Artikel Terbaru

Mgr Ignatius Suharyo: Oase Rohani dalam Kebisingan

Mgr Suharyo bersama para Suster OCD di Wisma Samadi.
[HIDUP/A. Aditya Mahendra]
Mgr Ignatius Suharyo: Oase Rohani dalam Kebisingan
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo berharap, para Suster OCD menjadi pendoa bagi Gereja KAJ. Doa para Suster OCD adalah oase rohani dalam dunia yang bising.

Tiga tahun silam, ketika Mgr Ignatius Suharyo menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Bandung, ia pernah berkata, “Saya iri, karena di Keuskupan Agung Jakarta yang mempunyai sejarah lebih dari 200 tahun, belum hadir biara kontemplatif. Sementara di Keuskupan Bogor dan Keuskupan Bandung yang merupakan bagian dari Provinsi Gerejawi Jakarta sudah hadir biara kontemplatif. Saya tidak menyangka kalau kata-kata itu masuk ke dalam hati para Suster OCD Lembang, dan ditangkap sebagai kerinduan umat Keuskupan Agung Jakarta akan kehadiran biara kontemplatif.” Setelah tiga tahun berproses, tepat pada Pesta St Perawan Maria Mengunjungi Elisabeth, Suster OCD hadir di KAJ. Berikut petikan wawancara dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo:

Mengapa Bapak Uskup mengundang Para suster kontemplatif berkarya di KAJ?

Para suster kontemplatif tidak “berkarya” dalam arti seperti karya para suster aktif di pelayanan pendidikan, kesehatan, atau pelayanan lain. Mereka tidak keluar biara. Mereka hidup sebagai pendoa. Di KAJ ada banyak tarekat religius; 22 tarekat religius pria, 42 tarekat religius perempuan, dan dua tarekat bruder. Tetapi dari sekian banyak tarekat religius itu belum ada tarekat kontemplatif. Ketika dalam salah satu rapat Kuria KAJ, saya mengemukakan gagasan mengundang para suster kontemplatif OCD. Semua menanggapi positif. Jadi rupanya dalam diri para anggota Kuria KAJ, dan saya juga menduga umat di KAJ tersimpan kerinduan akan kehadiran biara kontemplatif. Apalagi kalau mau dikaitkan dengan sejarah KAJ yang sejak awalnya sudah berusia 210 tahun. Syukur ini pantaslah ditandai dengan kedatangan para Suster Kontemplatif OCD.

Apa makna kehadiran para suster kontemplatif ini bagi pastoral di KAJ? Bagi tarekat kontemplatif doa menduduki tempat utama. Di Tarekat OCD ini amat jelas dalam ajaran dan teladan St Teresa dari Avilla dan St Yohanes dari Salib, serta orang-orang suci yang mengikuti teladan mereka. Hari-hari mereka ditandai dengan keheningan untuk menciptakan suasana doa. Mereka diharapkan menjadi pendoa bagi Gereja, terutama KAJ.

Warna atau hal apa yang Bapak Uskup harapkan dari kehadiran para Suster OCD ini?

Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang dapat dengan mudah dan jelas diamati. Pertama, mereka adalah pendoa, maka kehadiran mereka diharapkan selalu mengingatkan kita betapa penting doa dalam hidup Gereja, dan setiap pribadi beriman. Kedua, mereka hidup dalam persaudaraan atau berkomunitas. Persaudaraan mereka diharapkan dapat mengingatkan kita akan perintah Yesus untuk saling mengasihi. Cita-cita awal hidup komunitas adalah menunjukkan bahwa perintah saling mengasihi sungguh dapat diwujudkan. Ketiga, mereka selalu tampil gembira. Kegembiraan ini adalah buah dari doa dan persaudaraan. Kita pun diharapkan menjadi saksi-saksi dan mewartakan sukacita Injil. Itulah yang antara lain diharapkan Paus Fransiskus ketika memberikan pesan untuk Tahun Hidup Bakti.

Bagi umat KAJ, hal apa yang bisa dipetik dengan kehadiran para Suster OCD ini?

Saya menjawab pertanyaan ini dengan cara Yesus menjawab pertanyaan dua murid Yohanes. Ketika melihat mereka, Yesus bertanya, “Apakah yang kamu cari?” Waktu itu kedua murid bertanya, “Guru di manakah Engkau tinggal?” Lalu Yesus menjawab, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:38-39). Maka silakan datang ke biara mereka. Para suster OCD ini untuk sementara tinggal di Kampus IV Samadi, Klender. Pada waktunya biara mereka akan dibangun di kompleks Samadi. Harapannya biara ini akan menjadi semacam “oase rohani” di tengah-tengah dunia yang bising, bagi siapapun yang rindu mengalami suasana hening dan doa.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*