Artikel Terbaru

Mengupas Lika-liku Kehidupan Soekarno Secara Lengkap

Peter Kasenda.
[NN/Dok.Pribadi]
Mengupas Lika-liku Kehidupan Soekarno Secara Lengkap
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menulis buku perlu suasana hati yang baik. Bagaimana jika seorang penulis sedang mengalami suasana hati yang tidak baik. Peter Kasenda, penulis lebih dari 10 buku memberikan tips.

Buku bertajuk “Sukarno di Bawah Bendera Jepang” telah terbit dan beredar pada Juli lalu. Buku yang mengisahkan perjuangan Presiden Pertama RI Sukarno yang penuh lika-liku membawa bangsa ini menuju ke kemerdekaan adalah pena Peter Kasenda. Buku ini menjadi karya Peter yang ketiga pada tahun ini. Dua karya buku yang lain adalah “Sarwo Edhie dan Tragedi 1965” serta “Hari-hari Terakhir Orde Baru, Menelusuri Akar Kekerasan Mei 1998”.

Meskipun usia telah berkepala lima, namun Peter masih giat menulis. Semenjak 2010, Peter memang berniat menerbitkan minimal dua buku dalam satu tahun. Buku-buku itu ada yang berisi tulisan lengkap, tapi ada pula yang berupa kumpulan tulisan. Ia mengumpulkan tulisan-tulisan yang tercecer, yang pernah dimuat di berbagai media massa, lalu dibukukan.

Kiat menulis
Peter mulai berminat menulis ketika kuliah di Universitas Indonesia. Mula-mula, ia hanya gemar membaca. Hampir seluruh buku yang ada di rak buku milik sang ayah, ia lahap habis. Uang saku yang diberikan sang bunda, ia belanjakan buku. Jika ada buku-buku baru, pasti ia beli. Lambat-laun kegemaran membaca membawa Peter kepada dunia menulis. Naskah pertama karya Peter dimuat di “Harian Prioritas”.

Sejak Oktober 1986 Peter serius menggeluti dunia tulis-menulis. Kini, bagi Peter, menulis tak sekadar menyalur hobi, tetapi telah menjadi profesi. “Bisa disebut hobi, karena menjadi sarana eksistensi diri. Tapi, menulis juga pekerjaan saya, karena saya mendapatkan sejumlah kompensasi,” ujar pria kelahiran 13 Januari 1957 ini.

Semasa kuliah, Peter aktif di Komunitas Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PM-KAJ). Pada 1991, Peter menulis buku Sejarah Paroki Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta. Selain bergiat di PM-KAJ, Peter juga aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Pada awal 2000-an, selain menulis buku, Peter juga aktif mengajar di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta dan Universitas Bung Karno Jakarta.

Menurut Peter, menjadi seorang penulis tak sama dengan melakukan pekerjaan lain. Menulis memerlukan suasana hati yang baik. Suasana hati ini, ujar Peter, amat berpengaruh kepada proses penulisan. Peter memiliki cara untuk mengatasi suasana hati yang sedang buruk atau bad mood. “Kalau sedang  bad mood biasanya saya tidak menulis. Saya pergi ke mall, cari buku sambil cari suasana yang lebih segar. Karena penulis tidak bisa mengandalkan wangsit atau ilham,” katanya memberi siasat. Selain itu, jika ide menulis sedang buntu, Peter mengatasi dengan mendengar musik atau menonton film.

Peter juga memiliki trik khusus mengatasi suasana hati yang sedang tak baik untuk menulis. “Menulis dua buku dalam satu waktu,” katanya. Jadi kalau sedang buntu menulis satu buku, ia beralih ke buku yang lain, sehingga proses menulis tidak berhenti di tengah jalan.

Sosok Sukarno
Presiden Pertama RI Sukarno menjadi sosok yang menarik menjadi bahan tulisan Peter. Ia sudah menulis beberapa buku tentang Sukarno. Saat ini, Peter sedang berencana menulis lika-liku kehidupan Bung Karno secara lengkap. “Mungkin buku ini akan menjadi sekitar 1000 halaman. Semoga bisa terlaksana pada 2018,” kata Peter penuh harap. Karya lengkap tentang Sukarno ini dipicu karena selama ini, tak ada satupun buku tentang Sukarno yang lengkap dan komprehensif.

Peter berkenalan dengan sosok Sukarno ketika ia selesai membaca buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat.” Buku ini merupakan koleksi sang ayah. Peter mengagumi bukan hanya sebagai Presiden Pertama RI. Sukarno, bagi Peter, adalah pemimpin dengan ide-ide yang cemerlang. “Sukarno tak hanya pandai berbicara, tapi ia juga pandai menulis. Selain Sukarno, saya juga kagum dengan Tan Malaka dan Syahrir,” ucap dia.

Buku pertama Peter tentang Sukarno terbit pada 1991 bertajuk “90 Tahun Bung Karno.” Setelah itu terus mengulik sejarah tentang Sukarno. Beberapa buku yang berbicara tentang Sukarno pun ia terbitkan. Dan buku yang baru saja ia luncurkan berjudul “Sukarno Di Bawah Bendera Jepang,” buku ini dibawa dan dipresentasikan Peter ke sekolah-sekolah dan kampus.

Penulis bahagia
Bagi Peter, kepuasan seorang penulis adalah ketika karya bukunya dibaca dan diapresiasi masyarakat pembaca. “Saya senang jika ada orang yang mau membaca buku saya. Selain itu, jika ada orang mau berdiskusi tentang isi buku saya.” Suatu ketika ada pembaca yang mengaku merasa sedih dan menangis saat membaca buku “Hari-Hari Terakhir Sukarno.” Buku karya Peter ini terbit pada 2012. “Saya puas dan bahagia sekali,” ujarnya.

Rasa bahagia kembali hinggap dalam diri Peter saat ada seseorang yang mengaku cucu Zulkifli Lubis. Zulkifli Lubis adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada 1955. Zulkifli adalah peletak dasar pendirian lembaga intelejen Indonesia. Sang cucu mengucapkan terima kasih kepada Peter, lantaran telah menulis buku tentang kakeknya yang berjudul “Zulkifli Lubis, Kolonel Misterius Di Tengah Pergolakan TNI-AD.”

Namun bagi Peter, menjadi penulis buku tak cukup berpuas diri dan bangga dengan bukunya. Buku mesti memberikan pencerahan bagi masyarakat pembaca. “Sebuah buku tidak cukup hanya laku di pasar saja, tapi sebagai penulis harus menjaga kualitas bukunya,” ucap pria penyuka musik Gregorian ini.

Peter Kasenda
TTL : Bandung, Jawa Barat, 13 Januari 1957

Pendidikan:
• Jurusan Perancis dan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Karya buku:
• 90 Tahun Bung Karno (1991)
• Biografi Pemikiran Sukarno 1926-1933 (2010)
• Kembali Ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2011)
• Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011)
• Zulkifli Lubis, Kolonel Misterius Di Tengah Pergolakan TNI-AD (2012)
• Hari-Hari Terakhir Sukarno (2012)
• Soeharto Penerus Ajaran Politik Sukarno (2012)
• Soeharto, Bagaimana Dia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun? (2013)
• Dokter Soetomo (2013)
• Bung Karno Panglima Revolusi (2014)
• Sukarno, Marxisme, dan Leninisme (2014)
• Sarwo Edhie dan Tragedi 1965 (2015)
• Hari-Hari Terakhir Orde Baru-Menelusuri Akar Kekerasan Mei 1998 (2015)
• Sukarno Di Bawah Bendera Jepang (2015)

Angela Rijanti

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*