Artikel Terbaru

UBK Bagian Gereja

UBK Bagian Gereja
1 (20%) 1 vote

Ketersediaan aksesibilitas amat terbatas di lingkungan gereja di hampir semua paroki meliputi rambu-rambu petunjuk bagi difabel, alat bantu, buku-buku doa dan katekese atau sarana prasarana peraga sesuai jenis dan tingkat disabilitasnya. Hanya dua dari 16 paroki yang memasang rambu-rambu. Patut diacungi jempol bahwa 80 persen paroki menyediakan kursi roda.

Kesadaran pelayanan ini perlu didengungkan sehingga keanekaragaman dalam Gereja semakin terlihat di level parokial. Keterbatasan aksesibilitas bagi UBK ini cenderung membuat keluarga tak pernah mengajak anggota keluarga yang berkebutuhan khusus untuk bersama merayakan Ekaristi di gereja.

Pelayan Pastoral
Dari survei, diketahui bahwa wadah bagi pastoral UBK kurang dikenali di lingkup paroki. Hanya dua komunitas difabel yang dikenal di 16 paroki. Salah satunya pernah berkumpul dan hanya sekali, tapi kemudian tak ada tindak lanjutnya. Bahkan, tak ada yang menyebutkan bahwa di parokinya tersedia wadah bagi difabel yang terorganisir dan berkelanjutan. Padahal hampir separuh dari 16 aktivis Gereja menyatakan bahwa ada imam yang tersedia sebagai moderator bagi pastoral difabel. Dari 16 paroki, hanya tersedia tiga katekis khusus sukarela yang dibantu lima pendamping untuk kegiatan katekese bagi ABK.

Sementara ada lima paroki yang rutin mengadakan Misa khusus bagi UBK. Paroki lainnya hanya menyelenggarakan Misa khusus pada bulan Februari, bertepatan dengan Hari Orang Sakit Sedunia. Pelayanan katekese persiapan penerimaan sakramen telah dilakukan oleh delapan paroki; sementara penerimaan sakramen bagi UBK telah dibuat di sepuluh paroki secara berkala. Ada dua paroki yang pelayanan seperti itu dilakukan ketika ada kunjungan orang sakit oleh Pastor. Hampir tak ada yang membuat seminar mengenai tema disabilitas. Intinya, pelayanan bagi UBK masih bersifat sporadis dan situasional, bagi yang membutuhkan saja.

Langkah Alternatif
Setelah melihat realitas pastoral difabel itu di butuhkan suatu pendekatan khusus, perhatian serius, dan kesetiaan menjaga kontinuitasnya. Langkah alternatif bagi kerasulan ini dapat dimulai dengan pendataan jumlah dan jenis disabilitas, serta para pelayan pastoralnya (imam moderator, katekis khusus, relawan-relawati) berbasis paroki–yang dapat dikoordinir di tingkat dekanat. Peluang kerjasama dapat dibangun dengan Komisi Katekese Keuskupan, Yayasan sosial yang melayani disabilitas dan para Pastor Paroki.

Setelah itu, dapat dibangun beberapa komunitas UBK dan ABK berdasarkan jenis dan tingkat disabilitasnya di tingkat dekanat. Kemudian disusun jadwal dan model kegiatan pelayanan, serta tempat pelaksanaannya, baik Misa khusus, persiapan dan penerimaan sakramen, bina iman, maupun kegiatan lainnya. Tempat pelaksanaan ini hendaknya mempertimbangkan kondisi gereja paroki yang sudah menyediakan aksesibilitas yang baik bagi UBK.

Harapannya, akan ada kerasulan UBK yang semakin maju. Misalnya, di Paroki A setiap Minggu pada jam tertentu ada Misa bagi tunanetra; di Paroki B untuk tunarungu, di Paroki C untuk penyandang autis, dst. Jika Gereja mampu melayani komunitas expatriate dengan berbasis bahasa yang berbeda, meng apa pelayanan bagi UBK berbasis jenis dan tingkat disabilitasnya tidak mungkin? Mungkin inilah yang dimaksud Paus Fransiskus mengenai pembaruan komitmen pelayanan Gereja bagi saudara-saudari difabel. Mestinya Gereja menjamin sesama yang berkebutuhan khusus diterima menjadi bagian di dalamnya.

R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*