Artikel Terbaru

BIA Tak Boleh Diabaikan

BIA Tak Boleh Diabaikan
1 (20%) 1 vote

Kondisi belum profesional ini tantangan tersendiri. Bayangkan, mereka tidak tahu apa-apa dan tidak disiapkan, tapi harus mengajarkan iman. Dibutuhkan sinergi antara para Pastor Paroki, dosen kateketik dan Komkat, sebagai animator, fasilitator, sekaligus moderator. Mereka harus bisa memberdayakan sumber daya yang ada.

Melihat situasi itu, terobosan apa yang dibuat Komkat KAJ?

Sekarang kita sedang menyiapkan modul katekese berjenjang untuk KAJ, mulai PAUD, BIA, BIR, OMK, keluarga (dewasa), hingga lansia. Semoga tahun ini selesai. Komkat KAJ juga bergiat mengadakan pelatihan bagi PIA, dengan program tutorial “Cath Class BIA”. Program ini ditawarkan ke Dekanat, meski ada juga paroki yang berinisiatif meminta pelatihan.

Selain itu, Komkat sering membuat seminar atau workshop untuk membekali para PIA, dan menyusun modul. Bahkan Komkat sedang membuat kaderisasi pelayan pastoral yang terdiri dari para katekis, pembina iman umat, dan petugas liturgi. Sudah dibuat modul tuntunan–termasukaudio visualnya–seperti model katekismus, empat seri, diberikan dalam 12 pertemuan tiap Sabtu selama enam jam, diikuti 95 orang secara konsisten se-KAJ di Pusat Pastoral Samadi, Klender, Jakarta Timur. Harapannya, para kader ini kelak bergerak di paroki maupun dekanat dengan militansi dan kreativitas. Rencananya, pasca program ini selesai, akan dibuka kelas bagi orang muda.

Apakah ada pesan-pesan untuk paroki di KAJ, Romo?

Contohlah Paroki St Yohanes Maria Vianney Cilangkap yang telah menyediakan model pembinaan iman anak dengan sistem kelas berjenjang. Ini bagus, karena sering di paroki-paroki, anak usia PAUD dan TK dicampur dengan anak SD. Padahal metode, materi dan sarananya berbeda untuk tiap jenjang. Pastor Paroki–katekisnya para katekis–mestinya menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) dan tim yang handal. Sudah sekitar 65 persen Pastor Paroki memperhatikan BIA. Tolong, yang 35 persen lagi mengejar. Anak-anak kita ini adalah ahli waris iman, tulang punggung Gereja. Jika pembinaan iman sejak dini kita buat asal-asalan, bagaimana nanti quality of faith mereka?

Kita harus optimis. Banyak paroki mulai terbuka memakai multimedia. Paroki hendaknya menghargai dan mendorong para volunteer yang sudah sukarela meluangkan waktu untuk pembinaan iman. Saya mendukung PIA untuk berkreasi, seperti menulis buku, membuat sarana peraga, film, animasi, dll. Wadah, sarana dan tempat untuk bina iman tolong disiapkan. Semua harus sinergis. Pewartaan yang bagus biayanya memang mahal; Cilangkap berani menyediakan satu miliar untuk itu.

R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*