Artikel Terbaru

Sr Yohanita Pasaribu FCJM: Tantangan yang Menguatkan

Sr Yohanita Pasaribu FCJM: Tantangan yang Menguatkan
1 (20%) 1 vote

Kematian mama tak hanya menggerus keyakinan Yohanita. Peristiwa duka itu juga membuatnya cemas. Yohanita khawatir tak bisa melanjutkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas. Sebab, mama adalah salah satu penopang keuangan keluarga. Bila mimpi buruk itu terjadi, cita-citanya menjadi biarawati pun bisa kandas terbentur ekonomi.
Tarsan sadar putrinya amat terguncang dengan kematian mamanya. Tak hilang akal, Tarsan gigih memompa Yohanita. “Bapak ingin saya terus belajar dan ikut Bina Iman Anak. Sementara dia yang mencari uang,” kisahnya.
Saat Yohanita baru mulai bersekolah di Sekolah Menengah Pertama bapaknya meninggal. Lava di kawah hatinya kembali mendidih. Dia menghujat Tuhan. “Tak tegakah Engkau mencobai saya? Baru setahun mama meninggal, kini Engkau sudah memanggil Bapak,” hardik Yohanita.
Pikiran Yohanita kalut. Hatinya nyaris tertutup bagi kehadiran Tuhan. Ibarat air yang sanggup menembus celah-celah sempit, demikian pula karya Tuhan. Suatu hari, timbul niat Yohanita kembali berdoa. Dia berdoa novena kepada Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria selama sembilan hari.
Yohanita mohon ketenangan batin agar bisa memahami kehendak Tuhan. Suatu pagi ketika baru selesai novena hari kelima, kedua kakaknya Yusna Pasaribu dan Lisbeth Pasaribu menemuinya. Mereka menghibur sang adik dengan menawarkan bantuan. Yusna dan Lisbeth berjanji untuk membiayai sekolah adik mereka.
Yusna menggarap kebun milik tetangga. Tanpa malu dan lelah, Yusna berpindah dari kebun ke kebun. Uang yang dia dapat dipakai untuk membayar uang sekolah Yohanita. Sementara Lisbeth menyisihkan uang hasil kerjanya sebagai perawat untuk pendidikan adiknya juga.
Diam-Diam
Yohanita ingin meringankan beban di pundak Yusna dan Lisbeth. Sore hari, usai pulang sekolah, Yohanita bekerja di rumah sebuah keluarga sebagai asisten rumah tangga. Tugasnya mencuci dan menyetrika pakaian. Sebagai imbalan jasanya, keluarga itu memberikan uang Rp50 ribu sebulan. Yohanita girang bukan kepalang menerima hasil jerih payahnya sendiri.
Tamat Sekolah Menengah Atas, Yohanita mengutarakan niat menjadi suster FCJM kepada kedua kakaknya. Bak cinta bertepuk sebelah tangan, demikian reaksi Yusna dan Lisbeth. Mereka tak setuju adiknya mengenakan jubah putih.
Mereka menghendaki Yohanita melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi. Alasan lain penolakan itu, mereka khawatir sang adik gagal menjadi suster. Yohanita dengan tenang menerima penolakan keluarga. Tapi dia tidak ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi. Dia justru memilih memperdalam pemahamannya akan Sabda Tuhan dengan mengikuti kursus Kitab
Suci di Biara FCJM Tebing Tinggi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*