Artikel Terbaru

Mgr Hila, Api Religius Sejati

Mgr Hila, Api Religius Sejati
1 (20%) 1 vote

Memikul keranda Mgr Hila, bagi para sahabat Ansor dan Banser, adalah realitas dan eksistensial. Caci maki dan sejenisnya dari banyak pihak, kami tanggapi dengan senyum. Sebab kebaikan adalah kebaikan, harumnya menyebar ke segenap penjuru. Jika kami dianggap melampaui batas toleransi, rasanya tidak. Karena kemanusiaan adalah kemanusiaan. Ia selalu berbicara dengan caranya. Kami, seperti kata Alquran, hanya melanjutkan semangat untuk memuliakan siapapun yang berasal dari keturunan Nabi Adam. Itu perintah Alquran. Qath’i, sharih. Jelas, lugas, dan tidak multitafsir.

Beragama tak cukup dengan wacana, perlu penguatan spiritualitas, kesiapan mental, kejernihan akal, ketulusan berbuat, dan kematangan iman. Para sahabat Ansor dan Banser sadar saat orang sudah mentransformasikan kebaikan pada sesama dengan sepenuh jiwa, ia tak akan ditanya lagi apa dan bagaimana agamanya. Agama adalah sumber kebajikan, bukan provokasi kekuasaan. Agama itu perilaku, bukan adu propaganda semu.

Agama penuh cinta, bukan sarang kuasa. Cinta ini, istilah Paus Yohanes Paulus II, akan menjadi warta terpenting dalam agama, khususnya Kristen. Cinta akan terus disempurnakan di kaki salib, sebagai simbol pengorbanan diri demi keselamatan manusia. Maka beragama harus peka aspirasi dan kebutuhan sosial kemanusiaan. Agama berbasis cinta adalah yang tak terjebak pada friksi dan konflik–gampang me melintir formalitas-imani, tapi abai pada universalitas-spiritual ukhrawi. Yang perlu dicari dan ditransformasikan, kata Jalaluddin Rumi, adalah daging agama, yakni kejujuran nurani, kematangan, pengkhidmatan, ketulusan, dan cinta berbasis spiritualitas
seutuhnya.

Sahabat Ansor dan Banser hendak menegaskan cara luhur menggapai kematangan iman. Meski bagi sebagian orang tampak aneh dan keterlaluan ketika ikut memikul keranda Mgr Hila, bukan hambatan. Sebab, menjadi hamba sejati sama sekali tak mudah. Semua teratasi jika kita telah menjadi pribadi merdeka, yang paham bahwa iman bukan sekadar kata-kata, melainkan perbuatan.

Itulah ilustrasi pribadi religius sejati, yang tulus memasrahkan dirinya pada kebajikan. Ia tak terganggu sekat agama, tapi mengambil lompatan harmoni menuju aktualisasi “agama ukhrawi”. Dalam Alquran dijelaskan, “walal akhiratu khairun laka min al-ula”. Kesuburan nilai-nilai ukhrawi lebih utama daripada egoisme beragama yang dicairkan penuh kekikiran (iman) diri. Mgr Hila sepertinya berada pada maqamat religiositas ini.

Jika Tuhan mau menemui kita dalam diri seorang pribadi–sebagai anak–kita pun harus pergi menemuni-Nya. Mgr Hila, baru saja pergi menemui Tuhan. Dialah api religius sejati; berkata, berbahasa, berdiri, berlari, dan bertukar cinta untuk harmoni sekaligus keselamatan manusiawi.

Masmuni Mahatma

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*