Artikel Terbaru

Rela Menyerahkan Nyawa Demi Umat Kei

Makam Mgr Aerts MSC.
[Peter Rahawarin]
Rela Menyerahkan Nyawa Demi Umat Kei
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tujuh puluh lima tahun yang lalu, Mgr Aerts MSC bersama para misionaris MSC ditembak di tepi Pantai Langgur, Maluku Tenggara. Mereka menyerahkan nyawa mereka demi umat.

Berada di jalan utama kota Langgur, Kei-Maluku Tenggara, terdapat sebuah kompleks taman dengan sebuah salib yang berada di tengah-tengah. Di gapura pintu gerbang selatan dari arah Langgur terdapat tulisan “Taman Bahagia Mgr Aerts MSC dkk”. Inilah monumen sejarah yang dibangun untuk mengenang peristiwa penembakan Vikaris Apostolik Nuova Guinea Olandese kala itu, Mgr Arnoldus Johannes Hubertus Aerts MSC bersama para misionaris yang lain oleh tentara Jepang pada 30 Juli 1942.

Tempat ziarah ini berada di tepi Pantai Langgur, berseberangan dengan Gereja Katedral Langgur, Keuskupan Amboina. Tempat ini diyakini sebagai tempat penembakan terhadap Mgr Aerts dan para biarawan, 75 tahun yang lalu. Salib yang berdiri tegak di tengah-tengah kompleks Taman Bahagia Mgr Aerts MSC dkk diyakini sebagai tempat eksekusi bagi para martir tersebut.

Kompleks tempat ziarah dengan luas sekitar satu hektar ini dikelilingi tembok. Relief-relief menghiasi tembok-tembok itu yang menceritakan masuknya Gereja Katolik di Tanah Kei sejak 1889, kisah perkembangan agama Katolik di Kei. Kisah lain dalam relief tersebut adalah penyerahan karya misi dari para imam Serikat Yesus (SJ) kepada imam Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) hingga kisah kedatangan Mgr Aerts dan peristiwa keji penembakannya bersama para misionaris lain. Melihat relief-relief ini, umat diajak untuk mengenang peristiwa iman yang terjadi di Kepulauan Kei dan sekitarnya.

Tempat Ziarah
Selain salib, di kompleks “Taman Bahagia Mgr Aerts MSC dkk” terdapat makam Mgr Aerts dan para misionaris yang ditembak mati bersamanya. Umat Kei dan sekitarnya kerap datang ke tempat ini untuk berziarah dan berdoa. Ada juga umat dari Ambon, Jakarta, dan daerah lain yang berziarah ke sana.

Perjalanan menuju kompleks tempat ziarah ini bisa ditempuh dengan menumpang pesawat terbang dari Bandara Pattimura, Ambon menuju Bandara Dumatubun, Langgur. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam. Dari Bandara Langgur, umat bisa meneruskan perjalanan darat dengan mobil selama 10-15 menit. Jarak antara Bandara Langgur dan kompleks tempat ziarah sekitar 20 kilometer.

Selain menggunakan jalur udara, dari Ambon, peziarah bisa menggunakan jalur laut dengan menggunakan kapal dari pelabuhan Ambon. Lama perjalanan sekitar satu hari satu malam. Dengan jalur laut, umat akan tiba di Pelabuhan Tual. Dari sana umat bisa menggunakan mobil 10-15 menit, untuk menempuh jarak 20 kilometer.

Perayaan Kasih
Mengenang 75 tahun kemartiran Mgr Aerts dan para misionaris yang ditembak bersamanya, serangkaian acara digelar di Langgur. Perayaan syukur ini mengusung tema “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Menurut Ketua Panitia 75 Tahun Kemartiran Mgr Aerts, Pastor Yan Oratmangun, pemilihan tema ini untuk mengenang penyerahan diri Mgr Aerts dan para misionaris lain yang rela menyerahkan diri bagi umat, untuk pengembangan iman umat di Kei, khususnya. “Ini menjadi bentuk ungkapan kasih tertinggi mereka untuk umat. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi umat,” tandas Pastor Yan Oratmangun. “Saya berharap, hal ini semakin mendorong umat untuk memberi kesaksian dan mendorong umat untuk mau menjadi martir di era kita saat ini,” imbuh Kepala Paroki St Ludovikus Faan Kei Kecil, Keuskupan Amboina ini.

Novena dan rekoleksi diadakan panitia untuk merayakan peristiwa iman kemartiran Mgr Aerts dkk. “Novena ini diselenggarakan pada akhir Juni. Rekoleksi diadakan dari paroki ke paroki untuk mengajak umat mendalami spiritual dan semangat Mgr Aerts. “Umat diharapkan bisa semakin mengenal dan mencintai Mgr Aerts.”

Pada 1-29/7, diadakan kirab salib atau perarakan salib dari Langgur menuju kampung-kampung yang ada di Kepulauan Kei. Salib diarak dengan iring-iringan umat yang berjalan mengelilingi kampung sambil mendaraskan doa. Setelah serah terima salib kepada pihak kampung tujuan, acara dilanjutkan dengan pembacaan sinopsis bagaimana agama Katolik masuk dan berkembang di sana.

“Setelah salib mengelilingi kampung-kampung, salib diarak kembali ke Langgur. Tanggal 29/7, Sabtu malam, salib sudah tiba kembali di Langgur. Usai serah-terima salib itu, acara dilanjutkan dengan malam renungan untuk Mgr Aerts di kompleks Taman Bahagia Mgr Aerts MSC dkk. Dalam acara syukur ini, kami mengundang para Uskup di Papua, para Uskup MSC, dan Kardinal dari Papua Nugini Kardinal John Ribat MSC,” ungkap Pastor Yan Oratmangun.

Sementara pada Jumat, 28/7, Kongregasi MSC membuat acara refleksi dan pagelaran musik di Joannes Aerts Centre, Laguna-Ohoililir. Tempat ini yang dikhususkan untuk mengenang para misionaris MSC yang mati.

Menurut penanggung jawab acara, Pastor Tino Uluhayanan MSC, tujuan acara untuk mensyukuri panggilan Tuhan dalam diri para misionaris. Sehingga dengan ini mereka tetap menunjukkan kesetiaan total kepada Raja Kristus dan cintanya kepada umat yang dilayani. Ini juga saat untuk mengenang dan menghormati perjuangan total para misionaris sampai pada penyerahan sempurna hidup mereka.

“Harapannya, melalui perayaan ini, generasi kita tidak kehilangan jati diri dalam iman, harap dan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Hanya karena cinta, para misionaris itu memilih untuk mati. Karena cinta pula kepada Gereja Vikariat yang mulai tumbuh, mereka memilih menumpahkan darah menyirami bumi karang Kei supaya Gereja Vikariat dapat menghasilkan buah berlimpah,” ungkap Pastor Tino.

Perayaan puncak 75 tahun Mgr Aerts diadakan Minggu pagi, 30/7, di kompleks Taman Bahagia Mgr Aerts MSC dkk. Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC sebagai konselebran utama.

Martir
Mengenang sosok Mgr Aerts, ujar Pastor Yan Oratmangun, umat memiliki kerinduan Mgr Aerts bisa dibeatifikasi dan selanjutnya dikanonisasi. “Kita galakkan itu meski belum formal. Semangat dan kerinduan umat memiliki martir sangat besar. Kami mulai mengumpulkan cerita-cerita umat terkait doa dan mukjizat yang terjadi atau dialami umat dengan berdoa lewat perantaraan Mgr Aerts,” paparnya.

Umat yang berziarah dan berdoa melalui perantaraan Mgr Aerts mengaku doanya dikabulkan. “Saya mendengar cerita, ada umat yang mengalami sakit parah, lalu ia pergi berdoa di makam Mgr Aerts. Dia yakin, lewat Mgr Aerts itu doanya dikabulkan. Ia mengaku sembuh dari sakit. Itu salah satu cerita soal keyakinan dan doa umat lewat Mgr Aerts,” kisahnya.

Di mata umat di wilayah Kei, Mgr Aerts adalah sosok yang sangat mencintai umat Kei. “Ia rela mati bagi umat. Mereka menyebut Mgr Aerts ‘Martir kami’ meski secara formal Gereja belum menentukan,” demikian Pastor Yan Oratmangun. Semangat kemartiran Mgr Aerts dan para misionaris lain terus mewarnai kehidupan umat Kei dan umat Keuskupan Amboina.

Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*