Artikel Terbaru

Memberdayakan Kembali Komunitas Basis: Bagian Terakhir

[brandnewz.com]
Memberdayakan Kembali Komunitas Basis: Bagian Terakhir
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tepat sekali bahwa Komunitas Basis harus dijiwai Kitab Suci dan ajaran Gereja. Namun hendaknya kita menambahkan satu hal lagi yaitu kisah perjuangan para kudus yang telah mentransformasi lingkungan sekitarnya. Tentang kehidupan mereka dibuat buku bacaan, dianjurkan untuk dibaca, dibuat video, film dan alat-alat komunikasi lainnya. Tentu saja disesuaikan dengansetting budaya modern. Cara penyajian disesuaikan dengan anak-anak, remaja dan kaum muda. Riwayat hidup mereka harus mampu menggugah kaum muda membangun Komunitas Basis di lingkungannya.

Bersama umat beragama lain, kita mendirikan Puskesmas, Apotik, Posyandu, Rumah Bersalin, Praktek Dokter. Jadi bukan lagi hanya berorientasi untuk membangun rumah sakit besar. Perawat dan bidan Katolik membaur bersama perawat/bidan non Katolik melayani masyarakat kecil di RT dan RW. Masyarakat sendiri, dengan kearifannya akan memberikan balas jasa. Tidak ada tarif resmi. Tetapi mereka saling menghargai dan saling mengenal. Mereka membangun persaudaraan sejati. Mereka sendiri dapat mengatasi kesulitan dan penyakit ringan di lingkungannya. Mereka saling berbagi jasa. Ini pengalaman dan terbukti bukan isapan jempol. Tentu saja ke depan perlu dibenahi, tetapi harus tetap dalam bingkai semangat pelayanan, persaudaraan, kesederhanaan, saling menolong dan tidak terjebak dalam sistem birokrasi yang impersonal dan manipulatif.

Sementara itu beberapa awam mendirikan Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, dan SMA di lingkungannya. Kelihatannya sederhana, tetapi sangat menolong orang kecil, khususnya yang non Katolik. Tetapi kita kurang memberikan perhatian secukupnya terhadap prakarsa awam tersebut. Kita berprasangka buruk, mereka hanya mencari untung. Kita tidak mengunjungi mereka, tidak memberikan animasi dan motivasi Kristiani. Malahan sebaliknya, kaum biarawan/ti berjuang mati-matian dengan segala cara mempromosikan sekolahnya.

Tindakan nyata
Nah, budaya Indonesia telah memberikan kemungkinan tumbuhnya Komunitas Basis. Oleh karena itu, kita tidak harus mencontohi Komunitas Basis di tempat lain, walaupun boleh mendapatkan inspirasi dari sana. Untuk itu perlu penelitian yang memadai tentang komunitas menurut paham budaya-budaya di Indonesia. Komunitas Basis yang telah berkembang adalah lingkungan-lingkungan di paroki yang perlu ditata lagi. Sedangkan Komunitas Basis yang berciri kategorial lebih perlu mendapat perhatian. Hendaknya kelompok basis ini memiliki struktur yang tidak sama dengan lingkungan di paroki. Pastoral Kategorial justru lahir untuk melengkapi Pastoral Teritorial Paroki.

Dalam membentuk dan memberdayakan Komunitas Basis, yang paling perlu adalah tindakan nyata. Jadi janganlah suka membuat banyak program yang hanya di atas kertas. Buatlah arisan, CU, kor, doa bersama, kunjungan orang sakit, dan lain-lain. Lebih baik satu tindakan nyata daripada banyak program yang tidak dilaksanakan. Lalu harus bersabar juga dengan proses perkembangan. Yang penting selalu dievaluasi, didorong, diingatkan, dipacu dan seterusnya.

Tekad memberdayakan Komunitas Basis mengajak kita untuk tidak eksklusif dengan keluarga sendiri, tetapi terbuka dengan tetangga. Rumah kita yang mungkin dikelilingi tembok pagar yang tinggi serta pintu pagar besi yang selalu terkunci memang baik untuk keamanan, tetapi menghalangi kita berkomunikasi dengan tetangga.

Memberi dari kekurangan
Ciri khas Komunitas Basis adalah kasih. Di mana ada kasih, di situ ada Allah, ada Kerajaan Allah, keadilan, dan damai. Dan kasih itu tidak hanya dilaksanakan dalam perbuatan-perbuatan besar, tetapi justru dalam perbuatan-perbuatan kecil. Sederhana saja. Misalnya, memberi senyum dan salam kepada tetangga, sedikit ngobrol dengan tetangga, mengunjungi yang sakit, ikut berduka cita dalam kematian, bersama bergembira ria pada pesta pernikahan, mencari jalan membantu yang lemah dan miskin. Dan, lebih hebat lagi, kita memberi dari kekurangan kita. Kebahagiaan itu dialami dan terasa ketika memberi. Kita boleh bercita-cita tinggi untuk membangun bangsa dan negara dengan ide-ide tentang perbaikan struktur sosial, tetapi tetangga yang menderita, kita biarkan sendirian, karena lu-lu, gue-gue, emangnya gue pikirin?Konfusius sudah mengingatkan, ”Bila kita ingin tegak, upayakan juga menegakkan orang lain.”

Bapa Suci Benediktus XVI, dengan bijaksana sekali menulis, ”Tanpa mengurangi universalitas perintah kasih, ada tugas spesifik Gereja, yakni bahwa dalam Gereja sendiri sebagai keluarga, tak ada anggotanya yang boleh menderita kekurangan. Dalam arti, ini berlaku kata dari Surat Paulus kepada umat di Galatia, karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Deus Caritas Est, No 25).

Jacobus Tarigan Pr
Kepala Paroki Santo Matias Rasul Kosambi, Keuskupan Agung Jakarta, alumnus Universitas Gregoriana, Roma

(Sumber Majalah HIDUP, Rubrik Mimbar, Edisi No. 3, Minggu, 21 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*