Artikel Terbaru

Menyebar Virus Cinta Lingkungan Di KAJ

Pendidikan lingkungan hidup yang diadakan Pepulih.
[NN/Dok.Pepulih]
Menyebar Virus Cinta Lingkungan Di KAJ
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Merawat bumi tanggung jawab bersama. Pepulih ada untuk memberi berbagai pemahaman dan tindak nyata dalam merawat bumi.

Pertengahan 2015, Paus Fransiskus mengeluarkan Ensiklik Laudato Si’, sebuah pesan global yang ditujukan bagi seluruh umat manusia yang berada di bumi, terutama bagi umat Katolik di seluruh dunia. Melalui ensiklik ini, Paus Fransiskus menjabarkan ajarannya mengenai pentingnya mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan hidup.

Dalam pesan ini, Paus Fransiskus juga turut menjelaskan kerusakan yang terus-menerus dilakukan manusia terhadap lingkungan. Selain itu, Paus Fransiskus mengajak manusia dari segala bangsa untuk bergerak bersama mengatasi perubahan iklim yang semakin hari semakin ekstrim dan mencemaskan.

Pemerhati Peduli Lingkungan Hidup (Pepulih) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) lahir sebagai sebuah komunitas pemerhati dan peduli lingkungan hidup sejak 2004. Pepulih menjadi oase di tengah kencangnya laju kerusakan lingkungan. Perwujudan nyata iman salah satunya adalah dengan cinta pada lingkungan.

Peduli Air
Kelahiran Pepulih dibidani beberapa orang aktivis lingkungan hidup di KAJ. Pembentukan Pepulih berlatar kesamaan visi dan kepedulian terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup di tengah kota metropolitan, seperti Jakarta.

Kini, Pepulih bekerjasama dengan Faith In Water, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di London, Inggris. Kerjasama ini untuk memberikan pelatihan dalam hal pemakaian air, sanitasi, dan kebersihan bagi komunitas atau kelompok masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Faith in Water bergerak dengan memberikan pendidikan tentang pengelolaan air. Mereka bekerjasama dengan para pemimpin agama, sekolah-sekolah, serta komunitas yang peduli terhadap lingkungan. Proyek ini diberi nama Project Water, Sanitation, and Hygiene (WASH).

Ketua Pepulih, Agustin Mudjihartono mengatakan, proyek ini bertujuan untuk melatih para pemimpin agama, para guru di sekolah, serta masyarakat dalam mengelola sumber daya air. “Dengan proyek ini diharapkan, para pemimpin agama akan memberikan renungan tentang pentingnya penggunaan air, sanitasi, dan kebersihan lingkungan,” ujar Agustin.

Hal senada juga diutarakan mantan Ketua Pepulih, Maria Purwanto. “Melalui proyek ini, umat Katolik termotivasi untuk ikut memelihara lingkungan, terutama sumber daya air dan kebersihan lingkungan,” ungkap Maria.

Agustin mengatakan, kerjasama Pepulih dengan Faith in Water terjalin sejak 22 Oktober 2016. Ketika itu, keduanya memulai menggulirkan Project WASH. Pada awal kerjasama ini, setidaknya 48 orang berhasil dikumpulkan. Kegiatan perdana berupa pendidikan lingkungan hidup di aula SD Tarakanita 2, Jakarta Selatan, dihadiri para pemimpin agama, kepala sekolah, guru, mahasiswa, pelajar, dan perwakilan dari kelompok masyarakat. “Menarik bahwa sebagian besar peserta yang hadir bersedia belajar dan berbagi pikiran mereka, bahkan untuk berbagi hal-hal baik yang mereka ketahui,” ujarnya.

Hingga kini, tercatat sudah lebih dari 2000 orang yang terlibat dalam setiap kegiatan Pepulih lewat Project WASH. Pepulih juga mengandeng beberapa kelompok kategorial di KAJ dan sekolah-sekolah Katolik.

Kampung Hijau
Sejak 2004, Pepulih sudah melakukan berbagai karya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Selama ini ada dua program utama yang dijalankan, yakni Program Kultur Hijau dan Program Kampung Hijau.

Program Kultur Hijau menekankan pada edukasi lingkungan hidup di lapangan dengan cara mengadakan pertemuan dan diskusi lingkungan hidup. Bentuk nyata program ini misalnya berperan serta dalam kegiatan spiritual alam. Lewat kegiatan retret ekologi dikembangkan pemahaman untuk mencintai lingkungan sebagai satu wujud nyata iman. Selain itu, ada pula pengenalan konsep bangunan hijau dan melakukan pendampingan dalam mengembangkan ekowisata sungai.

Dalam Program Kampung Hijau, Pepulih memilih bekerjasama dengan masyarakat di kompleks perumahan Sejahtera, Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. Dalam program ini, masyarakat dengan pendampingan Pepulih berusaha menghijaukan lingkungan kompleks perumahan Sejahtera. Kampung ini pun menjadi percontohan “Kampung Hijau”.

Agustin mengatakan, Pepulih memiliki tujuan menciptakan masyarakat yang paham tentang permasalahan yang terjadi pada lingkungan hidup. Dari pemahaman ini akan timbul kesadaran, kepedulian, dan komitmen untuk saling bersinergi dalam kebersamaan guna melakukan langkah bersama melestarikan lingkungan hidup.

Dalam pelaksanaan, baik Agustin maupun Maria, tidak menampik adanya kendala-kendala yang menghadang dalam mewujudkan lingkungan yang baik. Mulai dari menyediakan waktu untuk memberikan edukasi, menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk wara-wiri dalam pelayanan, terkadang kondisi kesehatan mereka pun menjadi taruhan.

Lepas dari kendala-kendala yang dihadapi, Maria dan Agustin bersyukur, saat ini banyak anggota Pepulih yang memiliki potensi besar, terutama saat menjalankan Project WASH. Kerjasama ini tidak saja terjadi di KAJ tetapi juga merambah ke paroki-paroki di luar KAJ. Sebagai contoh, kerjasama yang terjalin antara Pepulih dengan VIVAT International Indonesia. Kerjasama ini mengharuskan Pepulih juga melayani masyarakat di kawasan Indonesia bagian timur. Dengan memanfaatkan jejaring paroki-paroki di kawasan tersebut, Pepulih memantik semangat masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kerjasama juga terjalin dengan Kongregasi Suster Amal Kasih Darah Mulia (ADM).

Dalam hal mengedukasi masyarakat terutama untuk Project WASH, Pepulih selalu berusaha untuk selalu update tentang metode-metode pengajaran. Ini penting untuk menyebarkan virus cinta lingkungan di KAJ dan keuskupan lainnya. Agustin mengatakan, Pepulih siap berkomunikasi dengan pihak lain, terutama mereka yang mau berkolaborasi secara terbuka dalam semangat mewujudkan kondisi lingkungan yang sehat bagi kehidupan. “Semoga semakin banyak yang terlibat sehingga mampu mengurangi kerusakan lingkungan yang semakin hari semakin mencemaskan,” harap Agustin.

Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*