Artikel Terbaru

Fenomena Kerudung Mantilla Semakin Marak

Sambut Komuni: Umat perempuan mengenakan mantilla saat Misa Forma Ekstraordinaria di Kapel Panti Asuhan Vincentius Putra Kramat.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Fenomena Kerudung Mantilla Semakin Marak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Fenomena pemakaian mantilla di kalangan umat perempuan kian marak. Tradisi memakai mantilla pernah hidup dalam Gereja Katolik. Kini, mantilla menjadi satu cara mengekspresikan iman kekatolikan.

Mata Ratna Ariani ketika melihat seorang perempuan mengenakan kerudung duduk khusyuk mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja St Maria Perawan Ratu Blok Q, Jakarta Selatan. Ratna tertarik dengan kerudung putih yang menutup kepala sang perempuan. Ia pun kemudian tahu bahwa kerudung penutup kepala itu bernama mantilla. Ratna segera berburu mantilla. Melalui media sosial, ia menemukan tempat yang menjual mantilla. “Keluarga mendukung saya memakai mantilla,” ujar Ratna. Maka sejak Mei lalu, ia memakai mantilla setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi.

Bagi Ratna, mantilla bukan sekadar alat penutup rambut dan kepala, tetapi sebagai ungkapan kerendahan hati di hadapan Allah. Ratna mengaku, sejak memakai mantilla, ia bisa lebih menghayati perayaan Ekaristi.

Mula-mula, beberapa rekannya beranggapan bahwa mantilla hanya digunakan sebagai aksesoris belaka. Namun, Ratna tak menggubris. Ia tetap memakai mantilla kala mengikuti perayaan Ekaristi. Tak hanya saat perayaan Ekaristi, Ratna memakai mantilla ketika berdoa pribadi dan mengikuti doa-doa dalam kelompok kategorial. Beberapa rekannya di Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia (Perduki) Chapter Satu Jakarta Selatan mulai tertarik ketika melihat Ratna memakai mantilla. “Saya tidak hanya menjual mantilla, tapi juga berkatekese kepada mereka tentang mantilla,” ujar Ratna.

Ratna ingin umat lain turut merasakan bahwa mantilla bisa semakin menumbuh kembangkan iman. Mantilla, ujar Ratna, juga bisa mengingatkan perempuan agar senantiasa menjaga sikap dan kesopanan berpenampilan saat di gereja.

Kisah lain diceritakan Yacinta Senduk. Yacinta tertarik memakai mantilla ketika ia melihat foto-foto umat yang memakai mantilla saat bertemu dengan Paus. “Terlihat anggun dan memiliki daya tarik religi yang kuat bagi saya,” ujarnya. Namun, ia butuh perjuangan agar bisa memakai mantilla. Beberapa kali ia mengutarakan keinginan memakai mantilla kepada sang suami. Tapi, sang suami berkata, “Sudahlah, jangan macam-macam!” Yacinta pun hanya tertunduk diam.

Pada Mei 2014, hubungan Yacinta dengan suami diterpa badai pertengkaran. Namun, pada saat yang sama, keinginan Yacinta memakai mantilla justru bertambah kuat. Dengan muka kesal dan marah, ia berkata kepada sang suami, “Mulai hari ini, saya akan memakai mantilla saat Misa!”

Suatu ketika, mereka pergi merayakan Ekaristi bersama. Yacinta mulai memakai mantilla. “Pulang Misa, kami malah bisa tertawa-tawa bersama dan pertengkaran kami selesai,” ucap Yacinta penuh bahagia. Sejak hari itu, sang suami mengizinkan Yacinta memakai mantilla setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi.

Tapi terkadang, umat Paroki Stella Maris Pluit, Jakarta Utara ini masih belum cukup percaya diri memakai mantilla saat perayaan Ekaristi. Seperti ketika ia diundang menjadi pembicara di Bandung, Jawa Barat, Juli tahun lalu. “Ada perasaan tidak nyaman, karena semua mata tertuju kepada saya. Tapi saya pasrah, serahkan semua kepada Tuhan,” ujar Yacinta bercerita. Di luar dugaan, ada seorang perempuan muda yang menghampiri dia usai perayaan Ekaristi. Si perempuan muda itu mengungkapkan keinginan memakai mantilla. Yacinta pun menjelaskan seluk beluk mantilla. “Dan sampai sekarang dia masih pakai mantilla,” kata Yacinta.

Semakin marak
Beberapa tahun terakhir ini memang terlihat semakin banyak umat perempuan yang memakai mantilla tatkala ikut dalam perayaan Ekaristi. Di gereja-gereja di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), setiap kali perayaan Ekaristi, kadang terlihat satu atau dua perempuan mengenakan kerudung penutup kepala. Pemakaian mantilla bagi perempuan Katolik merupakan satu tradisi yang pernah hidup dalam Gereja Katolik. Tradisi ini pernah menjadi kewajiban bagi perempuan saat mengikuti perayaan Ekaristi. Namun kini, tradisi ini tak lagi menjadi kewajiban bagi umat perempuan.

Meskipun tak lagi diwajibkan memakai mantilla bagi kaum perempuan, beberapa umat mencoba menghidupkan kembali tradisi tua ini. Tradisi ini kembali hidup seiring dengan semakin marak pelaksanaan Misa Forma Ekstraordinaria atau Misa dengan ritus Tridentina di beberapa keuskupan di Indonesia. Meski tidak diwajibkan, namun biasa dalam Misa Tridentina, umat perempuan mengenakan mantilla. Seperti yang terlihat saat pelaksanaan Misa Tridentina di Kapel Panti Asuhan Vincentius Putra Kramat, Jakarta Pusat, awal Agustus lalu. Puluhan umat perempuan mengenakan kerudung putih menutupi kepala. Tak hanya umat perempuan yang telah lanjut usia yang mengenakan mantilla. Orang-orang muda pun tampak nyaman mengenakan kerudung. Namun, ada pula umat perempuan yang tak memakai mantilla.

Suasana serupa juga terlihat saat perayaan Hari Raya St Perawan Maria Diangkat ke Surga di Gereja St Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta, Minggu, 16/8. Lebih dari seratus umat, siang itu, bergegas memasuki gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Umat perempuan datang mengenakan kerudung penutup kepala. Namun, ada beberapa umat perempuan yang tak membawa mantilla. Mereka pun membeli mantilla yang disediakan panitia acara. “Tadi, kami sediakan sekitar seratus lembar mantilla, tapi tinggal tiga puluh biji,” ujar seorang panitia. Misa dengan ritus Tridentina ini digelar Komunitas Pandemen Gregorian (Kompag) Yogyakarta.

Siang itu, mentari serasa membakar Kota Gudeg Yogyakarta. Umat pun tampak kegerahan. Beberapa umat perempuan yang mengenakan mantilla terlihat beberapa kali menyibakkan kerudung putih yang mereka kenakan. Sementara beberapa umat perempuan yang lain sekali-sekali harus membetulkan posisi mantilla yang dipakai.

Felisitas Flavia Domitila mengaku, baru tiga bulan terakhir ini memakai mantilla saat mengikuti perayaan Ekaristi. “Awalnya sih grogi, karena kalau Misa biasa tidak banyak yang memakai mantilla,” kata umat Gereja St Paulus Pringgolayan, Yogyakarta ini. Seiring waktu, Felisitas semakin percaya diri mengenakan mantilla kala Misa. “Sekarang, saya justru merasa lebih dekat dengan Bunda Maria, karena Bunda Maria kan juga mengenakan kerudung,” ujar Felisitas.

Sementara Fransiska Asisi Sri Widyastuti mengaku baru sebulan ini berani mengenakan kerudung saat perayaan Ekaristi. Meski baru memakai mantilla, namun Fransiska telah merasakan manfaat. “Rasanya itu lebih sakral dan khusyuk ketika memakai mantilla saat mengikuti Misa,” tutur ibu tiga anak yang berasal dari Paroki Keluarga Kudus Banteng, Sleman, DI Yogyakarta ini.

Fenomena pemakaian mantilla juga kian marak di beberapa daerah yang lain, seperti di Semarang, Pontianak, dan Medan. Meskipun tak lagi diwajibkan sebagai bagian dari busana upacara liturgi, mantilla menjadi simbol tradisi iman yang masih terus hidup dalam dinamika umat Katolik. Mantila menjadi sarana untuk mengungkapkan iman secara pribadi dan membantu umat menumbuhkembangkan kehidupan rohani.

Y. Prayogo
Laporan: Takas Tua/H. Bambang S./Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*