Artikel Terbaru

Suka Duka Mendampingi UBK

Suka Duka Mendampingi UBK
Mohon Beri Bintang

Sementara di Kelompok Lovely Hands, menurut sang koordinator, Maria Regina Lanneke Alexander, mereka belum punya katekis atau relawan yang bisa memberi pengajaran iman bagi ABK di Paroki St Yohanes Bosco Danau Sunter, Jakarta Utara. Lanneke amat butuh tenaga pengajar iman untuk ABK di sana. Karena itu, ia mengetuk komunitas-komunitas, lembaga pendidikan, atau yang memiliki ilmu dan kemampuan berkarya di Lovely Hands.

Kepala Paroki St Yohanes Bosco, Romo Yohanes Boedirahardjo Soerjonoto SDB juga setali tiga uang dengan Lanneke. Ia mencontohkan, untuk ABK yang mau menerima Sakramen Ekaristi butuh persiapan khusus menyesuaikan dengan daya tangkap mereka. Lovely Hands terbentuk sejak 2011, untuk memberikan pelayanan, pengajaran, dan pendampingan kepada para ABK supaya bisa mandiri dan berdaya.

Mulanya, tempat belajar ABK Lovely Hands bergantian dengan komunitas BIA dan Sekolah Minggu di lantai dua. Tiap Jumat, mereka harus membereskan perkakas pelajaran karena pada Sabtu dan Minggu, tempat akan digunakan untuk Sekolah Minggu dan BIA.

Pada Agustus 2015, Paroki Danau Sunter membangun lantai tiga di Gedung Dominic Savio. Lantai itu dibangun khusus untuk kegiatan belajar serta pendampingan ABK Lovely Hands. Semua biaya operasional komunitas ini berasal dari sumbangan umat dan dukungan para gembala.

Menyusun Bahan
Menyusun materi atau merancang dinamika untuk UBK tak semudah mempersiapkan bahan untuk umum. Perlu banyak pertimbangan, seperti kata seorang relawan pengajar, Yosefin Maria Frista. Ia menjadi relawan untuk ABK di Paroki St Perawan Maria Ratu, Blok Q, Jakarta Selatan.

Menurut Frista, tantangan terbesar adalah menentukan ide dan membahasakan secara sederhana kepada ABK. “Jika ide kita tidak klop, mereka bisa tertekan dan bertendesi merusak diri sendiri. Begitu pun dengan pemilihan warna dan lagu, tak bisa sesuka hati. Karena itu, kami harus bersinergi dengan psikolog, terapis, dan katekis,” jelasnya.

Sementara itu kebahagiaan dan kepuasan menjadi relawan di tengah ABK, menurut Gerardus Yoshua adalah saat pulang ke rumah kerap mendapat pesan singkat atau telepon dari orangtua maupun ABK. Ada yang menyampaikan terima kasih, ada pula yang butuh penghiburan. Pelajaran yang paling penting dan tak mudah adalah mampu menanamkan rasa percaya diri kepada ABK.

Yanuari Marwanto
Pelapor: Yusti H Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*