Artikel Terbaru

Ketika Anak Akan Menghadapi Ujian

Ketika Anak Akan Menghadapi Ujian
1 (20%) 1 vote

Anak-anak yang masih kecil (kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar) umumnya masih belum mengerti benar, ujian akan menentukan apakah mereka akan naik kelas atau tidak naik kelas. Peraturan ini perlu terutama bagi anak-anak yang masih senang bermain, suka menonton televisi, membaca komik, bermain game atau play station. Anak-anak perlu dilatih dan diajarkan untuk menaati peraturan. Tetapkan kapan mereka boleh bermain, kapan harus berhenti bermain, dan kapan harus mulai belajar termasuk kapan selesai belajar. Jika perlu tuliskan peraturan ini pada selembar kertas yang mudah dibaca anak.
 
Persiapkan semua bahan termasuk catatan-catatan sekolahnya dan jika perlu latihan-latihan di kelas. Jika perlu bertanya pada guru kelasnya tentang materi yang nantinya akan diujikan. Orangtua juga bisa memantau bahan ujian dan sejauh mana anak-anak telah memiliki semua bahan tersebut. Ketidaklengkapan catatan bisa diantisipasi sejak awal, sehingga pada saat dibutuhkan tidak membuat kita panik karena ternyata bahannya tidak ada.
 
Memang orangtua perlu selalu mengikuti perkembangan pelajaran anak di sekolah. Jangan terlalu tinggi menetapkan target nilai. Menetapkan target nilai tanpa mengerti benar kemampuan anak justru membuat anak stres dan bahkan tidak bisa mengikuti ujian sama sekali. Banyak kasus terjadi justru karena orangtua terlalu mementingkan nilai tinggi dan ranking. Perlu kita pahami bersama bahwa ranking bukanlah satu-satunya indikator tentang keberhasilan anak dalam belajar.
 
Belajar bukanlah sekadar memahami pelajaran di sekolah. Jadi, pintar tidaknya anak tidak semata-mata karena nilai ulangan di sekolah dan posisi ranking di sekolahnya.
 
Menetapkan target haruslah memberikan implikasi motivasi bukan justru membuat anak tertekan. Jika orangtua tahu persis kemampuan anaknya, maka ia tidak akan menetapkan target yang terlampau tinggi. Perlu diskusi dengan anak tentang target nilai yang mungkin bisa mereka dapatkan. Yakinkan pula orangtua akan tetap memberikan dukungan pada anak. Yang penting, berusaha dengan baik, berlaku jujur di sekolah dan saat menjalankan ujian.
 
Jika nilai 100 atau 10 terlampau sulit, katakan kepada mereka, yang penting mereka melakukannya dengan benar dan mereka telah berusaha dengan keras. Hal ini perlu untuk memberi efek ketenangan. Karena ketenangan anak akan membuatnya bisa mengeluarkan apa yang telah dipelajari dengan baik.
 
Berikan penghargaan atas hasil kerja mereka. Penghargaan akan memberi arti yang lebih besar dibanding dengan hukuman. Efek hukuman berimplikasi psikologis lebih serius dibanding penghargaan. Tidak ada orang yang suka dihukum. Diskusikan hadiah apa yang akan mereka dapatkan jika nilai mereka baik (sekali lagi jangan menetapkan target terlalu tinggi yang mungkin akan sulit dicapai anak). Yang penting, berikan kepada mereka jika mereka telah berusaha.
 
Jikalau hasilnya tetap buruk, perlu evaluasi dari kedua belah pihak, baik orangtua maupun anak. Jika perlu diskusikan dengan guru tentang kondisi anak di kelas. Kesulitan-kesulitan apa yang bisa ditangkap oleh guru. Jika prestasinya buruk, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan: anak bodoh dan malas. Selain mendikusikan dengan guru, ada baiknya juga mendiskusikan dengan ahli yang kompeten, terutama psikolog jika hasil belajarnya terus menurun.
 
Terakhir, jangan lupa ajak anak berdoa. Doa bersama antara orangtua dan seluruh anggota keluarga akan memberikan dukungan moril bagi anak. Selamat mengikuti ujian, semoga sukses!
 
Th Dewi Setyorini, SPsi, Msi, Psikolog

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*