Artikel Terbaru

Pencemaran Reputasi Gereja

Pencemaran Reputasi Gereja
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pada awal Agustus 2015, saya membaca sebuah dokumen yang disusun berdasarkan pertemuan nasional gerejawi. Dalam dokumen tersebut tertulis, “…, (pada) sesi Menteri Pertahanan ada ketidakjelasan dan kesimpangsiuran selama sesi malam ini berlangsung karena banyak sekali tamu-tamu tanpa undangan, … yang masuk ke ruang pertemuan, … sehingga sungguh mengganggu kenyamanan dan kinerja notulis.”

Dalam perspektif manajemen reputasi disebutkan bahwa penting bagi organisasi memiliki reputasi yang positif. Reputasi berbeda dengan citra. Jika citra merupakan tampilan di permukaan, reputasi lebih merupakan total persepsi dari seluruh pemangku kepentingan atau stakeholders yang terbentuk dalam rentang waktu yang panjang. Reputasi penting bagi organisasi, termasuk Gereja, untuk meneguhkan keberadaan, penerimaan, serta respek dari pemangku kepentingan lain.

Krisis
Organisasi, di manapun berhadapan dengan kemungkinan terjadi krisis. Apa itu krisis? Krisis merupakan ancaman bagi organisasi terhadap kelangsungan organisasi dalam upaya mencapai tujuan (Ulmer, Sellnow & Seeger, 2007; Coombs dan Holladay, 2010; Fink, 2002, 2013). Salah satu tujuan Gereja Katolik adalah membangun kerja sama dan persaudaraan sejati bersama umat beragama dan kepercayaan lain. Itu berarti bahwa isi laporan, pernyataan pers, maupun semua bentuk komunikasi yang disampaikan diadakan untuk memenuhi tujuan mencapai persaudaraan sejati tersebut. Krisis dapat muncul ketika isi laporan, pernyataan pers, atau semua bentuk komunikasi dalam setiap peristiwa yang diadakan Gereja dinyatakan dengan mengacu kepada kepentingan pribadi atau kelompok yang menodai prinsip persaudaraan sejati, dan tidak mempertimbangkan aspek respek pemangku kepentingan eksternal dan internal.

Steven Fink menjelaskan, dalam perspektif anatomi krisis, tahap kerusakan komunikasi seperti ini masuk dalam tahap akut. Krisis diawali dengan tahap prodromal. Sama hal dengan penyakit yang diawali dengan tahap prodromal atau awal timbul gejala yang menunjukkan ciri berkembang suatu penyakit. Maka, krisis juga dicirikan berdasarkan gejala awal yang timbul.

Jika tahap di mana tanda-tanda awal sudah dimunculkan, ternyata organisasi tak juga menanggapi, maka krisis akan berkembang dan bergerak ke tahap akut. Pada tahap ini, kerusakan sudah terjadi. Dari tahap ini krisis akan mudah menggelinding ke arah kronis. Tahap kronis adalah tahap di mana krisis sudah semakin berkelit, dengan banyak faktor, ditambah dengan paparan media massa secara intensif. Pada tahap ini ditandai dengan upaya penyembuhan. Dari upaya penyembuhan ini, krisis diharapkan bergerak ke tahap resolusi, yang berarti bahwa penyembuhan berhasil dilakukan. Organisasi dapat kembali pulih dan berjalan dalam keseimbangan yang baru (Fink, 2002: 23-25).

Menodai reputasi
Komunikasi yang disampaikan satu unit dalam kepanitiaan di Gereja tersebut merupakan suatu hal yang menyedihkan, yang jelas-jelas tidak didorong spirit persaudaraan sejati dan kepentingan bersama, melainkan oleh kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Ketakmampuan mendasarkan kerja dan komunikasi kepada spirit persaudaraan sejati dan justru memenangkan egoisme pribadi merupakan sumber krisis bagi Gereja Katolik dalam membangun reputasi. Reputasi diperlukan Gereja Katolik sebagai basis bagi pertumbuhan kepercayaan dari para pemangku kepentingan, baik eksternal maupun internal, dalam mencapai tujuan persaudaraan sejati dan kerja sama berbasis nilai-nilai universal.

Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi Gereja Katolik. Akankah membiarkan praktik penyalahgunaan kewenangan semacam ini dan mengabaikan bahwa kerusakan komunikasi telah terjadi, sehingga merusak kepercayaan dan kredibilitas Gereja di mata para pemangku kepentingan. Kerusakan komunikasi yang menyedihkan ini harus diakhiri dengan mulai menyusun perencanaan yang lebih strategis.

Puspitasari

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*