Artikel Terbaru

Peringatan Kematian Mgr Johannes Aerts MSC; Martir Yang Tewas Di Tangan Tentara Jepang

Mgr Aerts bersama imam MSC (1932).
[Dok. MSC]
Peringatan Kematian Mgr Johannes Aerts MSC; Martir Yang Tewas Di Tangan Tentara Jepang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Setiap 30 Juli, umat di Langgur dan Ambon merayakan peringatan kematian Mgr Johannes Aerts MSC; martir yang tewas di tangan tentara Jepang.

Fajar belum menyingsing. Armada tentara Jepang mendarat di pelabuhan Tual, Kei Kecil, Maluku. Sebagian langsung menuju Langgur, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan dari pelabuhan Tual. Mereka langsung menggerebek rumah di mana Mgr Johannes Aerts MSC dan para misionaris lain tinggal. Mereka semua dikumpulkan, termasuk para suster, kecuali dua biarawati yang bersembunyi. Di pintu masuk kapela, Mgr Aerts bersama para misionaris menghadapi “sidang pengadilan”.

Philippus Renyaan, salah satu saksi mata peristiwa tersebut menggambarkan suasana pagi itu. Para misionaris yang berjubah semua, disuruh berjongkok, kecuali Mgr Aerts. Ia disuruh duduk di kursi. Pastor Gerardus Berns, yang dalam keadaan sakit, juga disediakan sebuah kursi. Melalui seorang juru bahasa, komandan pasukan Jepang mengajukan banyak pertanyaan kepada Mgr Aerts. “Kami datang di sini melulu demi kepentingan agama dan untuk mengajar penduduk di sini mengenal Tuhan, serta menghormati pemangku kekuasaan. Selanjutnya untuk mendidik anak-anak dan kaum muda, menolong yatim piatu dan orang sakit,” jawab Mgr Aerts menanggapi pertanyaan tentang tujuan kedatangan mereka ke Kei.

Di sela pengadilan, seorang bersepeda datang menyampaikan surat yang dibacakan dengan suara nyaring oleh juru bahasa. Hasilnya, Mgr Aerts dan para misionaris harus dibunuh. Para suster digiring ke susteran, juga seorang pastor berkebangsaan Jerman. Hari itu, 30 Juli 1942, Mgr Aerts ditembak mati oleh bala tentara Dai Nippon. Sebelum timah panas menembus tubuhnya, Mgr Aerts sempat berteriak, “Untuk Kristus, Raja kita, jadilah!”

Mgr Aerts bisa saja selamat dari tangan Jepang. Kala itu, Asisten Residen van Kempe-Valk, menyediakan fasilitas bagi misionaris Belanda untuk menyingkir ke Australia. Melalui pelbagai pertimbangan, ia akhirnya memutuskan agar semua misionaris tetap menetap di tempat tugasnya masing-masing. Saat itu, ada desas-desus bahwa Superior MSC, Pater H. Cornelissen MSC hendak mengizinkan para MSC untuk menyingkir ke Australia. Mgr Aerts menolak tawaran itu. “Bangsa Jepang adalah bangsa yang berkebudayaan tinggi, maka kita tidak perlu kuatir bahwa mereka akan bertindak secara biadab.” Peni laian itu nyatanya keliru.

Tahun ini, genap 75 tahun peristiwa kemartiran itu. Bagi umat Langgur, bahkan untuk seluruh Keuskupan Amboina, 30 Juli selalu terukir dalam ingatan. Penghormatan akan darah martir sang Uskup dan para misionaris dirayakan dengan perayaan Ekaristi meriah, juga melalui dramatisasi peristiwa pengadilan dan pembunuhan. Sejak peristiwa itu, jalan singkat dari tempat pengadilan (di depan Internaatskapel, tempat sekarang berdiri gedung Lamer Hivlak) ke pantai tempat eksekusi diberi nama Jalan Dolorosa.

Kenangan Abadi
Karya misi di kepulauan Maluku bermula ketika 1534 dan 1565. Sejumlah misionaris Portugis dan Spanyol, termasuk St Fransiskus Xaverius tiba di Maluku. Pada 1534, Gonzalo Veloso, pedagang Portugis, berhasil meyakinkan beberapa penduduk Desa Mamuia (Halmahera) untuk di baptis. Pembaptisan pertama di Indonesia itu dilaksanakan di Ternate, oleh Pastor Simon Vaz.

Misi Katolik di tanah Maluku bertumbuh subur. Pada 1558 terdapat lebih kurang 50 ribu orang Katolik. Namun, keberadaan orang Belanda yang Protestan menghentikan karya misi Katolik. Mulai 1903, misi di Maluku dan Papua dipercayakan kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus (Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu/MSC). Ini ditandai dengan kedatangan Pater Dr Matthias Neyens MSC dan Pater Henricus Geurtjens MSC di Langgur, 28 November 1903. Pater Neyens menjadi Prefek Apostolik pertama untuk wilayah Maluku Papua atau Prefektur Apostolik Nederlandsch Nieuw Guinea.

Memperhatikan perkembangan Gereja di Maluku dan Papua, maka Kongregasi Propaganda Fide di Vatikan, pada 29 Augustus 1920, memutuskan untuk meningkatkan status prefektur apostolik itu menjadi vikariat apostolik dengan nama Vikariat Apostolik Nederlandsch Nieuw Guinea, yang berpusat di TualLanggur,
Kepulauan Kei. Pater Arnoldus Johannes Hubertus Aerts MSC dipilih sebagai Vikaris Apostolik yang pertama.

Pater Aerts yang saat itu sudah sebelas tahun berkarya sebagai misionaris di Filipina menerima penugasan berat itu. Untuk misi baru itu, pada 30 November 1920, Mgr Aerts ditahbiskan sebagai Uskup Tituler Apollonia di Gereja St Anna Tilburg, Belanda. Mgr Aerts memilih moto Oportet Illum Regnare ‘Dialah yang Berkuasa’. Mgr Aerts ber usia hampir 40 tahun kala itu.

Umat Katolik di Kei, dengan gembira mulai berkemas dengan pelbagai persiapan menyambut kedatangan Mgr
Aerts. Bahkan, orang Islam dan Protestan, berkali-kali bertanya, “Kapan Uskup itu datang?” Persiapan dipusatkan di Langgur, Kei Kecil. Di banyak tempat, masyarakat membuat perahu panjang yang disebut belang untuk menjemput dan mengantar Sang Uskup.

Pada 14 Juli 1921, Mgr Aerts tiba di Kei. Kapal Motor Maetsuycker masuk ke selat Tual diiringi dua puluh perahu belang dengan para penari. Dari kapal, Mgr Aerts turun ke perahu Avanti, kemudian diarak menuju Langgur. Di Langgur, lebih dari 3000 orang datang untuk mengucap selamat datang kepada sang gembala utama. Perayaan itu berlangsung selama tiga hari. Banyak orang berkata, “Sejak awal dunia, di Kei belum pernah dirayakan pesta sebesar ini!”

Sosok Karismatik
Johannes Aerts lahir 3 Februari 1880, di desa kecil Swolgen, Meerlo, Limburg, Belanda. Pada hari itu juga ia dibaptis dengan nama Arnoldus Johannes Hubertus oleh Pastor Johannes Baptis Maessen. Ia dipanggil Johannes atau Jean (lebih singkat dan menurut ucapan Perancis). Ia anak ketiga dari delapan
bersaudara dalam keluarga Antonius Hubertus Aerts dan Anna Maria Baltesen.

Pada 26 September 1893, ketika ia berumur 13 tahun, Jean mulai belajar di Sekolah Apostolik MSC di Tilburg. Pada Agustus 1899, Jean masuk postulat untuk masa satu bulan dan berlanjut ke novisiat MSC selama satu tahun di Arnhem. Setahun berselang, pada 8 September 1900, ia mengikrarkan kaul. Ia menerima rahmat Sakramen Imamat di Leuven, 6 Agustus 1905.

Ia mendapat tugas perutusan mengajar di seminari MSC di Tilburg dari 1905 sampai 1908. Kemudian ia masih mengajar lagi selama setahun di seminari MSC di Assche, Belgia. Pada 24 September 1909, ia diutus menjadi misionaris ke Surigao, Filipina.

Kepindahan dari wilayah Surigao, Filipina ke Indonesia tentu suatu perubahan besar bagi Mgr Aerts. Tetapi ia cepat menyesuaikan diri. Mgr Aerts segera mengadakan perjalanan keliling yang pertama di Kei Kecil dan Kei Besar, baik dengan naik perahu maupun dengan berjalan kaki. Di mana ia berpastoral,
umat menyambut gembira dengan upacara gerejani meriah dan selalu diawali dengan lagu Ecce Sacerdos Magnus, ‘Salam, Hai Imam Agung’.

Dalam sebuah testimoni, mantan misionaris Pater A. van Royen MSC mengatakan, sejak awal kedatangan, Mgr Aerts sangat mempesonakan orang karena pribadinya yang penuh wibawa. Mgr Aerts menjalani perutusan dengan rencana kerja terperinci jelas. Dia bukan seorang yang dapat dipermainkan, baik oleh para pastornya maupun para petugas pemerintah.

Campur tangan Mgr Aerts dalam urusan-urusan setiap paroki kadang-kadang menimbulkan “perlawanan”. Di
salah satu kampung di Tanimbar direncanakan pembangunan gereja dengan sebuah menara. Menganggap tidak perlu, Mgr Aerts melarang umat setempat mendirikan menara itu. Larangan tak dihiraukan. Menara tetap tegak berdiri. Mgr Aerts tidak menyuruh menara itu dibongkar, tapi pada kunjungan berikut di Tanimbar, ia tidak singgah di kampung itu.

Jejak Karya
Kala itu, Papua termasuk dalam rekasa pastoral Vikariat Apostolik Nederlandsch Nieuw Guinea. Setahun berselang, Mgr Aerts untuk pertama kali mengunjungi pesisir selatan Papua. Sejatinya, misi di Bumi
Cenderawasih itu telah dimulai sejak 15 Agustus 1905 oleh Pater MatthiasNeyens MSC. Para misionaris belum berani membaptis orang karena takut bahwa mereka akan jatuh kembali dalam kebiasaan “potong kepala”, dan yang lain. Tapi Mgr Aerts berhasil meyakinkan para imamnya, bahwa tidak perlu takut membaptis orang yang sudah mendapat pelajaran agama yang cukup. Alhasil, pada tahun itu juga pembaptisan pertama dilaksanakan di pesisir selatan Papua.

Sama seperti pendahulunya, Pater Matthias Neyens, Mgr Aerts mempromosikan missio extensiva: memperluas wilayah pelayanan hingga sejauh mungkin, sekalipun seluruh wilayah itu belum dapat dilayani secara intensif. Hal ini secara khusus diberlakukan untuk wilayah Papua. Para pastor sering keberatan terhadap metode itu, karena mengakibatkan banyak guru dipindahkan dari Kei ke Papua. Di sisi lain, kebijakan ini diakui tepat untuk memperluas daerah misi.

Mgr Aerts juga perlahan membersihkan klenik dari tanah Maluku. Dalam surat puasa pertama yang diedarkannya, Mgr Aerts minta semua orang beriman untuk menjauhkan semua benda-benda berhala. Umat di Kei menaati desakan sang gembala dengan menukar mitu atau jimat dengan patung salib.

Sekali dalam enam bulan, Mgr Aerts bersama para imam di Kei mengadakan konferensi untuk membahas hal-hal menyangkut berbagai kepentingan Gereja. Ensiklik Rerum Ecclesiae dari Paus Pius XI pada 1926, juga menjadi pokok bahasan konferensi. Dalam Rerum Ecclesiae, Paus menegaskan pentingnya kelahiran
klerus pribumi di setiap wilayah misi. Para Waligereja pun diajak mendirikan tarekat-tarekat religius pribumi, baik untuk pria maupun perempuan.

Menyikapi seruan Bapa Suci, pada tahun yang sama, Mgr Aerts menetapkan berdirinya Hollandsch-Indische School di Tual. Inilah langkah pertama dari jalan panjang bagi putra-putra bangsa untuk menjadi imam. Tak hanya itu, lulusan sekolah itu juga diharapkan melahirkan rasul-rasul awam pada masa depan.

Menindaklanjuti hasil konferensi, pada 1927, Mgr Aerts mendirikan dua tarekat pribumi; Tarekat Suster Tarekat Maria Mediatrix (TMM) dan Tarekat Bruder Hati Kudus. Tapi sayang, tarekat bruder ini tak berkembang sesuai harapan, dan pada kemudian hari disatukan dengan Tarekat MSC.

Karya terakhir Mgr Aerts berupa sepucuk surat edaran. Surat tertanggal 17 Maret 1942, berupa edaran kepada seluruh guru dan kepala sekolah. Mgr Aerts menyampaikan kondisi sulit di mana pendudukan Jepang berdampak pada bantuan pemerintah Belanda bagi karya sekolah dan misi. Hal itu berdampak pada ketiadaan gaji para guru. Namun, ia tetap menyerukan harapan dan keyakinan akan masa depan yang baik.

Kini, darah kemartiran Mgr Aerts bersama para misionaris lain terus menyuburkan taman iman di Keuskupan Amboina. Mereka akan terus dikenang sebagai martir. “Untuk Kristus, Raja kita, jadilah!”

Martir dari Kei
Mgr Johannes Aerts MSC

Imam:
Pater Henricus Cornelissen MSC
Pater Gerardus Berns MSC
Pater Jacobus Akkermans MSC
Pater Jacobus Ligtvoet MSC
Pater Frans de Grijs MSC (dibunuh
tiga hari kemudian di Tual).

Bruder:
Br Johannes Joosten MSC
Br Hadrianus Peeters MSC
Br Cornelis Beyer MSC
Br Franciscus Raaymakers MSC
Br Gulielmus de Rooy MSC
Br Gulielmus Houdijk MSC
Br Johannes van Schaik MSC
Br Theodorus Fölker MSC

Pastor Kees Bohm MSC/Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*