Artikel Terbaru

Mengapa 40 Hari?

Mengapa 40 Hari?
1 (20%) 1 vote

Apakah kita boleh berpuasa seperti saudara kita yang Muslim, yaitu dengan tidak makan dan minum sama sekali sejak pagi sampai sore hari? Bagaimana peraturan Gereja tentang hal ini?
 
Stefani Widodo, Malang
 
Peraturan Gereja untuk puasa sangat sederhana, yaitu satu kali makan kenyang dan dua kali makan sedikit saja selama 24 jam. Minum air tidak membatalkan puasa. Puasa dan pantang diwajibkan pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Suci.
 
Peraturan ini berlaku untuk semua orang yang sudah berumur 18 tahun sampai 59 tahun lengkap (KHK 1251, 1252; Statuta Keuskupan Regio Jawa No 111). Orang yang berusia 60 tahun ke atas, anak-anak, penderita sakit, ibu yang hamil, dan orang yang sedang bepergian jauh, dibebaskan dari puasa.
 
Nah, kalau seseorang hendak melakukan puasa yang lebih keras tentu saja diperbolehkan, asalkan tetap dijaga nilai pemurnian dan penyangkalan dirinya. Misalnya, janganlah kita berpuasa lebih keras dari pagi hingga sore hari, tetapi kemudian menyediakan makanan yang lebih banyak dan lebih enak pada malam hari yang bersangkutan.
 
Puasa dilakukan demi kemuliaan Tuhan semata-mata, bukan untuk pamer. Namun demikian, hasil puasa harus terwujud secara sosial, yaitu melalui perbaikan relasi kita dengan sesama.
 
Puasa juga perlu dijauhkan dari pandangan magis (untuk memperoleh kekuatan magis) atau mencari kepuasan dan keperkasaan diri (masokisme) atau penyangkalan diri yang berlebihan.
 
Puasa, pantang, dan semua ulah tapa kita haruslah ditujukan pada kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama, bukan untuk kebesaran diri kita sendiri. Semua itu diwujudnyatakan dengan memberi derma untuk mereka yang membutuhkan.
 
Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*