Artikel Terbaru

Pondok Harapan Bagi Orang Miskin

Tetap Bersemangat: Anak-anak Pondok Ozanam bersama para suster dan guru pendamping.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Pondok Harapan Bagi Orang Miskin
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Cinta kasih Kristus telah menggerakkan para suster Putri Kasih untuk melayani kaum miskin. Mereka menyediakan kebutuhan dasar dan memberdayakan anak-anak melalui pendidikan.

Rumah berlantai dua itu persis berhadapan dengan kantor RT 11, RW 05, Kelurahan Papanggo II, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di ruang tamu seluas empat kali lima meter, beberapa rak buku tampak tertata rapi. Di atasnya terpajang lukisan-lukisan dan dua buah patung.

Sore itu, satu per satu anak-anak berseragam kaos orange, memasuki ruangan sambil memberi salam kepada para suster dan para guru. Mereka duduk berkelompok sesuai jenjang kelas dan memulai kegiatan belajar. Itulah suasana belajar di Pondok Ozanam yang dikelola para suster Putri Kasih (PK).

Para suster PK mulai melayani masyarakat Papanggo sejak 1998. Namun baru pada 7 Februari 2009, mereka mendirikan Pondok Ozanam. Mereka memilih nama Ozanam dengan alasan nama tersebut sedikit berbau Islam dan seperti nama nama Arab sehingga mudah dikenal dan diterima masyarakat setempat. Ozanam sendiri diambil dari nama Frederic Ozanam pendiri Serikat Santo Vincentius (SSV).

Biaya Murah
Dalam kegiatannya, Pondok Ozanam selalu mengutamakan visi pelayanan untuk kaum miskin dan pendidikan anak-anak. Visi ini tidak terlepas dari ajaran St Vincentius A. Paulo dan Luisa de Marillac pendiri Tarekat PK. Ajaran itu bersumber pada moto Tarekat PK, Caritas Christi Urget Nos – “Cinta kasih Kristuslah yang mendorong kami untuk melayani,” tegas Ketua Pondok Ozanam saat ini, Sr Anastasia Elisabeth Sutini PK sering disapa Sr Elsa.

Ajaran itu diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada kaum miskin. Menurut Sr Elsa, kemiskinan di kota Jakarta sungguh beragam. Melihat situasi ini, Pondok Ozanam kemudian membuat kegiatan yang dapat membantu masyarakat. Pondok Ozanam memberikan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) murah kepada sekitar 200 keluarga setiap Minggu sejak 1998. Seiring berjalannya waktu, ketika para keluarga penerima sembako mulai memiliki penghasilan dan mendapat bantuan pemerintah, maka penerimanya berkurang menjadi 100 keluarga. “Biar nggak dobel. Kami kemudian melayani yang sungguh-sungguh membutuhkan,” ujar suster asal Blitar, Jawa Timur ini.

Selain program sembako murah, Pondok Ozanam juga melayani 28 lansia. Tiga kali seminggu, pada Senin, Rabu dan Jumat, Pondok Ozanam mengirim makanan bergizi, lauk-pauk, dan susu kepada para lansia itu.

Mereka juga melayani pengobatan keliling. Mereka mengujungi rumah warga yang sakit dibantu mahasiswa dan tenaga medis dari Fakultas Kedokteran, Universitas Atma Jaya, Jakarta. Untuk biaya pengobatannya dikenakan tarif murah antara dua sampai lima ribu rupiah. Tarif ini diberlakukan untuk membangun kesadaran masyarakat agar menghargai kesehatan. “Biasanya, orang-orang yang membayar akan lebih menghargai obat, ketimbang mereka yang tidak membayar,” ujar suster yang menjadi anggota PK pada 15 Agustus 1986 ini.

Fokus Pendidikan
Selain bidang kesehatan, Pondok Ozanam juga berkarya di dunia pendidikan. Ketika suster-suster PK datang pertama kali ke wilayah Papanggo, mereka mendapati banyak orangtua yang buta huruf. Situasi ini berlanjut karena anak-anak di wilayah itu juga tidak bersekolah. Oleh karenanya, Pondok Ozanam memprioritaskan pendidikan kepada anak-anak. Mereka mengadakan bimbingan belajar bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-kanak (TK).

Saat ini ada 434 anak-anak TK dan SD yang mereka dampingi. Materi pembelajaran yang diberikan disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Lewat model pendidikan ini, anak-anak diharapkan dapat lebih berdaya dan siap menempuh jenjang selanjutnya.

Selama proses pendampingan, para pengelola Pondok Ozanam tidak main-main dalam mendidik. Sejak awal, mereka membuat perjanjian, jika ada anak tidak masuk tiga kali berturut-turut tanpa alasan maka anak itu dinyatakan mengundurkan diri.

Untuk mendukung karya mereka, Pondok Ozanam memiliki fasilitas dua rumah dan belasan tenaga guru. Karena ruangan yang dimiliki terbatas, maka jadwal pendampingan dibagi. Untuk anak-anak TK mendapat jatah tiga pertemuan setiap pekan, pada Senin, Rabu dan Jumat pukul 08.00-10.00 WIB. Anak-anak SD mendapat jatah dua pertemuan setiap pekan. Sedangkan untuk bimbel, untuk anak Kelas I-III SD diadakan setiap Senin-Selasa dan untuk anak kelas IV-VI SD diadakan pada Kamis-Jumat. Waktu bimbel diadakan setiap pukul 15:30-17.00 WIB. Khusus hari Sabtu, karena jumlah murid yang datang banyak maka jadwalnya diadakan tiga sesi yaitu pukul: 08:00-09:30, 10:00-11:30 dan 15:00-16:30.

Program bimbel ini diadakan secara gratis. Meski begitu, setiap mengikuti bimbel anak-anak diwajibkan membawa uang tabungan, minimal seribu rupiah. Tujuannya untuk melatih anak-anak menabung. Saat akhir tahun, uang itu akan dikembalikan.

Pondok Ozanam pernah memiliki program beasiswa untuk anak SMP dan SMA. Karena pemerintah DKI menerapkan aturan wajib sekolah dan gratis melalui Kartu Jakarta Pintar, maka beasiswa itu ditiadakan. Sebagai gantinya, mereka membuat kegiatan penyadaran kepada masyarakat tentang biaya pendidikan dan kesehatan gratis dari pemerintah. “Kami bangun kesadaran dengan memberikan akses informasi tentang Jakarta Pintar dan BPJS. Itu cukup membantu masyarakat,” ujar suster lulusan Diploma III Akademi Keperawatan, Dharma Usada Blitar, Jawa Timur ini.

Karya Ilahi
Delfiana adalah salah satu awam yang bergabung di Pondok Ozanam sebagai relawan. Selain mengajar, Delfi membantu pelayanan sembako murah, pengobatan keliling dan pelayanan lainnya. Dengan ikut dalam kegiatan di Pondok Ozanam ini, selain menemukan kebahagiaan Delfi juga menemukan arti hidup untuk melayani sesama. “Di tempat ini terdapat banyak harapan. Harapan itu akan membawa anak-anak menjemput masa depan yang lebih baik dari sekarang,” ujar wanita kelahiran Jakarta, 18 Januari 1980 ini.

Lona Rosmawan, murid Kelas VI SD Papanggo merasa senang belajar di Pondok Ozanam. Siswi yang sering mendapat peringkat 10 besar di sekolahnya ini merasakan manfaat pendampingan yang telah diberikan. Setelah dibimbing di Pondok Ozanam, Lona lebih memahami pelajaran dan dapat merasakan kebaikan para suster dan guru-guru yang mendampinginya. “Sampai kapan pun saya tidak akan melupakan Pondok Ozanam,” ujar remaja berjilbab ini.

Kegembiraan juga dialami para suster PK. Mereka bersyukur tidak mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan biaya dalam setiap karya mereka. Selalu saja ada donatur dan sukarelawan yang membantu. Salah satu kelompok donatur mereka adalah Kelompok Pendalaman Alkitab Bunda Teresa yang menanggung upah para guru yang bekerja di Pondok Ozanam. “Lewat pengalaman ini, kami menyadari bahwa karya ini merupakan penyelenggaraan ilahi. Memang, karya ini tidak menghasilkan uang, namun Allah bekerja dengan mengirimkan orang yang mau peduli. Hingga saat ini, kami merasakan bahwa umat Jakarta sungguh murah hati karena banyak membantu kami,” pungkas Sr Elsa.

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*