Artikel Terbaru

Oase Rohani Bagi Para Mahasiswa

Siap Dibasuh: Misa Kamis Putih yang diselenggarakan oleh PMKAJ Unit Timur pada 2014.
[Dok. Romo Antonius Didit Soepartono]
Oase Rohani Bagi Para Mahasiswa
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Di tempat ini para mahasiswa Katolik di wilayah Timur kota Jakarta dikumpulkan. Mereka dibina dengan berbagai kegiatan, agar spiritualitas kekatolikan semakin meningkat dan persaudaraan semakin tumbuh.

Suasana sepi menyapa, saat HIDUP menyambangi Wisma Adisucipto yang beralamatkan di Jl Cipinang Baru Timur, No. 4 RT/001 RW/018 Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis, 9/7. Di wisma dengan luas sekitar 300 meter persegi inilah para mahasiswa anggota Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta-Unit Timur (PMKAJ UT) bermarkas.

“Mari kak, maaf beginilah kalau kampuskampus lagi ujian,” ujar Ketua PMKAJ UT 2014-2015, Kinanti Maya Tri Andini menyambut HIDUP. Beberapa anggota pengurus PMKAJ UT yang lain serentak berdiri dan ikut-ikutan menyalami HIDUP. Kami pun tenggelam dalam cerita seputar PMKAJ UT.

Menurut Maya, sekali seminggu para pengurus biasa berkumpul untuk membicarakan rencana kegiatan sekaligus mengecek progres dari rencana yang sudah mereka buat. Secara spesifik, kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan adalah kegiatan rohani dan pengembangan diri. “Ini pastoral mahasiswa kak, bukan politik, jadi kegiatannya masih seputar bidang kerohanian saja,” kata dara kelahiran Bekasi, 19 Desember 1993 ini menjelaskan.

Bermula dari Represi
Kehadiran PMKAJ UT tidak bisa dilepaskan dari kelahiran PMKAJ yang lahir karena depolitisasi mahasiswa. Pada 1978, Pemerintah Orde Baru menetapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKKK). Kebijakan ini membatasi partisipasi mahasiswa di ranah politik praktis. Dampak dari NKK/BKK ini kemudian mempengaruhi redupnya organisasi-organisasi mahasiswa termasuk Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).

Waktu itu, dinamika organisasi-organisasi mahasiswa berubah drastis. Gerakan mahasiswa tak lagi muncul ke permukaan. Beberapa kelompok mahasiswa Katolik mengubah haluan organisasi mereka. Ada yang condong kepada kegiatan-kegiatan seperti Misa, retret, dan rekoleksi. Menurut Peter Kasenda dalam bukunya “Sejarah Paroki Mahasiswa” dituliskan bahwa Misa Kampus di Aula Theresia pada 1980 dihadiri sekitar 50 mahasiswa, dan peristiwa inilah yang menjadi fondasi awal berdirinya PMKAJ.

Awalnya, PMKAJ pernah disebut sebagai Paroki Mahasiswa. Tetapi mengingat pelayanan untuk mahasiswa tidak meliputi aspek-aspek administratif layaknya sebuah paroki, pada 1997 Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ menyebut pelayanan ini sebagai pelayanan Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ).

Sampai sekarang, secara struktural PMKAJ berada di bawah Vikaris Epis kopalis (Vikep) Kategorial KAJ yang secara khusus memperhatikan pelayanan Gereja kepada kelompok-kelompok kategorial yang tidak berbasis paroki/teritorial. Mengingat wilayah jangkauan dan banyak nya jumlah kampus di KAJ, maka Kardinal Darmaatmadja menetapkan lima unit layanan PMKAJ yang terdiri dari PMKAJ Unit Tengah, Barat, Timur, Selatan, dan Pastoran Unika Atma Jaya Jakarta.

Menjalin Persaudaraan
Saat ini, wilayah layanan PMKAJ UT meliputi 16 kampus yang terbentang dari kampus Politeknik Manufaktur Astra Tanjung Priok di bagian Utara; Sekolah Tinggi Ilmu Statistik di Cawang Otista sebagai batas selatan; Akademi Teknik Mesin Indonesia Cikarang di bagian Timur; dan Universitas Dharma Persada, Pondok Kelapa di daerah Barat.

Beberapa mahasiswa yang aktif dalam komunitas ini pada umumnya tertarik bergabung karena lokasi kampus mereka di wilayah Timur dan memiliki keinginan untuk berkumpul dengan teman-teman Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) dari kampus lain. Saking rutinnya mereka berkegiatan, terutama para pengurusnya kadang merasakan bahwa PMKAJ UT sebagai kampus kedua bagi mereka.

Berbagai kegiatan itu, oleh para aktivis PMKAJ UT sungguh dirasakan manfaatnya bagi perkembangan diri mereka, salah satunya Maya. Menurut mahasiswi STKIS Tarakanita, Jakarta ini berbagai kegiatan PMKAJ UT telah memberikan kontribusi pada pengembangan diri para mahasiswa. Misalnya, kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), Misa bulanan, dan Napak Tilas (mengikuti jejak). Selain fokus pada pelayanan pastoral kepada mahasiswa, PMKAJ UT juga menggembleng anggotanya supaya berjiwa pemimpin. “Selain itu, PMKAJ UT menjalin persaudaraan antara mahasiswa,” ujarnya.

Salah satu pengurus PMKAJ UT yang lain, Frelly Sitanggang melihat bahwa PMKAJ UT bisa berfungsi sebagai pemersatu KMK di Unit Timur. Hal itu tampak dalam berbagai kegiatan yang bernuansa persaudaraan seperti Misa bulanan setiap hari Jumat pertama, Misa Natal-Paskah, dan LDK. “Seluruh kegiatan itu dikemas dalam nuansa persaudaraan dengan melibatkan semua anggota,” ujar mahasiswa Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kelahiran Jakarta, 9 September 1994 ini.

Napak Tilas
Jika rangkaian kegiatan di atas, mempersatukan mahasiswa Katolik di Unit Timur, maka “Napak Tilas” memiliki fungsi lebih besar lagi. Napak Tilas merupakan kegiatan khas PMKAJ semua unit. Pada setiap hari raya Jumat Agung, mereka akan mengadakan Napak Tilas untuk merenungkan dan menghayati kisah sengsara Yesus Kristus.

Saat Napak Tilas, PMKAJ dari semua unit akan berkumpul di titik tertentu dengan berjalan kaki dari markas mereka masing-masing menuju Katedral Jakarta. Biasanya, setiap unit akan berkoordinasi supaya tiba secara bersamaan di Katedral Jakarta. Pada Napak Tilas April 2015, PMKAJ UT mengutus sekitar seratus mahasiswa. Dan ketika mereka berkumpul di Katedral Jakarta total peserta yang ikut mencapai seribu orang mahasiswa.

Ketika tiba di Katedral, mereka disambut Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo. Dalam pelaksanaan Napak Tilas ini, supaya acara berjalan lancar mereka biasa dibantu oleh para frater dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Oase Iman
Melihat berbagai aktivitas komunitas ini, moderator PMKAJ UT Romo Antonius Didit Soepartono, berpendapat bahwa PMKAJ hendaknya menjadi oase rohani bagi para mahasiswa. Menjadi oase, artinya PMKAJ dapat menjadi wadah, fasilitas, di mana para mahasiswa dapat mengikuti kegiatan-kegiatan PMKAJ dengan fasilitas yang tersedia sehingga mereka bisa bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan juga bisa bertumbuh menjadi kader muda Katolik yang beriman.

Untuk menuju tujuan itu, Romo Didit berharap agar kegiatan PMKAJ UT selalu terkait dan berlanjut dari satu generasi ke generasi lainnya. Memang usaha ini tidak mudah, perlu kesetiaan dalam bekerja dan keterlibatan dalam mengembangkan pelayanan pastoral mahasiswa. “Selain itu perlu komunikasi yang baik dan berkesinambungan antara moderator, pengurus PMKAJ UT dan pengurus KMK di masing-masing kampus,” ujar Romo yang pernah bertugas di Paroki Jalan Malang ini.

Ke depan, Romo Didit berharap agar PMKAJ khususnya Unit Timur dapat bekerja sama dengan kelompok kategorial KAJ lainnya. Mereka harus bisa bekerjasama dan saling bersinergi sebagai gerakan umat Allah yang bercita-cita menjadi pewarta sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan. “Harapan ini sudah disesuaikan dengan Arah Dasar Pastoral KAJ 2016-2020 yang sudah dicanangkan,” pungkas Romo Didit.

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*