Artikel Terbaru

Merasul Usai Selamat Dari Overdosis

Antonius Laba.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Merasul Usai Selamat Dari Overdosis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sadar terjerat narkoba Laba berusaha menjauhi barang terlarang itu. Usaha sang junkies (pecandu narkoba) ini selalu gagal bahkan nyaris mati. Teater memberinya jalan untuk bertobat.

Paulus Boli tergeletak di tanah. Tubuhnya bersimbah darah. Pria paroh baya ini lebam oleh hantaman benda keras dan tersayat sabetan senjata tajam. Kondisi pria asal Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini pun kritis. Beruntung ia tak kehilangan nyawa. Setelah beberapa hari menjalani perawatan di RS Sumber Waras, Grogol, Jakarta Barat ia pun sembuh.

Musibah yang menimpa Boli ini terjadi pada 1981. Saat itu sekelompok orang tak dikenal masuk ke lahan milik Paroki St Kristoforus Grogol. Boli yang diminta menjaga lahan itu mendatangi sekelompok orang itu. Malang, ia malah dikeroyok hingga nyaris meregang nyawa.

Peristiwa tragis itu tersimpan di benak sang anak, Antonius Laba. Hingga ayahnya wafat, keluarga tak pernah tahu siapa sekelompok orang yang mengeroyok suami Maria Mujina ini. “Semua Bapak simpan dalam hati. Bapak tahu, jika sampai angkat bicara, kejadian itu bisa merambat luas,” kata Laba, mengenang.

Mengendus Pelaku
Antonius Laba tinggal di lingkungan yang keras. Hampir tiap hari terjadi perkelahian antar pemuda. Minuman keras beredar bebas dan masif. Para pemuda pengangguran mabuk-mabukan, memeras dan melakukan tindak kriminal lain.

Laba yang waktu itu masih duduk di bangku SMP rupanya menyimpan dendam atas kematian sang ayah. Ia bertekad menuntut balas pada pelaku pengeroyokan ayahnya. Untuk menggali informasi tentang siapa pelaku pengeroyokan itu, ia memilih untuk berbaur dengan masyarakat. Ia melakoni kebiasaan pemuda setempat, dengan nongkrong, menenggak miras, dan tawuran. Seiring waktu, dunia pergaulannya kian meluas. Nama dan sepak terjangnya pun mulai diperhitungkan di berbagai kalangan, termasuk para jawara kampung.

Laba berhasil mengendus informasi para pelaku pengeroyokan bapaknya. Namun, ia tak mampu membalas aksi keji mereka. Bukan lantaran takut, tapi pesan dan sikap bapaknya kala itu selalu terngiang di telinganya. Bapaknya sengaja diam dan menyembunyikan nama pelaku karena tak ingin masalah menjadi kian pelik.

Misi pembalasan dendam tak kesampaian. Tapi ia tidak berhenti menenggak miras. Laba justru tergiur mencicipi narkoba. Saat itu, barang haram jenis BOO atau “anjing gila” menjadi santapan hariannya. Hari demi hari, Laba naik tingkat. Berbagai jenis barang haram itu pun sudah ia rasakan.

Menginjak SMA, Laba sempat jadi bhironk (pesuruh) bila ada teman-teman yang butuh “barang”. Ia juga bisa jadi pengedar atau penghubung antara BD (bandar narkoba) dengan “pasien” (pembeli). Jika ia ingin narkoba buat di konsumsi sendiri, banyak rekan memberinya secara gratis. Maklum, teman-temannya berasal dari keluarga kaya.

Laba sukses menjadi junkies, sekaligus pengedar barang haram pada usianya yang masih hijau. Ia makin keranjingan narkoba. adiknya juga ia ajak. Menurut laba, hal itu lebih baik daripada adiknya tahu dan belajar dari orang lain. “lingkungan saya saat itu sudah rusak. Jika bukan saya, siapa lagi yang mampu mengawasinya,” kilahnya.

Berjuang Sembuh
Tahun 1989, Boli, bapaknya meninggal. Peristiwa ini memukul keluarganya. Laba sadar, ia menjadi andalan dan tulang punggung keluarga. Pria penyuka basket dan sempat mengharumkan nama sekolah di tingkat provinsi ini pun bertekad meninggalkan kebiasaan buruknya.

Kebetulan saat itu (tahun 1990an) Remy Sylado, Arswendo Atmowiloto, dan Adi Kurdi gencar melatih teater kepada kaum muda di paroki-paroki. Laba pun ikut kegiatan itu. usai mendapat pelatihan, Laba terjun ke sanggar Teater Yuka arahan Renny Djayusman. selama tiga tahun ia bergabung dalam kelompok teater ini. Namun tekad bertobat dari jerat narkoba tak kesampaian. Ia justru kembali menikmati barang haram ini setiap usai pementasan. “Istilahnya pada waktu itu, kita ingin menanggalkan lakon atau peran di panggung,” katanya.

Suatu malam tahun 2002, Laba gering hebat. Ia muntah-muntah. Empat hari ia membungkus diri di kamar. saat itu, ia sudah total tak mengkonsumsi narkoba. Peran sebagai pendamping kelompok Teater sahid milik mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Tangerang memaksanya untuk hidup “bersih”.

Beruntung di saat genting, seorang teman melarikannya ke klinik kampus. Namun karena keterbatasan layanan medis, Laba dirujuk ke rumah sakit. Saat-saat sakratul maut, ia bernadar, seandainya sembuh akan melayani sesamanya, terutama yang terjerat narkoba seperti dirinya.

Keesokan pagi, ia merasa lapar luar biasa. Ia makan dengan lahap. Keluarganya pun tertegun melihat kelakuannya. Nyawa pria kelahiran Ende, NTT, 14 Agustus 1968 ini terselamatkan.

Titik Balik
Selang satu tahun, Laba masuk Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) Shekinah di Duta Merlin, Jakarta Pusat. Berbekal keterampilannya di dunia teater, usai lulus dari Shekinah, ia diminta mengajar drama di almamaternya hingga kini. selain itu, ia juga menepati janjinya. setidaknya dua kali seminggu ia mengunjungi lembaga pemasyaratan (lapas) di Jakarta dan Tangerang.

Tahun 2014, Laba menyutradarai pentas teater berjudul “Hening: Menjemput Kebebasan Sejati” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. seluruh pemain dalam teater itu adalah para Warga Binaan lapas Perempuan Tangerang. “Ini sudah jadi panggilan. Bagi saya, pemberdayaan dan penyadaran paling efektif untuk Warga Binaan melalui teater,” ujar laba saat ditemui HIDUP, Senin, 10/8.

Lebih lanjut Laba mengungkapkan, manfaat utama berteater bukan sekadar tampil bagus di atas panggung dan pandai mengolah mimik, melainkan kedisiplinan dan kedekatan dengan realitas sosial. Kedisiplinan dan kemampuan pemain membahasakan kenyataan sosial itulah yang membuahkan penampilan apik di panggung.

Selain teater, bersama komunitas Efata, Laba membekali para Warga Binaan dengan keterampilan berbicara di depan umum dan penulisan kreatif. Pada akhir Februari 2015 ia mendatangkan Khrisna Pabichara, penulis novel “sepatu Pak Dahlan” ke lapas Perempuan Tangerang.

Meski giat dengan karya kerasulan di lapas, Laba tak abai dengan keluarganya. selama dua bulan terakhir, tiap hari suami Irena Eva Yuliana ini selalu mengantar putranya, Joshua Christiano Boli. “saya sangat menikmati peran sebagai ayah,” pungkas aktivis yang sempat bergabung dalam  Antidrug Advisor and Concern (ADAC). Ini adalah organisasi masyarakat yang berfokus pada penyuluhan narkoba ke setiap lembaga pendidikan.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*