Artikel Terbaru

St Theresa Lisieux dari Italia

Setia dalam Sakit: Sr Angela terbaring di ranjang hingga ajal karena TBC usus.
[ebay.com]
St Theresa Lisieux dari Italia
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sejak kecil, Cecilia Eusepi menjalani hidup dengan amat saleh. Ia bermimpi menjadi seorang misonaris, tetapi apa daya, penyakit TBC usus yang diidapnya telah mengkandaskan impiannya itu.

La Massa, Lante della Rovere, Italia, 23 Oktober 1926. Daerah itu terletak sekitar dua kilometer dari Nepi, kota tua bersejarah di Tuscia, Viterbo–sekitar 48 kilometer sebelah Utara Kota Abadi. Seorang suster muda, Cecilia Eusepi yang mengidap Tuberculosis (TBC) usus kronis, dipulangkan kepada keluarganya yang tinggal di daerah pertanian yang sunyi. Meski tak lagi tinggal di biara, ia tetap menjalani regula biara. Dengan bimbingan rohani Pater Gabriele M. Roschini, ia menghayati hidup sebagai anggota Ordo Ketiga Hamba Maria, Ordo Saecularis Servorum Mariae (OSSM).

Kedatangan suster ini menarik hati khalayak. Keutamaan dan kesalehan hidupnya memikat para imam untuk datang meminta pendapat dan berdiskusi tentang tema homili mereka. Orang pun silih berganti datang minta nasihat. Dalam kondisi sakit, ia menyediakan diri sebagai “jalan kecil” bagi banyak orang untuk sampai pada Yesus melalui keheningan dan doa, adorasi dan devosi, serta Ekaristi.

Devosinya pada St Theresa Lisieux (Kanak-Kanak Yesus) amat kuat. Sejak masuk biara, suster muda ini sudah terpikat oleh St Theresa. Semangat penyerahan diri layaknya bocah yang tidur lelap tanpa rasa takut dalam pelukan sang ayah, menginspirasi panggilannya. Apalagi Santa yang dikanonisasi pada 17 Mei 1925 oleh Paus Pius XI (1857-1939) itu juga mengidap TBC; sama seperti dirinya. Ia telah membaca buku karya St Theresa, The Story of a Soul, kala duduk di bangku sekolah.

Tak terasa kehadiran sang suster di La Massa sudah hampir dua tahun. Dengan setia ia memeluk sakitnya dan menjadi berkat bagi sesama. Tepat pada peringatan St Theresa, 1 Oktober 1928, pada usia 18 tahun, ia menghembuskan nafas terakhir.

Tradisi Kristiani
Cecilia, bungsu dari 11 bersaudara pasangan Antonio Eusepi dan Pauline Mannucci, lahir di Monte Romano, Viterbo, Italia, 17 Februari 1910. Pada usia satu setengah bulan, ia sudah menjadi yatim. Meski tak mengenal ayahnya, gadis cilik ini mewarisi perasaan halus dan ketulusan hati sang ayah.

Beratnya hidup menjanda dengan 11 anak membuat Pauline memutuskan hijrah ke tempat saudaranya, Filippo Mannucci di La Massa. Peran ayah pun seolah tergantikan oleh kehadiran sang paman. Cecilia amat dekat dengan Filippo.

Sejak dini, bocah itu sudah mengidolakan Bunda Maria. Ia sering berkeliaran di ladang sambil memetik bunga lili, lalu mempersembahkannya di depan patung Bunda Maria. Sesekali ia mengenakan mantila biru seperti Bunda Maria. Filippo berpikir, keponakannya kelak bakal menjadi suster.

Tradisi kesalehan kristiani memang sudah terbangun dalam keluarga ini. Tak heran jika Cecilia dikirim ke sekolah St Bernardus di Nepi, di bawah asuhan suster-suster Cistercian. Di sana, Cecilia disayangi teman-temannya karena kelembutan hati dan sikap jenakanya.

Pada 27 Mei 1917, Cecilia menerima Sakramen Krisma dari Uskup Nepi e Sutri, Mgr Luigi Olivares SDB (1873-1943). Sejak 11 Februari 1986, keuskupan ini disatukan dengan Keuskupan Civita Castellana, Orte e Gallese; dan namanya kini menjadi Keuskupan Civita Castellana, Orte, Gallese, Nepi e Sutri. Usai menerima penguatan, ia bersyukur diperbolehkan menyambut Komuni Pertama pada 2 Oktober 1917, Pesta Para Malaikat Pelindung.

Badut Lucu
Berkat bimbingan para Suster Cistercian, saat berusia 10 tahun, Cecilia sudah melihat dari dekat kehidupan Ordo Ketiga OSSM. Akhirnya ia memutuskan hidup selibat pada usia 12 tahun. Karena usianya masih amat belia, ia harus meminta izin uskup setempat untuk bisa bergabung dengan Ordo Ketiga OSSM.

Tahun 1922, Cecilia menceburkan diri dalam gerakan Aksi Katolik Italia. Sebagai biarawati sekaligus anggota Aksi Katolik. Ia sering mengumpulkan gadis-gadis seusianya dan berkatekese bersama mereka. Ia menularkan keyakinannya untuk mengembangkan hidup rohani dengan berdoa, berdevosi, dan mencintai keheningan bersama Tuhan.

Usianya yang amat muda ternyata mampu dibarengi dengan kedewasaan diri dan rohani. Pada 14 Februari 1922, Cecilia diterima masuk sebagai anggota Ordo Ketiga OSSM. Ia diperbolehkan mengikrarkan kaul perdana di Gereja St Tolomeo, Nepi, 17 September 1922. Saat itu, ia sudah mengenakan pakaian ke biaraan dan mengganti namanya menjadi Sr Maria Angela.

Dalam hidup berkomunitas, kehadirannya selalu membawa suasana jenaka. Layaknya seorang bocah lucu nan polos, Sr Angela senantiasa membuat rekan-rekan sebiara merasa riang dan dicintai rekan-rekannya. Ia pun mendapat predikat “badut lucu” karena sikap nya yang menggemaskan.

Pada awal hidup membiara, Sr Angela telah menggantungkan cita-cita setinggi langit. Ia bertekad menjadi misionaris dan mewartakan Injil ke berbagai penjuru dunia. Ia bermimpi bisa melakoni masa formasi sebagai anggota OSSM muda, melanjutkan belajar ke Kota Abadi, dan merasul ke banyak tempat. Setahun usai mengikrarkan kaul perdana, ia ditugaskan masuk rumah formasi Pistoia selama tiga tahun karena umurnya masih terlalu muda. Melihat cara hidupnya, Pimpinan Komunitas, Sr Teresa Salvadori OSSM mengatakan , “Jika Sr Angela setia memberikan dirinya kepada Allah, ia pasti akan menjadi orang kudus”.

Namun malang tak bisa ditolak. Sr Angela terpaksa mengubur semua mimpinya. Tahun 1923, ia didiagnosa mengidap TBC usus kronis. Alhasil ia dipulangkan ke rumah keluarganya di La Massa.

Buku harian
Tak patah arang, Sr Angela tetap bersyukur dengan penyakit yang diidapnya. Selama menjalani sisa hidupnya, ia didampingi seorang pembimbing rohani, Pater Roschini yang sebelumnya telah menjadi Bapa Pengakuannya. Karena semangat dan cinta pada Tuhan, serta devosinya pada St Theresa Kanak-Kanak Yesus amat kuat, Uskup Agung Napoli, Kardinal Alessio Ascalesi CPpS (1872-1952) mendorong Sr Angela untuk menuliskan pengalaman rohaninya. Sr Angela bertemu dengan Kardinal-Imam San Callisto itu saat Kardinal Ascalesi berkunjung ke Nepi pada Juni 1927. Kardinal dari Kongregasi Misionaris Darah Mulia (Congregatio Missionariorum Pretiosissimi Sanguinis) itu menilai, hasil catatan harian yang berupa refleksi hidup rohani suster muda ini kelak pasti akan bermanfaat.

Sr Angela pun menyambut baik nasihat sang Kardinal. Bahkan ia justru bersemangat karena ingin mengikuti jejak idolanya, St Theresa Lisieux yang juga menuliskan pengalaman rohaninya. Ia setia menulis buku harian hingga wafat pada 1 Oktober 1928. Kelak peziarahan rohaninya itu dikenal dengan judul The Story of a Clown. “Rasanya manis, saat hati kita sungguh menyatu dengan Tuhan,” tulisnya mengenai pengalaman rohani mengikuti Ekaristi.

Seperti St Theresa, Sr Angela melukiskan peziarahan hidupnya, “Seperti anak yang menyeberangi hutan gelap di malam hari dengan ibunya. Ia berpegang pada rok ibunya dan berharap sang ibu akan membawanya pulang. Pun jiwa yang meninggalkan Yesus, berharap segera kembali”.

Karakteristik Sr Angela yang mirip St Theresa Lisieux membuat Takhta Suci membuka proses penggelaran kudus tak lama setelah wafatnya. Pada 1 Juni 1987, Bapa Suci Yohanes Paulus II mengesahkan dekrit keutamaan hidup dan menggelarinya Venerabilis. Lalu, Paus Benediktus XVI merestui beatifikasinya. Misa Beatifikasi digelar di Piazzale della Bottata, Nepi, 17 Juni 2012, dipimpin Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Amato SDB.

Hingga kini, makam Beata Cecilia Eusepi OSSM di Gereja St Tolomeo, Nepi menjadi situs peziarahan. Gereja di Viterbo, terutama Keuskupan Civita Castellana, Orte, Gallese, Nepi e Sutri memperingatinya tiap 1 Oktober.

Yusti H. Wuarmanuk/R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*