Artikel Terbaru

M Antonius van Ooij SCJ: Misionaris Pertama Dehonian di India

M Antonius van Ooij SCJ: Misionaris Pertama Dehonian di India
1 (20%) 1 vote

Pembangunan seminari SCJ di India di mulai pada 1995–belum genap setahun Romo Ooij di India. Proses pembangunan pun berjalan lancar. Pada tahun itu pula, SCJ mulai menjaring para calon seminaris. Kegiatan perdana yang mereka buat di India adalah vocation camp. Syukur, banyak pemuda tertarik masuk seminari.

Tahun 2016, di lima lembaga pendidikan dan pembinaan calon Dehonian itu terdapat dua diakon, dua bruder, 54 frater, 16 postulan, 78 seminaris, dan 47 imam. Para imam SCJ itu terdiri dari 44 imam asal India, dan masing-masing seorang imam asal Inggris, Spanyol, dan Indonesia. Menyaksikan perkembangan panggilan di India, Romo Ooij selalu ingat pesan Pater Bressanelli kala itu.

Romo Ooij yakin, seluruh pencapaian yang diperoleh SCJ di India berkat karya Roh Kudus. “Jika hanya mengandalkan usaha manusia tak akan pernah berhasil,” kata imam yang pernah menerima penghargaan Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Kerajaan Belanda itu. Dalam masa pembinaan, Romo Ooij selalu berpesan agar seminaris punya semangat misioner, rasa cinta terhadap Ekaristi, dan Adorasi.

Kaki Tertembak
Romo Ooij menikmati masa senjanya di Paroki St Stefanus Cilandak, Keuskupan Agung Jakarta. Sebagai Pastor Rekan Paroki, ia masih giat melayani umat. Di sela-sela karyanya, anak ke lima dari 11 bersaudara ini rutin lari pagi di halaman Gereja St Stefanus. Kebiasaan ini ia mulai sejak empat tahun lalu. Kebiasaan berolahraga itulah yang membuat Romo Ooij terlihat bugar. Langkah kakinya mantap, suaranya pun menggelegar.

Sebenarnya, buah hati Henricus van Ooij dengan Anna Maria Bennenbroek ini sejak kecil sudah biasa berolahraga. Saban pagi, ia jalan kaki ke gereja. Setidaknya empat kilometer ia pulang-pergi dari gereja ke rumahnya. Ketika berkarya di Keuskupan Tanjung karang, Romo Ooij selalu blusukan ke desa-desa un tuk berbaur, bertemu, dan melayani umat.

Mungkin Romo Ooij tak bisa menjadi imam, jalan, blusukan, dan lari, seandainya dokter mengamputasi kaki kanannya ketika ia masih bocah. Alkisah, saat usia sembilan tahun, kakinya luka parah dan nyaris putus karena tertembak pesawat tempur Inggris dalam Perang Dunia II. Selain dirinya, dua adiknya juga meng alami nasib serupa.

Paling menyedihkan, ibu dan adik perempuannya yang masih berusia 11 bulan meninggal seketika setelah berondongan timah panas bersarang di tubuh dan kepala mereka. Jejak keganasan perang masih membekas di dinding rumah dan kaki Romo Ooij. Jangan bertanya seberapa getirnya akibat yang muncul dari peperangan. Sebab meski sudah puluhan tahun peristiwa itu berlalu, Romo Ooij tak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya hingga kini.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*