Artikel Terbaru

Abdi Gereja yang Humanis

Abdi Gereja yang Humanis
3 (60%) 1 vote

Pengalaman senada juga dialami Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir. Baginya, Romo Magnis adalah sahabat yang hangat dalam bertukar pikiran. Dalam berelasi, Romo Magnis tak pernah melihat usia, pendidikan dan agama. Siapa saja bisa duduk, ngopi dan makan bersama. Dialah tokoh Katolik sekaligus “Islam” yang bersahaja. Kontribusinya terhadap bangsa sangat konstruktif. Ia benar-benar mengindonesia di tengah mayoritas Islam. “Saya yakin, jiwanya terlahir untuk bangsa. Dia seorang anak bangsa yang patriotis. Salah satu semangat patriotismenya adalah mengkritik siapapun, entah seagama atau tidak, bahkan orang Islam sekalipun. Ia siap “pasang badan” bila keamanan bangsanya terancam,” ujar Nashir.

Bapak Bangsa
Persahabatan dengan Romo Magnis juga dialami Ahmad Syafi’i Maarif. Pendiri Maarif Institute ini mengisahkan, Romo Magnis sekalipun kelahiran Jerman, ia mengetahui lebih banyak tentang Indonesia. Ia seorang pencerah ketika Bangsa Indonesia lemah dalam nilai kemanusiaan.

Kedekatan ini bahkan sering membuat keduanya diundang bersama ke berbagai daerah untuk berbicara dalam forum pluralitas. Mereka sering bertukar pandangan, tak hanya soal kerja tapi juga sharing keluarga. “Di banyak kesempatan, saya selalu minta Romo Magnis mendoakan keluargaku,” ujar kelahiran Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 ini.

Bagi Syafi’i, Romo Magnis adalah sosok inspiratif. “Ia sangat tahu memposisikan dirinya. Ia bisa sekaligus tampil sebagai imam Katolik dan ulama Muslim di waktu yang sama,” ujar Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) ini. Buya Syafi’i mengakui, saat tampil, Romo Magnis bisa berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan di Islam dan Katolik. Berbagai referensi pengalaman membuat banyak orang “angkat topi” padanya.

Lewat ide-ide segar tentang budaya Jawa, filsafat dan etika, Romo Magnis membenahi wajah Indonesia yang belepotan karena korupsi dll. Kemajuan teknologi yang berimplikasi pada karakter hidup anak bangsa membuat kebudayaan ini tidak “perawan” lagi. Namun ide-ide yang ditawarkan Romo Magnis menjadi penyeimbang era digitalisasi saat ini.

Senada dengan Syafii, H. Muslih mengakui, Romo Magnis punya hubungan manis dengan umat Islam. Menurut Ketua Umum Forum Silaturohim Nusantara (FSN) ini, Romo Magnis mengajarkan, Islam adalah agama rahmatan lil alamin, penuh kasih sayang. Sama seperti ajaran Katolik di mana Yesus datang mengajarkan kasih sayang.

“Maka nilai kebersamaan, toleransi, kasih sayang, hormat-menghormati adalah nilai keutamaan seluruh agama. Negeri ini dibangun atas dasar Pancasila, bukan keinginan atau ideologi pribadi. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai Bapak Bangsa’,” ujar Muslih.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*