prospek yang menggiurkan, namun ia menampik. Ferry memilih bekerja di World Vision, sebagai wartawan, penulis, dan kordinator publikasi.

Pekerjaan baru menuntut Ferry kerap berkeliling Nusantara. Ia mendatangi tempat terpencil dan berinteraksi dengan anak-anak usia sekolah. Ketertarikannya pada dunia pendidikan mendapat tempat yang luas di World Vision. “Ini masa emas saya, karena bersentuhan dengan dunia anak-anak dan pendidikan. Saya menemukan gambaran tentang pendidikan yang seharusnya,” ujar Ferry mengenang.

Pada 2004, pemilik SMA St Nikolas Lokon Manado memanggil Ferry untuk menjadi kepala sekolah. Tanpa berpikir dua kali, Ferry pulang ke Manado. Setelah tiga tahun, ia mendapatkan kesempatan studi ke Filipina. Ia mengambil jurusan Manajemen Pendidikan di De La Salle University Manila.

Pilihan studi ke universitas beken di Manila ini bukan tanpa alasan. De La Salle terkenal sebagai penyumbang menteri pendidikan di negara mayoritas Katolik itu. “Reputasinya bagus dan rata-rata menteri pendidikan Filipina mengambil rektor dari De La Salle. Juga karena dekat dan murah sih,” katanya sembari tertawa. Selama di Manila, Ferry sempat mengampu sebagai asisten atase pendidikan nasional untuk Filipina.

Ferry menyelesaikan jenjang S3 dengan hasil memuaskan. Ia lantas kembali ke Manado. Sebuah tugas baru menanti dia; merintis SMP Lokon sambil memimpin SMA Lokon. Menjabat posisi penting dan menja di orang kepercayaan pemilik sekolah tak lantas membuat Ferry puas.

Pada 2016, ia kembali ke Jakarta. Ia mengajar di dua universitas swasta dan sempat menjadi direktur eksekutif di sebuah yayasan pendidikan. Dari sini, secara perlahan, Ferry mulai membagi semangat pembaruan pendidikan Katolik. Ia aktif menjadi pembicara di seminar dan diskusi.

Bukan Kiamat
Di alur jejak sejarah, sekolah-sekolah Katolik ada di puncak klasemen tabel sekolah favorit. Tapi di dunia yang senantiasa berubah, tak ada yang benar-benar liat. Zaman berganti, banyak sekolah swasta non Katolik dan sekolah negeri menjelma sebagai unggulan. “Sekarang hampir semua sekolah Katolik kekurangan siswa dan ada banyak masalah yang tidak terpecahkan.”

Masalah yang dihadapi bersifat kompleks. Menurunnya jumlah minat siswa menjadi indikator tegas; sekolah Katolik terancam perubahan zaman. “Dan dalam situasi seperti ini, tidak ada yang membantu, mendobrak atau memberi solusi. Semua sekolah berjuang masing-masing tanpa kerjasama.”

Ferry menyoroti soal lemahnya pelaku pendidikan Katolik dalam bekerjasama; baik ke luar maupun ke dalam. Misal, antara yayasan dan sekolah tidak terintegrasi dengan baik. Yayasan dan sekolah, lanjut Ferry, mestinya sama-sama menikmati kegembiraan dan menghormati posisi masing-masing. “Yang terjadi, orang-orang di yayasan seperti terasing dengan dunia sekolah. Mereka merasa bingung dengan kebijakan sekolah.”

Di era kompetisi ketat seperti ini, sekolah-sekolah Katolik justru harus berlaku sebaliknya: bekerjasama. Pesaing sekolah Katolik bukan sekolah Katolik, tapi sekolah lain, seperti sekolah Nasional Plus atau Internasional. “Dan para pesaing itu semakin maju, baik sistem, manajemen, maupun tenaga guru.”

Kemunculan sekolah-sekolah pesaing tidak serta merta menempatkan sekolah Katolik di fase akhir sejarah. Justru dengan semua kebesaran sejarah, nilai, dan rekam jejak, lanjut Ferry, sekolah Katolik selalu memiliki tempat untuk pengembangan. Karena itu, sekolah Katolik harus menyesuaikan diri dengan perubahan. “Tradisi sekolah katolik sangat panjang. Kehadirannya mendukung kerasulan; di mana ada sekolah Katolik, aktivitas Gereja dan dunia sekitar sangat hidup.”

Perubahan, lanjut Ferry harus total, mulai dari cara pandang, konsep, manajemen, dan terutama komitmen. Ia tak meragukan soal kualitas dan militansi para guru di sekolah Katolik. Ferry juga tak meragukan komitmen yayasan, tetapi ia menilai ada disharmoni besar antara yayasan dan sekolah.

Kerjasama, erat hubungannya dengan marketing. Misal kemitraan dengan universitas. Para dosen punya kewajiban pelayanan masyarakat. Melalu kerjasama dengan universitas, para dosen bisa memberikan sumbangsih kepada sekolah. Begitu juga dengan program tanggung jawab sosial perusahaan yang bisa mendatangkan keuntungan bisnis bagi sekolah.

Melalui Tegar, pengampu enam mata kuliah di Universitas Binus Nusantara ini bertekad untuk menyatukan semua pihak yang terlibat dalam pendidikan Katolik. Ia tak sendirian. Rekan-rekannya di Tegar adalah para profesional manajemen, pendidikan, dan disiplin lainnya yang siap memberikan pendampingan. “Kami siapkan pembicara. Kami memberi training gratis, baik untuk guru maupun pemimpin yayasan, setiap dua bulan. Pendampingan sekolah dilakukan secara berkelanjutan, terintegrasi, dan menyentuh semua bagian.”

Ferry Doringin
TTL : Tendeki, 18 November 1968.
Istri : Jansi Bernadet Kuntag
Anak : Stella Lupita Doringin, Pingkan Maria Doringin, Teresa Doringin, Ignatia Doringin.

Pendidikan:
• Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
• Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
• Manajemen Pendidikan Universitas De La Salle Manila Filipina

Pekerjaan:
• Editor Penerbit Obor
• Kordinator Publikasi World Vision
• Kepala Sekolah SMA St Nikolas Lokon Manado
• Asisten Atase Pendidikan Nasional untuk Filipina
• Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta dan President University Cikarang
• Ketua Yayasan Terang dan Garam (Tegar)

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*