Artikel Terbaru

Menyaksikan Jenazah Padre Pio

Menyaksikan Jenazah Padre Pio
3.2 (64%) 5 votes

Dalam khotbahnya, Kardinal Saraiva mengatakan, “Apa yang kita lihat adalah raga yang sudah mati, tak bernapas lagi. Namun, Padre Pio bukan sekadar jenazah, dia hidup dalam persatuan dengan Yesus yang bangkit,” ujar Kardinal. “Marilah kita kenang segala kebaikan yang telah dilakukannya di tengah-tengah kita,” ujarnya.

Di antara yang hadir, ada Consilia De Martino, seorang wanita, 45 tahun, yang disembuhkan dari penyakit berat berkat perantaraan Padre Pio. Kasusnya diangkat menjadi salah satu bukti mukjizat Padre Pio pada saat proses kanonisasi.

Dalam kesempatan terpisah, Provinsial Kapusin Pastor Aldo Broccato OFMCap mengajak umat untuk tidak hanya terpaku pada sosok Padre Pio. “Saudara-saudaraku, kendati kita amat mengasihinya, namun lewat sosok itu kita harus mengarahkan mata kita ke surga, menatap sinar kehidupan dari Allah, di mana Kristus menunjukkan baik kematian maupun kebangkitan-Nya,” ujarnya.

Rencana semula, jenazah akan dipamerkan untuk beberapa bulan. Namun, mengingat begitu banyaknya peminat yang mendaftar untuk datang dan melihat (tanggal 25/4 saja sudah 800 ribu orang mendaftarkan diri untuk datang), jenazah akan di-pamerkan lebih lama, sampai September 2009.

HIDUP datang menyaksikan jenazah Padre Pio Kamis, 8/5 bersama dr Irene Inawati Suryahudaya, spesialis kulit dan dr Budi Kartono, spesialis bedah saraf. Di samping dua dokter dari Bandung ini, turut juga Pastor Sylvester Pajak SVD.

Irene mengenal Padre Pio sejak kecil. “Mama mengajarkan pada kami, anak-anak-nya, untuk sering berdoa kepada Padre Pio. Mama kerap meletakkan gambar Padre Pio pada bantal, bila saya sakit!” kenang Irene yang selalu membawa relikwi Padre Pio dalam dompetnya.

Sesudah meninggal
Semasa hidupnya, Padre Pio melakukan banyak hal yang menakjubkan. Tak terhitung jumlah orang yang merasa disembuhkan atau tertolong berkat Padre Pio. Salah satu karya nyata Padre Pio adalah pendirian Rumah Sakit Casa Sollievo della Sofferenza (Rumah untuk Meringankan Penderitaan), tak jauh dari tempat tinggalnya. Rumah Sakit terbesar di Italia Selatan ini terwujud antara lain berkat jasa Barbara Ward, seorang wartawan Inggris.

Barbara berhasil menggalang banyak dana, termasuk dana sebesar 325.000 US $ dari UNRRA, sebuah lembaga di Amerika Serikat untuk membangun proyek tersebut. Rumah Sakit yang amat memperhatikan orang-orang miskin dan menderita ini tetap berjalan baik hingga kini.

Padre Pio meninggal dunia pada 23 September 1968 dalam usia 81 tahun. Upacara pemakamannya (26/9/1968) dihadiri tak kurang dari 100 ribu umat. Sebelum meninggal, Padre Pio beberapa kali berkata, “Sesudah kematianku, aku akan berbuat lebih banyak lagi!”

Kini, 40 tahun sesudah kematiannya, orang mulai teringat akan kata-katanya itu. Jumlah peziarah yang datang ke tempat Pa-dre Pio terus bertambah dari tahun ke tahun. Demikian juga jumlah orang yang mengaku disembuhkan atau tertolong berkat Padre Pio.

“Padre Pio banyak berjasa dalam perjalanan hidup saya,” ujar dr Irene Suryahudaya seusai menyaksikan jenazah Padre Pio. Kata-kata Irene ini mewakili ratusan ribu orang yang datang ke tempat Padre Pio, orang suci yang mereka hormati.

Heri Kartono OSC

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi 21, Tanggal 25 Mei 2008)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*