Artikel Terbaru

Sakral Tak Harus Mahal

Pasangan Bahagia: Para Peserta nikah massal di Papua.
[tabloidjubi.com]
Sakral Tak Harus Mahal
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa keuskupan di Indonesia mempraktikan pastoral pernikahan massal. Langgam karya pelayanan ini ikut menjaga kesucian ikatan keluarga.

Demi menyambung hidup, Yohanes Inocentius Raatkey hijrah ke Jember, Jawa Timur. Bersama pamannya, pemuda asal Maluku ini menjajakan barang antik di rantau. Di sana, Ino sapaannya, berkenalan dengan Yesi Lestari, perempuan asal kota itu. Seiring waktu, mereka berpacaran. Sayang, niat untuk menikah terkendala, keduanya berbeda agama. Ino penganut Katolik, sedangkan Yesi muslimah.

Tak mudah bagi Ino untuk membawa Yesi masuk dalam pangkuan Gereja Katolik. Calon istrinya berasal dari keluarga Islam taat. Bahkan ayah Yesi adalah imam masjid di sana. Orangtua Yesi mengabulkan niat mulia Ino. Tapi dengan satu catatan, Ino harus jadi mualaf.

Beda Agama
Ino terkejut dengan permintaan orangtua Yesi. Dilematis, menanggalkan imannya atau mengakhiri hubungan dengan sang pujaan hati. Sayang, ia tak punya pilihan ketiga, mempertahankan imannya dan mengajak Yesi kawin lari. Sebab, tanpa sepengetahuannya, keluarga Yesi sudah mempersiapkan acara pernikahan mereka.

Ino tak tega membatalkan semua persiapan calon mertuanya. Mereka pun menikah. Prosesi pernikahan berlangsung di Masjid Jami’ Al Baitul Amien, Jember. Usai mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ustad, Ino resmi jadi mualaf. Lalu, mereka ijab kabul di depan penghulu. “Semua terjadi begitu saja. Demi cinta, saya terpaksa jadi mualaf,” kata Ino.

Setahun di Jember, Ino lalu memboyong Yesi ke Gunung Putri, Bogor. Tahun 2011, Yesi melahirkan anak pertama, Faustinus Raatkey. Selang dua tahun, mereka mendapat anugerah, Donatus Raditya Raatkey. Tak lama anak kedua lahir, mereka membaptiskannya. Ino bersyukur anak-anaknya bisa menjadi warga Gereja Katolik, kendati ia dan istrinya belum menikah secara Katolik.

Suatu hari, Ketua Lingkungan berkunjung. Kebetulan saat itu, ia masih menumpang di rumah kakaknya. Kesempatan itu ia gunakan dengan baik. Ino menceritakan problem yang mereka hadapi pada Ketua Lingkungan.

Seiring waktu, timbul kerinduan Yesi menjadi Katolik. Selama hidup bersama, ia merasakan keluarga suaminya sangat baik padanya. Umat lingkungan pun menerima kehadiran mereka. Ia dan suaminya aktif ikut Doa Rosario Lingkungan dan rutin Misa Mingguan.

Tahun 2012, Yesi mengutarakan niatnya mengikuti Kristus. Berkat bantuan warga lingkungan, ia akhirnya menggapai kerinduannya. Ketua lingkungan membantu menyelesaikan administrasi pernikahan hingga mereka dapat meresmikan ikatan suci di Kapel St Vincentius Gunung Putri, Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Keuskupan Bogor.

Beda Gereja
Lain kisah dialami Sahat P. Sitio dengan Ivo Helen Natalia Sigiro, setelah tiga tahun pacaran hubungan keduanya terancam bubar. Orangtua Ivo sudah punya calon pendamping hidup lain untuk putrinya.

Orangtua Ivo menilai, hidup anaknya akan lebih terjamin apabila Ivo menikah dengan calon pilihan orangtuanya yang telah mapan secara ekonomi. Selain itu, pria ini berasal dari keluarga Katolik. Ivo akan dinikahkan dengan pariban-nya (sepupu), calon pasangan itu dianjurkan secara adat Batak untuk dinikahkan.

Sitio terpukul mendengar keputusan orangtua Ivo. Setali tiga uang dengan Sitio, Ivo pun menolak bersanding dengan pria pilihan orangtuanya. Mengetahui orangtua Ivo telah menetapkan tanggal pernikahannya keduanya nekat lari dari Medan dan tinggal bersama di Bekasi.

Setahun tinggal bersama tanpa ikatan resmi, Sitio dan Ivo menjadi buah bibir tetangga. Agar pergunjingan tak meluas, mereka menikah secara Protestan di Gereja Betel Indonesia, Bekasi, Jawa Barat.

Tak lama kemudian, mereka pindah ke Perumahan Griya Bukit Jaya, Gunung Putri. Di tempat baru, mereka tak pernah mendapat layanan rohani dari pendeta. Mereka justru sering bertemu orang Katolik yang ternyata Ketua Lingkungan. Sitio minta pada Ketua Lingkungan, agar diberitahu jika ada ibadat ekumene.

Gayung bersambut. Suatu hari mereka mendapat undangan ibadat ekumene dari Ketua Lingkungan St Bartolomeus. Kebetulan pemimpin ibadat ekumene adalah pastor. Mereka tertegun mendengar khotbah Pastor Rekan Paroki Keluarga Kudus Cibinong, RD Agustinus Suyatno. “Khotbah Romo sederhana, namun mengena dengan kehidupan kami,” ujar Sitio.

Sitio pun tak lupa akan khotbah Romo Yatno saat perayaan Paskah di paroki dua tahun lalu, “Semua orang pernah jatuh dalam kesalahan, tapi hanya orang yang berani menatap hidup ketika jatuh kemudian bangun lagi dan meneruskan perjalanan.”

Selang beberapa hari, Sitio mengutarakan niatnya menjadi Katolik pada Ketua Lingkungan. Meski dijelaskan menjadi Katolik itu tak gampang dan prosesnya panjang, ia tetap berbulat hati menjalaninya. Sejak saat itu, Ketua Lingkungan mulai memperkenalkan keluarga Sitio dengan keluarga-keluarga Katolik di lingkungannya. Mereka mulai terlibat dalam sejumlah kegiatan paroki dan lingkungan. Saban Minggu, Sitio mengajak istri dan dua buah hatinya, Moses Ananda dan Morah Guideon, ikut Misa.

Tahun 2014, Sitio resmi menjadi Katolik. Tak lama kemudian, ia mendengar pengumuman akan ada pernikahan massal di Kapel St Vincentius. Sitio dan Ivo pun mendaftar dan menikah secara Katolik bersama 22 pasangan lain akhir Juli lalu.

“Tuhan membuka jalan kami berkat Ketua Lingkungan. Kami juga bersyukur, Moses dan Guideon bisa dibaptis secara Katolik. Sungguh sangat bahagia,” kata Ivo dengan mata berkaca-kaca.

Tuntutan Adat
Gembira dan haru juga menyelimuti Demianus Tenau dan Ivonnie Fattie. Setelah 11 tahun hidup bersama tanpa ikatan resmi Gereja Katolik, umat Paroki St Yohanes Pembaptis Sorong, Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS) ini akhirnya saling menerimakan Sakramen Perkawinan pada 2012. Selain mereka, ada 23 pasangan lain.

Demianus mengisahkan, ada beberapa hal yang membuat pernikahannya di Gereja tertunda.  Pertama, adat. Dalam tradisinya, bila pria belum memberi mas kawin, pernikahan di Gereja belum bisa dilangsungkan. Namun mereka bisa hidup bersama lewat pernikahan adat. Demianus pun tetap harus melunasi mas kawin pada keluarga perempuan.

Menikah secara adat tahun 2001, Demianus baru bisa mencicil mas kawin pada keluarga perempuan pada 2008 dan lunas pada 2012. Menurutnya rentang waktu pelunasan bergantung pada nilai mas kawin yang diminta keluarga perempuan.

Saat itu, keluarga istrinya minta mas kawin dua lembar kain Timor asli masing-masing seharga Rp 30 juta, 125 lembar kain blok per lembarnya Rp 2,3 juta, kain campuran seharga Rp 600 ribu-Rp 1 juta per lembar, dan uang Rp 50 juta. Nominal mas kawin yang telah disebutkan baru satu tahap, masih ada dua tahap lain, yakni “uang pintu” dan “bayar anak”. Kedua proses itu punya nominal berbeda.

Kedua, biaya acara pernikahan di sana nilainya sangat fantastis. Masyarakat Papua, khususnya Sorong punya dua gaya acara pernikahan, yaitu bergengsi dan sederhana. Anggaran nikah bergengsi sekitar Rp 50 juta-Rp 100 juta. Sedangkan biaya nikah sederhana sedikitnya Rp 2 juta.

Pegawai Dinas Pertanian Kota Sorong ini bersyukur, program nikah massal di KMS sangat membantu banyak pasangan yang terbatas kemampuan ekonominya. Seperti yang ia alami, biaya pernikahan massal per pasangan Rp 300 ribu. Namun lagi-lagi persoalannya, mereka baru bisa menikah di Gereja asalkan mas kawin yang nilainya aduhai itu sudah lunas.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*