Artikel Terbaru

Kebangkitan-Nya Bukan Halusinasi

Kebangkitan-Nya Bukan Halusinasi
1 (20%) 1 vote

Ketiga, tuduhan di atas mengandaikan, secara psikologis para murid itu tidak seimbang. Mereka dianggap sakit mental dan berhalusinasi. Pengandaian ini tidak benar. Penampilan mereka setelah kebangkitan, misalnya khotbah Petrus (Kis 2:14-40), sama sekali tidak menunjukkan mereka pesakitan mental. Penulis Kisah mencatat, ”Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka…” (Kis 2:15). Jika kita melihat akibat-akibat yang dihasilkan khotbah para murid, amat sulit menjelaskan bagaimana orang-orang yang dianggap sakit mental itu bisa menghasilkan perubahan yang sangat radikal dalam diri begitu banyak orang. Bagaimana kita bisa menerangkan, orang-orang yang dianggap sakit mental itu bisa mengilhami perubahan-perubahan psikologis yang sedemikian sehat dalam diri orang-orang lain? Jadi, pengandaian dan tuduhan itu tidak benar.
 
Keempat, kesulitan yang lebih besar yang harus dihadapi pembuat tuduhan di atas, yaitu pertobatan Paulus. Dia bukanlah murid Yesus duniawi, tetapi seorang musuh yang berbahaya dari murid-murid Yesus. Bagaimana mungkin menjelaskan pertobatan yang dialami oleh Paulus itu buah dari halusinasi? Paulus tidak mengalami kekecewaan atau keputusasaan, malah sebaliknya, dia dengan keyakinannya yang kuat memusuhi Yesus dan murid-murid-Nya. Kalau kita menganalisis tulisan-tulisan otentik Paulus, tidak kita temukan tanda apa pun dari seorang yang terganggu mentalnya. Malahan sebaliknya, Paulus adalah seorang yang sangat energik, memiliki kegembiraan dan keberanian yang tak kunjung padam. Paulus bisa mempertahankan ketenangannya di tengah tekanan yang sangat besar. Visi Paulus tentang Yesus Kristus sungguh sangat seimbang, dan jelas menunjukkan keyakinan Paulus akan kebesaran Yesus yang bangkit sebagai Tuhan.
 
Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*