Artikel Terbaru

Dr A M Lisliyantotot: Dokter Spesialis Manajemen Rumah Sakit

Dr A M Lisliyantotot: Dokter Spesialis Manajemen Rumah Sakit
Mohon Beri Bintang

Dari tanah Bagelen, ia melamar ke Rumah Sakit St Borromeus Bandung. Ia diterima dengan syarat melepas status pegawai negeri sipil (PNS). Ia menerima tantangan itu, lantas meniti karir sebagai dokter Rumah Sakit St Borromeus. Setelah beberapa waktu mengabdi, ia mendapat tawaran studi lanjut. Ia pun mantap memilih belajar manajemen rumah sakit di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Selama berkarya di Rumah Sakit St Borromeus, dokter Totot pernah berkiprah sebagai kepala bidang, kepala biro, direktur umum hingga direktur utama. Ia membawa Rumah Sakit St Borromeus mampu bersaing dengan rumah sakit lain di Bandung.

Pada 2011, ia purna karya. Namun itu bukan akhir dari segalanya. Ia malah diminta membantu Rumah Sakit Sentosa Bandung. Dari sini, ia berpindah ke Eka Hospital Jakarta.

Rekam jejak manajerial dokter Totot terdengar hingga Tanah Papua. Pada 2013, ia diminta menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Mitra Masyarakat atau yang populer dengan Rumah Sakit Charitas Timika.

Selama di Papua, dokter Totot harus rela berpisah sementara dengan keluarga yang bermukim di Bandung. Tak jarang, rindu dengan keluarga mengintip di sela-sela pekerjaan. “Saat itu, saya rindu Misa bersama keluarga,” ujarnya mengenang. Untuk mengobati rindu, dokter Totot pulang ke Bandung sekali dalam tiga bulan.

Setelah hampir dua tahun berkarya di Papua, ia meminta izin mengundurkan diri. Izin pun dikabulkan. Tapi sebelum pulang, ia berdoa, “Yesus, kalau Engkau sudah menganggap saya cukup sampai di sini, biarkan saya kembali ke Jawa, tetapi jangan sampai saya tidak punya pekerjaan.”

Suatu malam pada Desember 2014, dokter Totot teringat, ia pernah dihubungi oleh Yayasan Atma Jaya Jakarta. Ingatan itu menuntun tangannya untuk mengirimkan surat elektronik ke Yayasan Atma Jaya. Tak disangka, pihak yayasan merespon cepat. Pagi hari kala sedang mengantar istri ke pasar, ia dihubungi Bruder Heribertus Sumarjo FIC dari Yayasan Atma Jaya. Singkat cerita, ia ditunjuk menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta.

Dokter Totot adalah alumni Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Ia pun bagai menapaki perjalanan kembali kepada “ibu” yang telah melahirkan dia. “Ini adalah panggilan dan perutusan dari Yesus,” ujarnya.

Terobosan baru
Dokter Totot mengakui, dalam konteks industri, Rumah Sakit Atma Jaya belum menjadi penantang pasar, apalagi menjadi market leader. Tetapi peluang itu terbuka lebar. Tak muluk-muluk amat, Dokter Totot menargetkan, lima tahun mendatang Rumah Sakit Atma Jaya bisa bersaing dengan rumah sakit lain di Jakarta. “Kita tetap menjadi rumah sakit pendidikan, tetapi dalam konteks pasar dan industri kita berani menantang rumah sakit lain.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*