Artikel Terbaru

Martir Jelita Serahkan Nyawa Demi Kesetiaannya Kepada Kristus

St Maria Fan Kun dan 120 martir Tiongkok yang dikanonisasi oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II.
[allsaintchina.com]
Martir Jelita Serahkan Nyawa Demi Kesetiaannya Kepada Kristus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perasaan senasib karena kehilangan orangtua membulatkan tekadnya untuk menyerahkan hidup seutuhnya bagi Tuhan. Ia tetap setia pada Kristus, meski harus dipenggal kepalanya.

Sejarah mencatat, Gereja Katolik Tiongkok pernah mengalami masa-masa suram, terutama pada zaman Dinasti Qīng Cháo atau Dinasti Manchu (1644-1912). Kematian Pater Francisco Fernández de Capillas OP mengawali daftar panjang para misionaris yang dibunuh. Sesuai namanya, Qīng artinya “jelas”; Kaisar Kangxi (1662-1722) berharap, Wangsa Manchu harus jelas menentukan sikap-setia pada kaisar atau budaya Barat.

Kejelasan status sebagai orang “merdeka” dari budaya Barat membuat Kangxi mengeluarkan perintah untuk mengejar para pembelot. Saat bersamaan, Gereja Katolik terus berkembang dengan kehadiran para misionaris. Pada abad XVIII, lima martir Dominikan menumpahkan darah demi suburnya lahan iman di Tiongkok. Dua diantaranya adalah Vikaris Apostolik Fo-Kien (kini Keuskupan Agung Fuzhou), Mgr Pedro Sanzy Jordà OP (1680-1747) dan Mgr Francesco Serrano Frīas OP (1695-1748). Keduanya dibeatifikasi pada 14 Mei 1893 dan dikanonisasi pada 1 Oktober 2000.

Memasuki abad XIX, penganiayaan terus berlanjut. Pemerintahan Kaisar Jiaqing (1760-1820) menganiaya pengikut Kristus dan terus menghimpit Gereja. Kaisar ketujuh Dinasti Qīng ini melarang misionaris Société des Missions Étrangères de Paris (MEP) asal Paris, Perancis bermisi ke Tiongkok. Vikaris Apostolik Se-Ciuen (kini Keuskupan Chengdu), Mgr Luis Gabriel Taurin Dufresse MEP (1750-1815) dan beberapa imam diosesan menjadi saksi kebengisan Jiaqing. Mgr Dufresse dibeatifikasi pada 27 Mei 1900 dan dikanonisasi bersama Mgr Jordà dan Mgr Frīas.

Akhir abad XIX, era baru muncul. Imperialisme asing merambat masuk ke Tiongkok yang berakhir dengan Perang Candu. Perang perebutan kekuasaan perdagangan opium tahun 1839 ini berakhir dengan kekalahan Tiongkok. Hal ini memaksa Tiongkok mematuhi Perjanjian Nanjing dengan membuka jalur perdagangan, politik, ekonomi, dan agama ke Tiongkok.

Tanpa berlama-lama, Gereja berkembang bak jamur di musim hujan. Sekolah, gedung gereja, pastoran, rumah sakit, dan panti asuhan menjadi target misi. Sayang, misi ini agak terhambat karena pecahnya pemberontakan T’ai P’ing (1853-1864). Setelah itu, meletus pemberontakan Boxer (1899-1900), pemberontakan petani karena pembangunan jalur kereta api yang tidak sesuai dengan feng shui. Sebuah panti asuhan sederhana di Desa Wangla tak luput dari sasaran pemberontakan ini. Puluhan anak dibunuh. Satu di antaranya adalah gadis berusia 16 tahun, Maria Fan Kun.

Saksi Hidup
Desa Wangla memang menjadi incaran tentara Boxer. Sejak wilayah Shangxi dihancurkan, Boxer beralih ke Wangla. Sebuah panti asuhan di bawah karya para misionaris MEP pun menjadi sasaran. Di situ, Fan Kun bersama kawan-kawannya dididik dengan disiplin rohani Katolik yang kuat. Mereka dilatih bekerja dan berdoa. Fan Kun begitu setia pada tugas yang diberikan. Hampir tak pernah ada rasa lelah dalam raut wajahnya.

Sebagai yatim piatu, Fan Kun terkesan pendiam. Orangtuanya menjadi korban pemberontakan T’ai P’ing. Namun sebenarnya, kelahiran Daji, Habei, tahun 1884 ini adalah gadis yang berprinsip. Dalam kamus hidupnya, hanya ada kata “ya” untuk kebaikan. Segala sesuatu yang bertentangan dengan iman ia anggap salah. Cara berbicaranya datar, tapi tegas. Ia dikenal sebagai anak yang jujur, sulit berbohong, apalagi menyangkal imannya. “Saya dilahirkan Katolik, seumur hidup Katolik, mati pun saya akan tetap Katolik,” janjinya saat orangtua yang ia kasihi meninggal.

Sikap itu membuat para sahabat memilihnya menjadi pemimpin di antara mereka. Fan Kun bisa memimpin doa, membacakan renungan harian, dan mengatur jadwal kerja. Ia menjadi teladan bagi seluruh anggota panti. Dalam pendampingan misionaris MEP, Fan Kun pelan-pelan menemukan panggilan hidup. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di panti itu, ia merasa tempat itu adalah surga bagi imannya.

Fan Kun juga dapat menjadi sahabat yang baik. Ia sangat dekat dengan tiga gadis lain, yaitu Wang Luo Cheng (1882-1900), Maria Zheng Qi Yu (1885-1900), dan Maria Zheng Xu (1889-1900). Soal umur, Wang Luo lebih tua dua tahun darinya. Tapi segala sesuatu selalu ia bicarakan dengan Fan Kun. Kedewasaan berpikir dan kematangan iman membuat Fan Kun benar-benar menjadi orangtua bagi kawan-kawannya. “Nasihat-nasihatnya dapat mengubah hidup kami,” ucap Zheng Xu dalam buku biografi Fan Kun.

Pada 24 Juni 1900, pasukan Boxer menginjakkan kaki di Wangla. Semua jejak misionaris dihancurkan. Rumah penduduk dibakar, termasuk sebuah gereja. Mereka tak menyisakan sebuah karya apapun di wilayah pastoral Vikariat Apostolik Tenggara Zhili ini. Para misionaris dan katekis awam ditangkap. Sebagian wafat sebagai martir karena tak mau menyangkal iman mereka.

Saat pemberontakan, Fan Kun bersama tiga sahabatnya tak sempat melarikan diri. Memang ia tak berniat melarikan diri, meski seorang imam meminta anak-anak meninggalkan panti itu. Ia menjadi saksi mata bagaimana “surga” mereka dibumihanguskan. Dengan sedih, ia menyaksikan beberapa teman dipenggal kepalanya. Beberapa lainnya dibiarkan mati terbakar. Dalam sekejap, Wangla berubah menjadi “desa kematian”.

Ketaatan Iman
Fan Kun bersama tiga sahabatnya akhirnya ditangkap. Mula-mula mereka ditahan di Yingjia, lalu dipindahkan ke Mazetang. Empat gadis ini diperlakukan sangat baik, bahkan penjara mereka terpisah dari para tahanan lain dan para misionaris. Kadang-kadang mereka dipaksa untuk melayani nafsu para tentara Boxer. “Asalkan tidur bersama tentara, mereka akan dilindungi,” janji Boxer. Tapi mereka selalu menolak dengan tegas.

Dalam tahanan, Fan Kun tak henti berdoa. Lagi-lagi, jiwa kepemimpinannya tak terbendung dengan nasihat-nasihat iman bagi tiga sahabatnya. Hingga suatu saat, mereka serentak menyatakan siap mempertahankan iman meski nyawa taruhannya. Mereka tak lagi memikirkan masa depan, karena masa depan mereka adalah bertemu Tuhan. Bila surga di dunia telah hancur, mereka yakin akan segera memasuki surga abadi.

Pada Mei 1900, tentara Boxer membuka pusat pertahanan di Wangla. Empat gadis itu pun dipindahkan ke Wangla. Dalam hati, ada sukacita; sebab bila dibunuh, mereka meninggal di Wangla. Tawaran hidup mewah, keamanan, bahkan menjadi istri pemimpin pasukan, tak mereka indahkan. “Kami telah menikah dengan Tuhan. Untuk Kristus, jayalah!” jawab mereka.

Pada 28 Juni 1900, pemimpin pasukan Boxer memaksa untuk menikahi Wang Cheng. Sementara Fan Kun dilamar seorang tentara. Alih-alih diterima, lamaran itu mereka tolak mentah-mentah. Alhasil, maut merenggut nyawa mereka. Empat gadis itu dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya. Mereka wafat sebagai martir belia. Darah mereka menjadi pupuk bagi Gereja di Tiongkok.

Kemartiran Fan Kun membuat Takhta Suci merestui proses beatifikasinya pada 22 Februari 1955. Paus Pius XII (1876-1958) menggelarinya beata bersama 120 martir Tiongkok pada 17 April 1955. Lalu pada 1 Oktober 2000, Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) menganugerahkan mahkota kekudusan sebagai Santa. Fan Kun dikenang sebagai martir jelita, korban kekejaman Boxer di Tiongkok.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*