Artikel Terbaru

Nikah Massal Ala Katolik

Pemberkatan: Pasutri menggandeng anaknya melangsungkan pernikahan Katolik.
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
Nikah Massal Ala Katolik
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Keuskupan Bogor, Kupang dan Manokwari menggelar pernikahan missal untuk “memutihkan” perkawinan yang belum sah menurut Gereja Katolik.
Prosesi 22 pasang pengantin “luar biasa” menuju ke altar. Ada yang menggandeng anak, ada yang sudah berumur, ada pula yang sudah beberapa tahun hidup serumah. Dengan pakaian pengantin berwarna-warni, mereka bergandeng tangan diiringi lagu John Hayon “Aku Abdi Tuhan.” Penggalan syair yang dinyanyikan kor “Ke depan altar aku melangkah seraya bermadah  bergembira-ria. Saat bahagia hari mulia, hari yang penuh kenangan,” sungguh menyentuh pasangan pengantin itu. Mereka akan menapaki babak baru dalam hidup berkeluarga.
Upacara pernikahan massal itu digelar oleh Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Keuskupan Bogor di Stasi Santo Vincentius Gunung Putri. Pernikahan pasangan suami istri (pasutri) yang sudah hidup serumah dan bahkan ada yang sudah punya anak itu belum “dikuduskan”. Mereka mengikuti peneguhan pembaruan pernikahan dalam suatu Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paroki, Romo Agustinus Suyatno, Sabtu, 25/7. “Di hadirat Allah yang Maha Kuasa, di hadapan kami yang mewakili Gereja, dan di hadapan kedua saksi, hendaknya sekarang bapak-ibu membaharui perjanjian nikah,” kata Romo Yatno mengawali Liturgi Pengukuhan Perkawinan.
Seperti laiknya pengantin baru, setiap pasangan dipanggil maju menghadap imam untuk mengucapkan janji mempelai. Masing- masing pengantin meletakkan tangan di stola imam ketika mengucapkan janji. Setelah 22 pasang pengantin selesai mengucapkan janji pernikahan, imam merentangkan tangan di atas mereka dengan mengucapkan: “Atas nama Gereja Allah dan di hadapan para saksi dan umat yang hadir di sini, saya menegaskan bahwa perkawinan bapak-ibu sekarang diakui Gereja sebagai perkawinan Katolik.” Dalam upacara pernikahan kali ini imam menambahkan ucapan yang tak ada dalam liturgi perkawinan biasa: “Saya menegaskan juga bahwa anak-anak bapak dan ibu yang sudah lahir, diakui pula sebagai anak-anak yang lahir dari perkawinan Katolik.”
Liturgi selanjutnya adalah pemberkatan dan pemasangan cincin. Lagi-lagi pasangan pengantin maju ke depan untuk menerima cincin dari imam untuk dikenakan di jari pasangannya. Seperti pengantin biasa, mereka menerima kitab suci, salip dan rosario dari orang tua atau wali pernikahan mereka.
Mengantar 22 pasang pengantin menuju peneguhan perkawinan, Romo Yatno mengutip Injil Matius 19:3-6 untuk menyegarkan iman mereka. “Mereka ditegur secara halus oleh Tuhan perihal masa lalu mereka. Semua orang pernah salah, tapi hanya orang yang mau berbalik kepada Tuhan yang berhak memperoleh sukacita,” pesan Romo Yatno.
Perasaan gembira meliputi hati mereka yang baru saja “memutihkan” pernikahan mereka. “Inilah momen bahagia dalam hidup kami,” ujar Lidwina Wau, peserta kawin massal. Sementara Adriana Bela Malo, salah satu pengantin massal mengisahkan, “Setiap hari saya berdoa agar Tuhan mengizinkan kami menikah secara Katolik. Enam tahun merasa jauh dari Tuhan. Saat ini saya bebas dari semua itu,” katanya.
Setelah “pemutihan” pernikahan, 22 pasang pengantin massal bertambah bahagia karena anak-anak mereka hari itu langsung dibaptis. Ada 24 anak dari pengantin baru itu yang menerima Sakramen Baptis.
Gerakan Bersama
“Pemutihan” perkawinan di stasi Gunung Putri itu merupakan program Keuskupan Bogor. Langkah pastoral itu dimulai dari kesadaran umat di lingkungan ketika menghayati tema APP 2015 “Keluarga Sumber Sukacita”. Umat menemukan masih banyak keluarga yang pernikahannya belum dibereskan secara Katolik. “Dalam berpastoral ternyata tidak mudah menemukan keluarga yang bermasalah. Banyak yang menutup diri terhadap uluran tangan Gereja,” kata Rony Simanjuntak, Ketua Stasi Gunung Putri.
Gerakan pemberesan perkawinan secara massal ini juga diadakan di beberapa paroki di luar Keuskupan Bogor. Misalnya, Paroki Santa Maria Merapi, Fakfak (arah Selatan dari kota Sorong). Menurut Romo Zepto-Triffon Polii, Ketua Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Manokwari-Sorong, pada 2007 ditemukan lebih dari seratus pasutri bermasalah. Ada di antara yang berusia 60 tahun.
Mereka tersebar di tiga stasi yakni Wayati, Brongkendik, dan Mendopma. Di lain tempat, di Paroki St Yohanes Pembaptis Klasaman, Kota Sorong, pada 2010, terdapat 43 pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan sah.
Setelah melalui berbagai pendekatan dan didukung dengan katekese intensif, dalam rentang tahun 2007-2010 telah diberkati 120 pasangan. Sedangkan di Paroki Klasaman dalam kurun 2012-2015 diberkati 20 pasang. “Saat ini masih ada 10 pasang yang sedang dipersiapkan untuk “pemutihan” dengan pernikahan massal pada akhir tahun ini,” kata Romo Zepto.
Fenomena pernikahan tidak sah menurut Gereja Katolik juga terjadi di Keuskupan Agung Kupang (KAK). Ada tiga masalah utama yang dihadapi parokip-paroki di KAK, antara lain masalah keyakinan, adat dan ekonomi.
Menurut Romo Sebastianus Kesi, Pastor Paroki St Familia, Sikumana Kupang, banyak keluarga dimanjakan oleh program nikah massal oleh pemerintah Kota Kupang. Pemerintah membantu administrasi catatan sipil, makanan ringan atau makan besar sehingga banyak keluarga hidup bersama sambil menunggu program nikah massal dari pemerintah. Akibatnya banyak pasutri yang menikah melalui program pemerintah tanpa proses secara Gereja Katolik.
Pada Jumat, 3 Juli 2015, enam paroki di KAK bergabung dan menggelar nikah massal. Paroki Santo Yoseph Naikoten 6 pasutri, Paroki Santo Gregorius Oeleta 6 pasutri, Paroki Santa Familia Sikumana 5 pasutri, Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui 4 pasutri, dan Paroki Katedral Kristus Raja sebanyak 20 pasutri.
Pernikahan massal tetap melalui proses sesuai dengan aturan Gereja Katolik. Mulai dari administrasi sampai pemeriksaan kanonik. Menurut Ambrosius Ladja, Romo Paroki Katedral Kristus Raja Kupang, data keluarga diperoleh melalui ketua KUB (Kelompok Umat Basis) bersama ibu-ibu Legio Mariae. “Setelah itu dibuat kursus perkawinan dan proses kanonik sebagaimana mestinya sesuai hukum Gereja,” kata Romo Ambros.
Yusti H.Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*