Artikel Terbaru

Penjinak Si Jago Merah Yang Pantang Menyerah

Paulus Suprapto.
[HIDUP/Dionisius Agus Puguh]
Penjinak Si Jago Merah Yang Pantang Menyerah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Profesinya adalah petugas pemadam kebakaran. Gaji kecil, medan penuh risiko, tapi itulah semangat pelayanan Paulus kepada masyarakat: pantang pulang sebelum padam.

Suatu hari, handy talkie (HT) milik Paulus Suprapto berbunyi. Suara serak HT di ujung sana memerintahkan dia dan Tim Penyelamat Pancar (Pancar Rescue Team atau PRT) untuk meluncur ke lokasi kebakaran. Paulus segera keluar dari dalam rumah. Ia bergegas menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan motornya. Waktu seolah memburu pria yang baru enam tahun bergabung dengan PRT itu.

Ketika Paulus melewati persimpangan jalan dan hendak belok kanan, sebuah mobil melaju cepat dari arah berlawanan. Ia sudah menyalakan lampu sein kanan, tapi sang pengemudi mobil seakan tak peduli dengan lampu belok kanan sepeda motor Paulus. Mobil itu tetap melaju, menerabas dan nyaris menyerempet motor Paulus. Suami Kuleta itu sontak kaget. Dalam hitungan detik, motor yang ia tunggangi limbung. Beruntung ia masih mampu mengendalikan motornya yang oleng. Paulus lan tas melanjutkan perjalanan menuju TKP dengan agak was-was.

Pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 27 Oktober 1965 ini mengenang, kejadian menegangkan seperti itu bukanlah yang pertama. Tiga kali nyawanya berada di ujung tanduk selama bergabung dengan PRT. Tahun lalu, ia nyaris meregang nyawa saat menjinakkan si jago merah. Paulus tertimpa seng dan kayu. Syukur, rekan satu tim berhasil menyelamatkannya. “Puji Tuhan, Dia masih menyelamatkan saya,” ujar ayah tiga anak itu sembari mengurai senyum.

Om Flu
Paulus semula anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Provinsi Kalimantan Selatan. Suatu ketika, ia mendengar cerita dan keluhan masyarakat soal maraknya kebakaran di Banjarmasin. Kendati kota seluas 98,46 kilo meter persegi itu berada di tepi Sungai Barito, permukiman penduduk di sana tergolong sudah padat. Tak ayal, api merambat gesit dan gampang meluluhlantakkan deretan rumah penduduk.

Batin Paulus tersentuh mendengar keresahan masyarakat. Kecemasan itu juga merasuk dalam hatin ya, sebab tempat tinggal keluarganya setali tiga uang dengan kondisi hunian kebanyakan penduduk di kota berjuluk Seribu Sungai itu. Maka, umat Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin ini pun terpanggil menjadi anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK). Profesi itu tidak terlalu asing baginya. Di Gereja dan masyarakat, Paulus sempat menjadi relawan tanggap darurat.

Restu dan dukungan sang istri membulatkan tekadnya untuk menjadi penjinak si jago merah. Kuleta tak keberatan suaminya giat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun dengan catatan, sang suami tetap bertanggungjawab mencukupi kebutuhan keluarga. Paulus pun mengamini pesan istri terkasih. “Sangat keliru jika orang memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat, tapi keluarga sendiri tidak diperhatikan,” kata karyawan yang sudah mengabdi selama 15 tahun di Paroki Katedral Banjarmasin itu.

Tahun 2009, Paulus resmi menjadi anggota BPK di bawah payung Pancar Rescue. Lembaga ini memiliki armada di lima kecamatan dengan personil masing-masing 20 orang. Di dalam Pancar Rescue, hanya Pauluslah satu-satunya anggota yang beragama Katolik. Meski demikian, rekan-rekannya menerima dan memperlakukan Paulus dengan baik. Selain itu, latar belakang sosial-ekonomi yang berbeda tidak menjadi tembok pemisah di antara mereka. Paulus mencontohkan, pemilik dan pemimpin PRT, H. Faisal Hariyadi adalah anggota DPRD Kota Banjarmasin. Namun, ia mau turun ke TKP, ikut memadamkan api dan mandi lumpur bersama anak buahnya.

Di PRT pula, Paulus mendapat nama “baptis” baru. Rekan-rekannya sesama penjinak si jago merah memanggilnya dengan sebutan Om Flu. Bukan lantaran Paulus rentan penyakit saluran pernapasan. Flu adalah buntut nomor ke anggotaan RAPI ketika itu, JZ19FLU. Sementara di masyarakat, tetangga memanggil Paulus dengan nama Asep. Sebutan khas untuknya itu menunjukkan bahwa dirinya dekat dan akrab dengan semua orang yang berada di lingkungannya.

Totalitas Pelayanan
Om Flu senang, bangga dan puas bergabung dengan PRT. Lewat lembaga ini, ia merasakan hidupnya berguna bagi sesama, terutama untuk mereka yang sedang mengalami musibah. Meski pendapatannya tak sebanding dengan tingkat risiko di lapangan, Om Flu merasakan kebutuhan hidup keluarganya selama ini masih tercukupi. Ia yakin, semua itu karena bantuan Tuhan lewat sesamanya. Perannya sebagai petugas BPK menuntut Om Flu siaga 24 jam. Ini kadang menjadi tantangan baginya. Seringkali, saat lelah usai bekerja di gereja, ada panggilan tugas. Namun sebagai abdi masyarakat, Om Flu pantang menolak tanggungjawab yang menjadi panggilan hidupnya. Ia siaga di rumah atau di tempat kerja. Begitu HT-nya berbunyi dan meminta bantuan PRT, Om Flu bersama rekan-rekannya segera bergegas meluncur ke lokasi kebakaran.

Om Flu sempat merasa heran, selama bergabung dengan PRT, semangatnya untuk melayani orang lain begitu membara, padahal medan karyanya mengancam keselamatan hidupnya. “Saya selalu mengingatkan teman-teman anggota pemadam agar selalu waspada dan hati-hati dan menomorsatukan keselamatan diri sendiri,” kata umat Wilayah St Petrus Paroki Katedral Banjarmasin itu.

Paulus menyadari, karyanya bersifat sosial dan menuntut totalitas diri. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya. Bahkan ia justru memaklumi bila ada masyarakat yang tidak berterimakasih usai di bantu. Ia menganggap mereka masih berduka dan memikirkan bagaimana menjalani hidup selanjutnya. Om Flu mengakui, dalam setiap peristiwa kebakaran yang terjadi, hati nurani dan kepeduliannya tertantang. Pesan Injil Mat 6:37 senantiasa terngiang di telinganya, “Ka mu harus memberi mereka makan!”

Seiring waktu, Om Flu bersama rekan-rekannya di BPK tidak melulu memadamkan api. Mereka mengembangkan karya sosial lain pasca musibah, antara lain penggalangan dana bantuan bagi korban, mengumpulkan pakaian layak pakai dan sembako, serta membuka dapur umum.

Penjinak si jago merah yang satu ini selalu bangga mengenakan seragam kebesarannya. Pakaian inilah yang telah membuka jalan panggilannya. Suatu hari ia sempat bertanya dalam hati, “Sebagai seorang Katolik apa yang bisa di buat untuk sesama?” Ternyata, Tuhan membawa saya ke BPK. Ia sadar seragam pemadam kebakaran bukanlah hiasan semata, melainkan simbol yang menuntut tanggung jawab dan komitmennya, “Pantang pulang sebelum padam!”

Menginspirasi Anak
Selama enam tahun di BPK, merasakan dukungan istri dan anak-anaknya sangat luar. Karya dan perannya sebagai petugas pemadam kebakaran menginspirasi anak-anaknya. Mereka ingin mengikuti jejak sang ayah. Ia tidak sertamerta menyetujui tekad buah hatinya. Sebab, tugas yang dilakukannya menuntut totalitas dan keikhlasan.

Paulus berpesan agar mereka terlebih dahulu mempersiapkan batin, menanamkan keikhlasan apapun yang bakal mereka tanggung dan terima. Ia meyakini, jika semua syarat sudah tertanam, ketiga anaknya bisa terjun melayani masyarakat. Paulus tidak ingin anak-anaknya mengaku pelayan masyarakat, tetapi dalam praktiknya justru menyusahkan rakyat.

Dionisius Agus Puguh

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*